facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts

Ayo ke Paris!

13 Sya’ban 1433 H, 7.30 pm





Sebelumnya saya ingin mengucapkan merci beaucoup pada mbak Hanum Salsabiela Rais dan mas Rangga Almahendra yang telah ikhlas meluangkan waktunya untuk menulis novel yang keren ini dan membagikan pengetahuannya tentang Islam di langit Eropa. Terimakasih juga saya sampaikan pada Iva Firdayanti yang telah ikhlas meminjamkan novelnya pada saya (kunjungi
http://ivafirdayanti.blogspot.com/). Dan yang terpenting, Allah Swt. yang telah memberi saya kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan saya di hari libur ini dengan berbagai cara, salah satunya dengan membaca “99 Cahaya di Langit Eropa” ini.

Saya tersadar, bulan yang bersinar malam ini, adalah bulan yang sama yang menyinari daratan Eropa beratus-ratus tahun yang lalu. Bulan ini juga yang menjadi saksi bahawa Islam pernah berjaya di Eropa (maaf nyontek, mbak Hanum!). Betapa saya takjub membaca kisah-kisah mbak Hanum. Kisah-kisah yang telah membuat saya tercengang, menyadari betapa ilmu pengetahuan saya masih perlu ditambah lagi. Perlu sekali.


Musse de Lovre



Galeri di Museum Louvre
Kisah-kisah perjalanan spiritual ini juga yang telah menginspirasi saya untuk pergi ke Paris, Cordoba, Granada, Istanbul dan berbagai wilayah lain di Eropa. Saya ingin mengunjungi Museum Louvre, museum dengan koleksi terlengkap di dunia. Di sanalah Lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci disimpan. Saya ingin menaiki anak-anak tangga di sana, menelusuri lorong-lorong dan memasuki setiap gallery di sana. Saya ingin membaca huruf Kufic yang tertera di piring-piring kuno, memandangi Celestial Sphere-nya Yunus Ibn al Husayn al Asturlabi, dan membaca huruf Kufic lagi di lukisan Vierge a l’Enfant – The Virgin and the Child : Ugolino di Nerio 1315-1320 yang pada pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah (pede, emang bisa baca??).


Vierge a l’Enfant


Arc de Triomphe du I’Etoile
Seine River
Saya juga ingin berdiri di bawah menara Eiffel, Arc de Triomphe du Carrousel, Arc de Triomphe du I’Etoile (yang mirip Simpang Lima Gumul itu, lhooo..), dan monumen Obelisk Mesir. Saya juga ingin berada di jalur lurus Air Mancur Besar, monumen Obelisk Mesir, jalan Champs-Elysees, dan monumen Arch de Triomphe yang searah Mekkah. Berada di Jalur Kemenangan-nya Napoleon Bonaparte. Voie Triomphale. This is it Axe Historique. Tak lupa, saya juga ingin berjalan di sepanjang sunga Seine dan mengabadikan berbagai tempat-tempat wisata tadi serta Gereja Notre Dame yang gerbangnya berbentuk kubah lengkung : seperti masjid.


Axe Historique

Champs Elysees

Arc de Triomphe du Carrousel
Notre Dame

Roti Croissant
Kalo lagi di Austria, saya pengen makan roti Croissant yang terkenal itu. Roti yang berbentuk bulan sabit namun menyimpan cerita memilukan. Lalu pada senja hari, saya akan menaiki bus menuju Kahlenberg dan mengagumi keindahannya. Tak bisa dibayangkan.

Kahlenberg




Al-Hambra
Selain ke tempat-tempat wisata di Paris dan Austria, saya juga akan pergi ke the True City of Lights, Cordoba. Berkunjung ke Mezquita, Masjid Katedral. Dahulunya masjid, namun sekarang berubah menjadi katedral. Dan di sana saya mungkin juga akan merasakan hal yang sama dengan mbak Hanum. Seharusnya Mezquita dijadikan museum saja. Sedangkan di Granada, saya akan mengunjungi Al-Hambra. Di Granada lah dinasti Islam terakhir mencoba bertahan di Spanyol.

Mezquita

Ornamen dalam Mezquita

Blue Mosque dan Hagia Sophia
Semoga saja bukan yang terakhir, ke Istanbul, Turki. Berziarah ke masjid indah yang pernah saya lihat di televisi dan saya langsung jatuh cinta padanya, Blue Mosque. Di sana juga saya ingin menunaikan sholat. Dan di depan Blue Mosque, saya akan mampir ke Hagia Sophia.


Blue Mosque

Hagia Sophia


Hagia Sophia

Namun, “Danke” lah yang telah membuat saya menyadari juga dimana letak titik nol perjalanan-perjalanan ini. Membaca pengalaman mbak Hanum menunaikan ibadah rukun islam terakhir : Haji. Saya ingin, benar-benar ingin.... suatu hari... saya bisa ke sana, pergi bersama orang-orang yang saya cintai, bersujud bersama jutaan muslim lain, di sebuah tempat yang menjadi kiblat sholat seluruh umat muslim di dunia. Semoga saja.... Amiiinn....

Ka'bah, Mekkah
The last but not the least, novel ini juga telah meningkatkan rasa syukur saya kepada Allah. Betapa kita, para muslim telah dilahirkan dalam keadaan bebas, bebas dalam menjalankan ibadah kita. Jika kita ingat, bahwa dahulu dalam kurun 10 tahun setelah Granada takluk, Isabella dan Ferdinand memerintahkan pembaptisan massal kepada seluruh penduduk –warga Spanyol, baik Islam maupun Yahudi. Mereka juga memaksa setiap warga untuk berjualan babi dan mendemonstrasikan makan babi di depan mereka. Astaghfirullahal’adzim... Wahai kaum muslimin, tunjukkanlah rasa syukur kita terhadap nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita selama ini....

So, itulah mimpi-mimpi, cita-cita, dan catatan saya setelah membaca “99 Cahaya di Langit Eropa”. Novel yang fantastis!

Danke

aHaba
July 08, 2012 3 comments



Aurora is a phenomenon of light emmision flamming on the ionosfer. This phenomenon is formed because of heat from chunk of calestial body from the sun ejected by side of the earth pole. This aurora sprout making a beautiful and colorful three dimensional image in the sky and it can be seen just in the high latitude, Arctic and Antartic regions.
In northern latitudes, the effect is known as the Aurora Borealis or the northern lights, named after the roman goddes of dawn, Aurora, and the greek name for the north wind, Boreas. The array of colors in the Aurora Borealis consist of red, blue, violet and green. But red is the dominant color. Aurora Borealis happens between March-April and August-September-October. The northern light can be seen at around midnight. Aurora occur very high up in the atmosphere, but if there are clouds in the way we will not see anything.
While in the southern latitudes, the beautiful phenomenon is called Aurora Australis or the southern lights. This aurora occure in the Antartic skies in the winter and it can be seen in clear cold nights. The common colors of Aurora Australis are pale green and pink. The most comon shapes are spiral curtains, arcs or streamer. Actually, it has almost identical features to the Aurora Borealis but sometimes the Aurora Australis appears in the top mountain in tropical climate and is visible from high southern latitudes in Antartic, South America and Australia.
Instead all of this, there are also some mythologies about aurora. There are people call the northern ligths the “Dance of the Spirits”, it means, the lights were spirits or souls dancing in the sky. In Europe, in the middle ages, the auroras were commonly believed as a sign from God. And in ancient Roman mythology, aurora is the goddess of the dawn, renewing herself every morning to fly accross the sky, announcing the arrival of the Sun.


Although Aurora looks very elegant but during periods of high activity a single auroral storm can produce one trillion watts of electricity with a current of one million amps. It can also affects Earth’s communication. The activity phase of an auroral display will last on the order of 15-40 minutes and may recur in 2 to 3 hours.

May 15, 2012 No comments
        Tajamnya kerikil yang merata di jalanan tak mematahkan semangat para wanita di balik punggung Gunung Wilis ini untuk mewujudkan mimpi mereka. Mengisi hari hanya sebagai ibu rumah tangga atau dengan bekerja membantu suami di ladang yang sempit membuat kondisi ekonomi warga Dusun Dasun Desa Joho Kecamatan Semen Kabupaten Kediri ini tak menentu. Ujung-ujungnya, hutang adalah solusi. Kondisi itulah yang memunculkan inisiatif para kartini dari balik punggung Gunung Wilis untuk mengubah desanya, memunculkan suatu paguyuban yang dapat mengayomi seluruh warganya.
Bermula dari inisiatif ibu-ibu dari kelompok yang sudah ada sebelum didirikannya paguyuban, muncullah suatu media yang diharapkan dapat menampung aspirasi serta menyatukan mereka, Paguyuban Perempuan Sido Rukun. Melalui pendekatan secara pribadi serta sistem getok tular, Nurpiah, salah satu anggota paguyuban ini menuturkan bagaimana usahanya untuk menyampaikan informasi kegiatan sekaligus mengajak para warga bergabung ke dalam paguyuban ini. Nurpiah juga memanfaatkan kesempatan ketika para warga mengambil sembako di rumahnya untuk berdiskusi serta menyampaikan informasi kegiatan yang mungkin dapat dilakukan untuk meningkatkan perekonomian mereka. Hal inilah yang membuat paguyuban yang semula hanya beranggotakan 25 orang itu semakin berkembang dan menambah anggotanya menjadi 40 orang.
Keberhasilan yang mereka capai saat ini pun harus disyukuri. Pengadaan Taman Pendidikan Alquran (TPA) di Dasun sangat perlu dikembangkan. Melalui pendidikan religi ini, diharapkan generasi muda Dusun Dasun dapat memperoleh pengetahuan umum maupun agama sebagai bekal untuk membangun dusun mereka untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Selain di bidang religi, peningkatan ekonomi juga dilakukan dengan berdirinya Koperasi Simpan Pinjam Sido Makmur. Kehadiran koperasi ini sangat membantu para warga yang sedang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tingkat bunga yang rendah membuat para warga tak lagi ambil pusing untuk mencari tempat pinjaman uang serta menghindarkan diri mereka dari ancaman para lintah darat. Hal tersebut benar-benar menguntungkan bagi para warga yang semula hanya mengandalkan panen ini.
Usaha keripik pisang merupakan salah satu penerapan program UKM di Dusun Dasun. Selain dapat menambah pendapatan, proses pembuatan keripik pisang yang dilakukan bersama-sama dapat meningkatkan rasa kebersamaan di antara para ibu dusun ini. Tak hanya beredar di sekitar desa, produk yang mereka hasilkan kini telah merambah ke kota. Tak kalah dengan usaha keripik pisang, program UKM yang sukses dilaksanakan yakni ternak kambing. Dikelola secara langsung oleh para masyarakat, ternak kambing ini juga merupakan hal yang sangat efektif membantu peningkatan ekonomi para warga Dusun Dasun.
Keyakinan serta keinginan yang kuat dari para anggota Paguyuban Perempuan Sido Rukun ini membuat hambatan-hambatan yang menghadang jalan mereka dapat ditembus secara perlahan tapi pasti. Kekhawatiran yang pernah dirasakan oleh para aparat desa terhadap kegiatan yang mereka lakukan pun juga dapat diatasi dengan kejujuran dan prinsip yang mereka pegang teguh, yakni mereka merasa hal tersebut tidak mengganggu orang lain dan kegiatan yang mereka lakukan memang benar.
Kegiatan yang mereka lakukan menimbulkan berbagai pandangan dan respon dari warga masyarakat. Beberapa warga yang tidak mau bergabung karena takut kegiatan yang dilakukan akan gagal memang membuat para anggota paguyuban tidak nyaman. Namun para kartini ini mengatasinya dengan menyampaikan tujuan awal dari paguyuban tersebut. Sebaliknya, semangat akan muncul bagi warga yang mau bergabung dan percaya bahwa paguyuban ini akan sukses dan membawa perubahan bagi mereka. Dengan semangat yang mereka miliki, mereka berusaha untuk meningkatkan paguyuban ini lebih baik dari berbagai bidang.
Nurpiah berharap dengan didirikannya Paguyuban Perempuan Sido Rukun ini para warga dapat menambah pengetahuan, pengalaman serta meningkatkan ekonomi mereka. Sedangkan Sulastri, ketua Paguyuban Perempuan Sido Rukun berharap paguyuban yang mereka dirikan tidak akan mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya.
Para Kartini kini sudah kembali muncul, tak hanya berjuang meningkatkan pendidikan, tapi juga perekonomian dari seduah dusun kecil di balik punggung Gunung Wilis, Dasun. Mereka tak menyangka bahwa lulusan SD dapat melakukan hal sebesar ini. Diteguhkannya deklarasi oleh para pengurus paguyuban akan menguatkan semangat untuk membangun desa mereka menuju desa sejahtera, desa impian para warga.
April 29, 2012 No comments

Hati Tidak Memilih, Hatilah yang Dipilih


Judul                     : Perahu Kertas
Pengarang          : Dewi Lestari
Editor                    : Hermawan Aksan
Penerbit               : Truedee Pustaka Sejati
Tahun terbit         : Agustus 2009


Kugy adalah seorang cewek yang cantik, supel dan cerdas tapi sangat cuek dalam berpenampilan.  Ia mempunyai cita-cita yang bagi banyak orang profesi tersebut tidak dapat menjaminnya untuk sukses : penulis dongeng. Namun ia tak pernah patah semangat, hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta, sakit hati serta membuatnya berpikir untuk lebih realistis dan membuang mimpi besarnya. Keenan adalah seorang cowok yang cerdas dan memiliki bakat yang sangat tinggi dalam melukis. Satu-satu impiannya hanyalah menjadi seorang pelukis, sayangnya sang ayah sama sekali tidak mendukungnya dan memaksanya berkuliah di bidang manajemen untuk meneruskan bisnis ayahnya. Pertemuan kedua insan muda yang saling berlawanan penampilan namun sangat kompak dan selaras dalam berbagai hal ini membuat mereka saling jatuh cinta. Namun kisah cinta mereka harus terputus meski mereka berdua belum sempat menyatakan cintanya. Kugy terlanjur menilai buruk Keenan atas keputusasaan dan keputusannya. Hal tersebut membuat hidup Kugy dan Keenan berantakan. Mereka berdua akhirnya terpisah selama bertahun-tahun sambil membawa rasa cinta yang terus membayangi mereka berdua dalam menjalani realitas kehidupan. Tetapi hati tak pernah salah, ketika mereka bertemu saat sudah mempunyai kekasih masing-masing, semuanya berubah.
Gaya penceritaan yang luwes serta mudah dipahami membuat novel ini sangat menarik. Alur yang ditata dengan baik sukses mendorong para pembacanya untuk terus membaca hingga akhir. Penggambaran suasana hati para karakter mudah untuk dipahami serta diikuti, bahkan membuat para pembaca serasa terlibat dalam cerita dan meluapkan emosinya masing-masing. Berbagai nasihat yang terdapat dalam novel ini juga memberikan semangat para pembaca untuk terus berusaha mencapai mimpi-mimpinya.
Namun dalam novel ini ada beberapa istilah asing yang tidak terdapat penjelasan secara detail sehingga membingungkan para pembaca yang masih belum mengetahui makna istilah-istilah tersebut.
Novel keenam karya seorang penulis ternama bernama pena “Dee” ini memang layak untuk dibaca. Alur yang menarik serta penggambaran karakter serta watak yang jelas semakin membuat pembaca untuk terus membaca hingga akhir. Pesan-pesan serta nasihat bijak yang terdapat pada dialog memberi kita berbagai motivasi dan semangat untuk tetap menjadi diri sendiri, tidak putus asa, serta terus berusaha untuk mencapai semua mimpi-mimpi kita.
“Saya belajar dari kisah hidup seseorang. Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Jadi, kalau Keenan bilang, Keenan telah memilih saya, selamanya Keenan tidak akan pernah tulus mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh,”.



February 17, 2012 No comments

Bayangan Aditya kini jauh lebih panjang daripada tinggi tubuhnya. Bahkan sinar matahari berwarna oranye itu memperjelas bentuk bayangannya yang hitam. Namun ia tak ingin kehilangan suasana yang jarang bisa dinikmati di kotanya itu, yakni tatkala tak ada awan sedikit pun yang dapat menghalangi sang bintang terbesar untuk membagi hangatnya sinar-sinar terakhirnya yang tak lama lagi harus berpindah dari kota Aditya untuk menyemangati berjuta-juta makhluk di sisi lain bumi ini menyongsong hari baru.
Berminggu-minggu awan hitam selalu menutup kegiatan sehari-hari Aditya serta warga kota sekitarnya, dan Aditya merasa, sore yang indah dan langka itu akan membawa perubahan baru baginya. Perubahan yang ia harap bisa membuatnya ceria kembali setelah ia dan keluarganya berduka cita. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin seekor serangga hitam kecil bersayap bernama latin Aedes Aegypti itu bisa membuat si bungsu, Zahra, harus terkulai lemas di rumah sakit selama berhari-hari dan harus pergi meninggalkan Aditya dan keluarga yang mencintainya itu. Namun, tak seorang pun tahu bagaimana akhir hidup seseorang. Dan itulah kehendak Tuhan.
Gema azan tiba-tiba menyadarkan Aditya dari lamunannya. Ia bertekad untuk segera mengakhiri kesedihannya sendiri, dan membawa suasana hangat penuh keceriaan di tengah-tengah keluarganya kembali setelah sempat menghilang cukup lama. Segera ia menutup jendela kamarnya dan secara perlahan menuruni tangga, bergegas menuju masjid samping rumahnya.
Rumah Allah yang megah itu adalah salah satu tempat yang bisa membuatnya tenang. Disana, kerap kali ia mencurahkan segala masalahnya pada sang Khalik, dan ia selalu keluar dengan hati dan pikiran yang lebih baik. Benar-benar lebih baik dari sebelumnya.
Seusai salat maghrib, Aditya duduk bersila sambil menyandarkan bahunya pada dinding teras bagian selatan masjid. Hal itu benar-benar membuatnya nyaman. Sesosok pria berbaju koko merapikan kopiahnya sambil berjalan menghampiri Aditya. Ia kemudian duduk di sampingnya.
“Jangan sedih lagi, tak baik terlalu lama murung,” lelaki itu dengan penuh bijaksana memulai pembicaraannya. “Masih ada hari esok, dan kau tak bisa menyapanya dengan wajah murung setiap pagi, bukan?” sambung sang lelaki.
Aditya membalasnya dengan senyuman simpul.
“Kematian seseorang adalah rahasia Allah. Kita tak bisa menyangkal bahkan menolaknya,” nada pria itu tiba-tiba berubah, ada sesuatu yang berbeda, dan Aditya merasakan hal itu.
Lelaki itu kemudian berdiri, pergi meninggalkan Aditya menuju pondasi teras. Aditya memperhatikannya. Tak berapa lama, bapak yang penuh kesabaran itu kembali membawa sebuah polybag berisi suatu tumbuhan mungil. Tak tampak sama sekali buah tanaman itu, hanya daun-daun kecil yang bergoyang ketika pria itu membawanya dan kemudian menyerahkannya pada Aditya.
“Tolong jaga stroberi ini,” ujar sang lelaki.
Dengan penuh tanda tanya Aditya menerima tanaman itu.
“Tapi, kenapa…..” Aditya menjawab dengan ragu-ragu namun tak jadi meneruskan kalimatnya. Pria yang selama beberapa tahun ini tinggal di masjid, yang membuat rumah suci itu terpelihara dengan amat baik. Abdul Rosyid, itulah nama lengkapnya. Aditya sangat akrab dengannya. Dengan panggilan ‘paman’ ia menyapa lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayah keduanya serta sebagai guru terbaik yang pernah ditemuinya itu. Namun ia melihat ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran ustaznya itu lewat kedua matanya. Dan dengan segera, lelaki itu dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh Aditya.
“Aku akan mengatakan sesuatu padamu,” ungkap sang penjaga masjid itu sambil membetulkan posisi duduknya, “dan setelah ini kau harus lebih dewasa.”
Aditya tersentak, tak biasanya sang guru berkata seperti itu. Namun ia mulai menyimaknya dengan baik.
Pria itu mulai bercerita, “Dulu, sebelum aku datang ke kota ini, aku adalah pria yang bahagia bersama keluarganya. Aku, istriku, dan putri tunggalku. Kami tinggal di sebuah desa kecil yang tentram. Selama enam tahun kami hidup dengan rukun dan bahagia, namun ketika aku kehilangan pekerjaan, semuanya mulai berantakan. Kami tidak bisa mencukupi kebutuhan kami dengan maksimal. Ternyata istriku tidak bisa bertahan dengan kondisi itu dan akhirnya……. kami bercerai….,” dengan nada yang berat, pria itu mengungkapkannya pada Aditya.
“Putriku kini usianya pasti sudah hampir dua belas tahun,” sambungnya. “Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Dan sudah bertahun-tahun aku tidak berjumpa dengannya. Beberapa hari yang lalu aku mendapat surat darinya. Entah bagaimana mereka bisa menemukanku. Ia bilang, ia akan datang kemari setelah mengikuti ujian akhir sekolahnya.”
Hati Aditya bergetar. Ia mungkin tak tahu bagaimana perasaan ustaznya itu, namun ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai.
“Saat masih kecil, sering aku mengajaknya ke kebun stroberi dekat rumah. Ia sangat menyukai buah merah itu. Saat menerima surat itu, aku langsung menuju toko tanaman, membeli stroberi itu. Aku ingin merawatnya, dan aku ingin, buah pertamanya itu dapat dinikmati olehnya,” begitulah harapan sang ustaz.
“Sudah Paman balaskah surat itu?” tanya Aditya.
“Sayang sekali, ia tak menuliskan alamatnya dengan jelas,” sahut sang paman dengan sedih.
“Tolong rawat stroberi ini untuknya,” pinta lelaki bersarung itu sambil berdiri.
“Mmmm… tapi….,” Aditya ingin menjawab, namun pamannya dengan sigap memberi tanda untuk diam karena azan dari masjid lain telah berkumandang, dan pamannya yang juga muazin itu harus segera mengumandangkan azan, mengajak umat muslim sekitarnya untuk salat isya’ berjamaah, menunaikan kewajibannya.
Sebelum pergi meninggalkan Aditya yang masih terpaku, sang ustaz berkata, “Terima kasih, Aditya. Terima kasih atas segalanya”, ujar pria itu pada Aditya dengan lembut sambil tersenyum.
*********************
Jam beker Aditya berdering membangunkan pemiliknya. Derik jangkrik dengan sangat jelas masih terdengar, namun dengan tegas ia melawan kantuk yang mengajaknya kembali tidur. Ia terbangun, sorotan matanya tertuju pada tanaman stroberi yang diletakkannya di beranda jendela.
Stroberi, tanaman itu benar-benar ajaib baginya. Mengingatkannya pada berbagai peristiwa dan kenangan dalam hidupnya. Tanaman kerdil itu adalah tanaman yang sangat disukai oleh adiknya, Zahra. Berbagai pernak-pernik milik adiknya adalah stroberi. Buah yang disukainya pun juga stroberi. Apapun tentang stroberi dia suka. Seandainya Zahra masih ada, dengan senang hati ia akan memberikan tanaman itu pada adiknya. Ia yakin sang bungsu pecinta stroberi itu akan merawatnya lebih baik, lebih baik dari kakaknya. Namun Aditya berpikir, tak mungkin dengan mudah ia memberikan tanaman amanat itu pada adiknya. Stroberi itu adalah amanat baginya. Amanat dari sang paman, yang dua hari lalu berpulang ke rahmatullah. Tepat semalam setelah Aditya mendapatkan stroberi itu, pada pagi yang masih buta, guru terbaiknya itu menghembuskan nafas terakhir.
Tak seorangpun dari keluarga Pak Abdul Rosyid yang bisa dihubungi. Tak ada alamat pasti. Jenazahnya akhirnya dikuburkan di makam umum di kota itu.
Aditya benar-benar tak menyangka malam itu adalah malam terakhir ia bisa bertemu dengan sang paman. Ia kini harus menjaga amanat yang diberikan pamannya, melalui pohon mungil yang belum berbuah itu.
Setiap hari, ia selalu merawat tanaman stroberi itu dengan baik. Browsing di internet, membeli majalah tanaman, hingga datang ke ahli tanaman pun dilakukannya untuk mencari tahu mengenai cara yang baik merawat stroberi itu.
Usahanya tak sia-sia. Kini tanaman itu telah memunculkan sebuah benda mungil berwana putih kemerahan yang kelak akan memerah dan itulah buah pertamanya.
*********************
Beberapa hari kemudian buah itu semakin menampakkan dirinya. Aldo, adik pertama Aditya dengan sangat cermat memperhatikan buah itu. Buah merah itu berbentuk bulat agak lonjong dan bagian kulitnya ditutupi oleh beberapa biji berwarna putih.
Dengan penuh takjub, Aldo yang masih delapan tahun itu menjulurkan tangannya ke buah merah kecil itu. Jari-jarinya yang mungil meraba kulit yang kasar karena sebagian tertutupi oleh biji. Tak pernah ia melihat buah stroberi secara langsung sebelumnya. Dan kini, ia memiliki kesempatan untuk melihatnya secara langsung, tepat duapuluh senti di depan matanya. Dan ia juga mempunyai kesempatan yang sangat besar, yakni untuk memegang, memetik, dan memasukkan buah yang pastinya segar dan alami itu ke dalam mulutnya. Buah yang dirawat oleh kakaknya dengan susah payah.
Satu gerakan kecil lagi, buah stroberi yang merah merona itu akan putus dengan temannya, atau mungkin pacarnya, si tangkai, dan Aldo dengan wajah gembira akan dapat segera merasakan buah yang hanya bisa dilihatnya dari televisi atau gambar-gambar di buku itu. Namun sebelum semua itu terjadi, sang kakak, Aditya telah berhasil mengangkat pot stroberi itu dan menyingkirkan tangan Aldo.
Seketika Aldo terkejut, matanya melongo menatap wajah kakaknya yang terlihat tak bersahabat itu. Dia diam menatap kakaknya, kemudian dengan memasang wajah tanpa dosa ia tersenyum, meringis pada kakaknya.
Sang kakak, yang memiliki rasa sayang berlebih pada anak kecil itu rupanya, tak dapat menunjukkan ekspresi marahnya. Wajah kecil mungil penuh rasa aingin tahu itu telah membuat bisikan syaitan pada Aditya memudar, menghilang. Aditya hanya bisa diam, lalu tersenyum datar.
“Dasar anak kecil jail,” celetuk Aditya sambil menyelentikkan jarinya dengan sangat lembut pada telinga Aldo.
Karena merasa risih, Aldo tertawa, kemudian berlari meninggalkan kakaknya.
“Maaf, Kakak!” teriak Aldo sambil berlari keluar kamar. Hingga jauh, Aldo masih saja tertawa nakal. Kakaknya hanya bisa maklum. Namun tawa nakal adiknya itu membuatnya tersenyum juga.
*********************
Sering Aditya tersenyum apabila ia teringat akan kelakuan iseng adiknya tiga hari lalu, yang mencoba merengkuh buah merah yang masih segar kala itu. Namun kini, buah itu merubah warnanya yang semula dapat memikat siapapaun yang melihat untuk mencicipinya itu, menjadi merah tua pekat dan kulitnya pun mulai keriput. Tampaknya ia harus berdandan agar bisa menarik perhatian lagi. Namun apa yang bisa dilakukan oleh buah kecil itu, sang amanat dari seorang pengumandang azan pada seorang remaja lelaki berusia enam belas tahun.
Aditya berusaha sekuat tenaga menjaga amanat itu. Ia juga berharap keinginan terakhir pamannya itu dapat terlaksana, memberikan buah pertama tanaman berdaun lebar itu pada putri semata wayang pamannya.
Setiap pulang sekolah, Aditya selalu bergegas langsung menuju sang ibu, menanyakan adakah seseorang yang mencarinya. Namun jawaban yang sama dan mengecewakan Adityalah yang selalu diterima. Ia bahkan berpesan pada semua orang di sekitar tempat tinggalnya untuk memberitahu pada orang yang mencari ustaznya, Abdul Rosyid, untuk menuju rumahnya. Ada hal penting yang harus disampaikan. Namun tak seorang pun yang bertanya.
Sore itu, hari ketujuh sesudah kejadian Aldo. Buah itu benar-benar menunjukkan tanda sekaratnya. Dengan wajah pucat tanpa ekspresi, Aditya memperhatikan stroberi itu yang seolah-olah mengucapkan kata perpisahan pahit padanya. Mata Aldo memerah. Segera ia memasang matanya untuk melihat ke jalanan, menembus jendela kamarnya. Ia melirik ke ke kanan dan ke kiri, berharap seorang gasis kecil yang baru tamat Sekolah Dasar dari ujung jalan, turun dari kendaraan, atau dari arah masjid berjalan menuju pintu rumahnya, atau paling tdak berhenti di depan pagar rumahnya, mengatakan bahwa ialah yang ditunggunya selama ini, putri kecil sang penjaga masjid. Namun rupanya mimpi itu tak akan terwujud. Hingga bintang-bintang mulai menampakkkan sinarnya yang kerlap-kerlip menghiasi langit yang gelap, gadis yang ditunggu-tunggu belum juga menunjukkan tanda-tandanya untuk muncul. Dan esok ia benar-benar harus berpisah dari buah yang selama ini dijaganya itu.
*********************
Tanaman stroberi itu kini hanya terlihat tangkai dan daunnya saja. Sang puteri yang menghiasinya kini telah menghilang, setelah berhari-hari berjuang hidup hanya untuk bertemu seseorang yang selama ini dinanti oleh sang perawat, yakni seorang gadis kecil yang sebulan lalu mengirim surat pada sang ayah, berjanji akan datang setelah bertahun-tahun tak bertemu. Ia berjanji, sesaat setelah ujiannya selesai, ia akan datang menemui sang ayah, menatap wajahnya, menyentuhnya, memeluknya. Meski ujian telah selesai dua minggu yang lalu, tetapi ia tak kunjung datang. Kalaupun ia datang, ia harus menerima sesuatu yang pahit pada akhirnya.
Aditya berpikir, apakah gadis kecil itu sudah tahu akan hal menyakitkan yang akan diterimanya ketika ia menemui sang ayah, hingga ia membatalkan kunjungannya. Namun Aditya berjanji, ia akan merawat tanaman amanat itu dengan sepenuh hati, hingga menumbuhkan buahnya lagi, yang diharapkan dapat dinikmati oleh si gadis kecil. Entah kapan itu terjadi, tapi Aditya masih berharap, sang puteri kecil penjaga masjid akan datang dan menikmati buah stroberi itu.
Tiba-tiba semua pikiran Aditya itu terganggu oleh suara sang bunda, yang memanggil namanya sambil membuka pintu kamar Aditya, mengatakan ada seorang tamu yang mencarinya. Dengan terpaksa, ia meninggalkan harapannya itu. Harapan yang berhasil dipertahankannya selama beminggu-minggu dan ia bertekad akan terus mempertahankannya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang tamu. Seseorang telah menantinya.
January 16, 2012 No comments
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates