facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts


Hati Tidak Memilih, Hatilah yang Dipilih


Judul                     : Perahu Kertas
Pengarang          : Dewi Lestari
Editor                    : Hermawan Aksan
Penerbit               : Truedee Pustaka Sejati
Tahun terbit         : Agustus 2009


Kugy adalah seorang cewek yang cantik, supel dan cerdas tapi sangat cuek dalam berpenampilan.  Ia mempunyai cita-cita yang bagi banyak orang profesi tersebut tidak dapat menjaminnya untuk sukses : penulis dongeng. Namun ia tak pernah patah semangat, hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta, sakit hati serta membuatnya berpikir untuk lebih realistis dan membuang mimpi besarnya. Keenan adalah seorang cowok yang cerdas dan memiliki bakat yang sangat tinggi dalam melukis. Satu-satu impiannya hanyalah menjadi seorang pelukis, sayangnya sang ayah sama sekali tidak mendukungnya dan memaksanya berkuliah di bidang manajemen untuk meneruskan bisnis ayahnya. Pertemuan kedua insan muda yang saling berlawanan penampilan namun sangat kompak dan selaras dalam berbagai hal ini membuat mereka saling jatuh cinta. Namun kisah cinta mereka harus terputus meski mereka berdua belum sempat menyatakan cintanya. Kugy terlanjur menilai buruk Keenan atas keputusasaan dan keputusannya. Hal tersebut membuat hidup Kugy dan Keenan berantakan. Mereka berdua akhirnya terpisah selama bertahun-tahun sambil membawa rasa cinta yang terus membayangi mereka berdua dalam menjalani realitas kehidupan. Tetapi hati tak pernah salah, ketika mereka bertemu saat sudah mempunyai kekasih masing-masing, semuanya berubah.
Gaya penceritaan yang luwes serta mudah dipahami membuat novel ini sangat menarik. Alur yang ditata dengan baik sukses mendorong para pembacanya untuk terus membaca hingga akhir. Penggambaran suasana hati para karakter mudah untuk dipahami serta diikuti, bahkan membuat para pembaca serasa terlibat dalam cerita dan meluapkan emosinya masing-masing. Berbagai nasihat yang terdapat dalam novel ini juga memberikan semangat para pembaca untuk terus berusaha mencapai mimpi-mimpinya.
Namun dalam novel ini ada beberapa istilah asing yang tidak terdapat penjelasan secara detail sehingga membingungkan para pembaca yang masih belum mengetahui makna istilah-istilah tersebut.
Novel keenam karya seorang penulis ternama bernama pena “Dee” ini memang layak untuk dibaca. Alur yang menarik serta penggambaran karakter serta watak yang jelas semakin membuat pembaca untuk terus membaca hingga akhir. Pesan-pesan serta nasihat bijak yang terdapat pada dialog memberi kita berbagai motivasi dan semangat untuk tetap menjadi diri sendiri, tidak putus asa, serta terus berusaha untuk mencapai semua mimpi-mimpi kita.
“Saya belajar dari kisah hidup seseorang. Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Jadi, kalau Keenan bilang, Keenan telah memilih saya, selamanya Keenan tidak akan pernah tulus mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh,”.



February 17, 2012 No comments
Menyadari bahwa harta yang diberikan oleh Allah kepadanya begitu melimpah, maka pada suatu hari nabi Sulaiman memberanikan diri memohon izin kepada Allah, “Ya Allah. izinkanlah kiranya hambaMu ini memberi makan seluruh makhlukMu di bumi ini selama setahun,” begitu pinta nabi Sulaiman.
“Kau tidak akan mampu, Sulaiman,” jawab Allah.
“Kalau begitu, satu bulan saja, ya Allah,” desak nabi Sulaiman.
“Kau juga tidak akan mampu,” tegas Allah.
“Kalau begitu sehari saja, ya Allah,” desaknya lagi
“Kau tetap tidak akan mampu,” jawab Allah.
“Aku ingin mencobanya, aku memohon untuk dizinkan,” pinta nabi Sulaiman pula
“Silakan kalau ingin mencoba,” begitu jawab Allah.
Segera saja nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh jin dan manusia untuk mendatangkan bahan-bahan makanan dari berbagai jenis dan lauk pauknya, baik berupa sapi atau kambing dan seluruh hewan yang halal. Maka periuk-periuk besar segera dipancangkan lengkap dengan anak tangga untuk menuangkan bahan makanan dan lauk pauk yang akan dimasak. Ketika itu seluruh jin dan manusia sibuk untuk mempersiapkan hidangan yang dihamparkan di atas padang pasir. Beliaupun menyuruh angin untuk bertiup seperlunya agar makanan tidak basi. Setelah keseluruhannya dirasakan siap, ketika itu Allah lalu bertanya, “Siapakah yang kau kehendaki untuk menyantap lebih dahulu, Sulaiman?”
“Kiranya akan lebih baik jika aku mulai dari seluruh hewan samudra ya Allah?” jawab nabi Sulaiman.
Ketika itulah, Allah menyuruh seekor hewan besar dari samudra untuk melahap hidangan yang telah dipersiapkan nabi Sulaiman. Hewan itu pun berangkat ke tempat hidangan tadi seraya bertanya pada nabi Sulaiman, “Aku dengar baginda yang akan menanggung rezeki saya hari ini, wahai Nabiyullah?”
“Benar, benar sekali, makanlah sekarang sepuasmu,” jawab Nabi Sulaiman.
Maka, segera saja hewan itu melahap makanan yang tersedia dan malah berteriak, “Wahai nabi Sulaiman, aku belum kenyang, baru sepertiga dari porsiku sehari-hari.”
Nabi Sulaiman pun marah, “Kau telah menghabiskan semuanya, betapa rakus sikapmu itu,” begitu gertak nabi Sulaiman.
“Inikah jawaban seorang penjamu terhadap tamunya, padahal engkaulah yang menyebabkan porsiku menurun drastis di hari ini, engkau telah ceroboh, wahai Nabiyullah Sulaiman,” begitu hewan itu balik menyalahkan.
Melihat dengan mata kepala sendiri mengenai kenyataan ini, nabi Sulaiman pun segera bertekuk lutut dan bersujud panjang memuji kebesaran Allah. Kemudian, tanggung jawab memberi makan itu langsung dikembalikan pada Allah sebelum makhluk yang lain mendemo besar-besaran mengadukan kelaparannya.
Burung Hud-hud melihat peristiwa itu, dia tersenyum simpul dan mencari akal untuk bercengkerama dengan nabi Sulaiman. Maka, pada suatu hari dia menghadap Sulaiman. “Sekarang aku ingin mempersiapkan hidangan daging untuk baginda,” begitu burung Hud-hud menawarkan jasanya.
“Maksudmu itu khusus bagi saya sendiri atau bagaimana?” Tanya Baginda memperjelas.
“Bukan untuk Baginda saja, bahkan seluruh prajurit baginda, aku siap memberi makan,” jawab Hud-hud berlagak tegas.
Setelah sampai hari yang dijanjikan, Nabi Sulaiman dan seluruh prajurit pun berangkat mendatangi jamuan Hud-hud pada suatu tempat yang telah ditentukan. Maka, ketika mereka sudah berdatangan, Hud-hud segera menyambar belalang, lalu mencekiknya sampai mati, kemudian dilemparkan di pinggir lautan seraya berkata, “Wahai Nabiyullah Sulaiman, segeralah Baginda maju menyantap daging itu bersama para prajurit Baginda, namun bagi siapa saja yang tidak mendapat bagian dagingnya, saya mohon dengan hormat agar mereka menikmati kuahnya,” begitu Hud-hud mengatakan sambil berlalu pergi.
Mengetahui akal-akalan Hud-hud ini, nabi Sulaiman tidak bisa menahan tawanya hingga beliau tertawa sendiri di saat teringat ulah Hud-hud ini.
(diambil dari : Kisah Kezuhudan Manusia Sepanjang Zaman)
Majalah MPA 284 / Mei 2010

February 04, 2012 No comments

Pendiri Filsafat Muslim

Nama lengkap beliau adalah Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak al-Kindi. Namun masyarakat Barat sering menyebutnya “al-Kindus”. Beliau dilahirkan di tanah Arab Selatan pada tahun 809 M, dari kalangan keluarga kaya dan terhormat.

Setelah meyelesaikan pendidikan dasarnya, al-Kindi pindah ke Basrah (Irak) untuk menambah pengetahuannya di berbagai bidang Setelah itu, ia pindah ke Baghdad untuk melanjutkan kuliah. Beliau dikenal sebagai seorang filosof yang mahir kimia dan matematika. Dalam sejumlah karyanya, ia sering membahas masalah logika dan matematika, juga sering mengulas buku-buku yunani seperti karya Aristoteles.

Dalam catatan biografinya -al-Muntakhab- dijelaskan bahwa al-Kindi adalah muslim pertama yang terkenal dan intens menekuni filsafat. Sejumlah tulisan berupa terjemahan maupun koreksi terhadap hasil karyanya sendiri merupakan sumbangsihnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Beliau tokoh yang sangat produktif mengusung masalah metafisika, psikologi, etika, dan metode pendekatan secara logika dan ilmiah kepada masyarakat muslim Arab. Oleh karenanya, para ilomuwan Arab menganggapnya sebagai peletak dasar dan pendiri filsafat dalam dunia muslim Arab. Selain itu, beliau seorang pemikir yang cerdas dan bijak. Karya-karyanya yang luar biasa membuat namanya berada dalam posisi tertinggi di bidang ilmu pengetahuan.

Dengan kecerdasan dan keahlian yang dimilikinya, al-Kindi juga menulis buku tentang kriptologi atau seni memecahkan kode. Salah satu bukunya yang berjudul Risalah fi Istikhraj al-Mu;amma atau Manuscript for The Deciphering Cryptographic Messages itu berisi beberapa cara menguraikan kode. Dalam buku itu dijelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Lewat buku tersebut beliau memperkenalkan penggunaan kode statistika untuk memecahkan kode rahasia. Pengalamannya bekerja sebagai penerjemah sandi rahasia dan pesan tersembunyi yang terdapat dalam naskah asli Yunani dan Romawi telah mempertajam nalurinya di bidang kriptoanalisa. Awalnya, buku tersebut merupakan sebuah makalah yang kemudian hari dibawa ke Eropa untuk diterjemahkan dan diterbitkan dalam bentuk buku. Tidak hanya menguasai ilmu kriptografi, al-Kindi juga pakar di bidang matematika dengan menghasilkan beberapa buku tentang sistem penomoran, yang akhirnya menjadi dasar matematika modern. Selain tiu, ia telah meberikan kontribusi besar di bidang geometri bola, suatu bidang yang sangat mendukung dalam bidang astronomi. Bersama al-Khawarizmi dan Banu Musa bersaudara, mereka diberi tugas mnerjemahkan karya-karya filosof Yunani dalam bahsa Arab oleh Khalifah al-Makmun.

Al-Kindi sangat mengagumi pemikiran para filosof Yunani-Romawi. Ia sangat terilhami oleh dua filosof  besar Yunani: Socrates dan Aristoteles. Kedua tokoh tersebut sangat berpengaruh dalam beberapa karyanya.

(Dikisahkan kembali oleh Joko Rabsodi, MPA Februari 2011)
January 25, 2012 No comments

Bayangan Aditya kini jauh lebih panjang daripada tinggi tubuhnya. Bahkan sinar matahari berwarna oranye itu memperjelas bentuk bayangannya yang hitam. Namun ia tak ingin kehilangan suasana yang jarang bisa dinikmati di kotanya itu, yakni tatkala tak ada awan sedikit pun yang dapat menghalangi sang bintang terbesar untuk membagi hangatnya sinar-sinar terakhirnya yang tak lama lagi harus berpindah dari kota Aditya untuk menyemangati berjuta-juta makhluk di sisi lain bumi ini menyongsong hari baru.
Berminggu-minggu awan hitam selalu menutup kegiatan sehari-hari Aditya serta warga kota sekitarnya, dan Aditya merasa, sore yang indah dan langka itu akan membawa perubahan baru baginya. Perubahan yang ia harap bisa membuatnya ceria kembali setelah ia dan keluarganya berduka cita. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin seekor serangga hitam kecil bersayap bernama latin Aedes Aegypti itu bisa membuat si bungsu, Zahra, harus terkulai lemas di rumah sakit selama berhari-hari dan harus pergi meninggalkan Aditya dan keluarga yang mencintainya itu. Namun, tak seorang pun tahu bagaimana akhir hidup seseorang. Dan itulah kehendak Tuhan.
Gema azan tiba-tiba menyadarkan Aditya dari lamunannya. Ia bertekad untuk segera mengakhiri kesedihannya sendiri, dan membawa suasana hangat penuh keceriaan di tengah-tengah keluarganya kembali setelah sempat menghilang cukup lama. Segera ia menutup jendela kamarnya dan secara perlahan menuruni tangga, bergegas menuju masjid samping rumahnya.
Rumah Allah yang megah itu adalah salah satu tempat yang bisa membuatnya tenang. Disana, kerap kali ia mencurahkan segala masalahnya pada sang Khalik, dan ia selalu keluar dengan hati dan pikiran yang lebih baik. Benar-benar lebih baik dari sebelumnya.
Seusai salat maghrib, Aditya duduk bersila sambil menyandarkan bahunya pada dinding teras bagian selatan masjid. Hal itu benar-benar membuatnya nyaman. Sesosok pria berbaju koko merapikan kopiahnya sambil berjalan menghampiri Aditya. Ia kemudian duduk di sampingnya.
“Jangan sedih lagi, tak baik terlalu lama murung,” lelaki itu dengan penuh bijaksana memulai pembicaraannya. “Masih ada hari esok, dan kau tak bisa menyapanya dengan wajah murung setiap pagi, bukan?” sambung sang lelaki.
Aditya membalasnya dengan senyuman simpul.
“Kematian seseorang adalah rahasia Allah. Kita tak bisa menyangkal bahkan menolaknya,” nada pria itu tiba-tiba berubah, ada sesuatu yang berbeda, dan Aditya merasakan hal itu.
Lelaki itu kemudian berdiri, pergi meninggalkan Aditya menuju pondasi teras. Aditya memperhatikannya. Tak berapa lama, bapak yang penuh kesabaran itu kembali membawa sebuah polybag berisi suatu tumbuhan mungil. Tak tampak sama sekali buah tanaman itu, hanya daun-daun kecil yang bergoyang ketika pria itu membawanya dan kemudian menyerahkannya pada Aditya.
“Tolong jaga stroberi ini,” ujar sang lelaki.
Dengan penuh tanda tanya Aditya menerima tanaman itu.
“Tapi, kenapa…..” Aditya menjawab dengan ragu-ragu namun tak jadi meneruskan kalimatnya. Pria yang selama beberapa tahun ini tinggal di masjid, yang membuat rumah suci itu terpelihara dengan amat baik. Abdul Rosyid, itulah nama lengkapnya. Aditya sangat akrab dengannya. Dengan panggilan ‘paman’ ia menyapa lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayah keduanya serta sebagai guru terbaik yang pernah ditemuinya itu. Namun ia melihat ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran ustaznya itu lewat kedua matanya. Dan dengan segera, lelaki itu dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh Aditya.
“Aku akan mengatakan sesuatu padamu,” ungkap sang penjaga masjid itu sambil membetulkan posisi duduknya, “dan setelah ini kau harus lebih dewasa.”
Aditya tersentak, tak biasanya sang guru berkata seperti itu. Namun ia mulai menyimaknya dengan baik.
Pria itu mulai bercerita, “Dulu, sebelum aku datang ke kota ini, aku adalah pria yang bahagia bersama keluarganya. Aku, istriku, dan putri tunggalku. Kami tinggal di sebuah desa kecil yang tentram. Selama enam tahun kami hidup dengan rukun dan bahagia, namun ketika aku kehilangan pekerjaan, semuanya mulai berantakan. Kami tidak bisa mencukupi kebutuhan kami dengan maksimal. Ternyata istriku tidak bisa bertahan dengan kondisi itu dan akhirnya……. kami bercerai….,” dengan nada yang berat, pria itu mengungkapkannya pada Aditya.
“Putriku kini usianya pasti sudah hampir dua belas tahun,” sambungnya. “Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Dan sudah bertahun-tahun aku tidak berjumpa dengannya. Beberapa hari yang lalu aku mendapat surat darinya. Entah bagaimana mereka bisa menemukanku. Ia bilang, ia akan datang kemari setelah mengikuti ujian akhir sekolahnya.”
Hati Aditya bergetar. Ia mungkin tak tahu bagaimana perasaan ustaznya itu, namun ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai.
“Saat masih kecil, sering aku mengajaknya ke kebun stroberi dekat rumah. Ia sangat menyukai buah merah itu. Saat menerima surat itu, aku langsung menuju toko tanaman, membeli stroberi itu. Aku ingin merawatnya, dan aku ingin, buah pertamanya itu dapat dinikmati olehnya,” begitulah harapan sang ustaz.
“Sudah Paman balaskah surat itu?” tanya Aditya.
“Sayang sekali, ia tak menuliskan alamatnya dengan jelas,” sahut sang paman dengan sedih.
“Tolong rawat stroberi ini untuknya,” pinta lelaki bersarung itu sambil berdiri.
“Mmmm… tapi….,” Aditya ingin menjawab, namun pamannya dengan sigap memberi tanda untuk diam karena azan dari masjid lain telah berkumandang, dan pamannya yang juga muazin itu harus segera mengumandangkan azan, mengajak umat muslim sekitarnya untuk salat isya’ berjamaah, menunaikan kewajibannya.
Sebelum pergi meninggalkan Aditya yang masih terpaku, sang ustaz berkata, “Terima kasih, Aditya. Terima kasih atas segalanya”, ujar pria itu pada Aditya dengan lembut sambil tersenyum.
*********************
Jam beker Aditya berdering membangunkan pemiliknya. Derik jangkrik dengan sangat jelas masih terdengar, namun dengan tegas ia melawan kantuk yang mengajaknya kembali tidur. Ia terbangun, sorotan matanya tertuju pada tanaman stroberi yang diletakkannya di beranda jendela.
Stroberi, tanaman itu benar-benar ajaib baginya. Mengingatkannya pada berbagai peristiwa dan kenangan dalam hidupnya. Tanaman kerdil itu adalah tanaman yang sangat disukai oleh adiknya, Zahra. Berbagai pernak-pernik milik adiknya adalah stroberi. Buah yang disukainya pun juga stroberi. Apapun tentang stroberi dia suka. Seandainya Zahra masih ada, dengan senang hati ia akan memberikan tanaman itu pada adiknya. Ia yakin sang bungsu pecinta stroberi itu akan merawatnya lebih baik, lebih baik dari kakaknya. Namun Aditya berpikir, tak mungkin dengan mudah ia memberikan tanaman amanat itu pada adiknya. Stroberi itu adalah amanat baginya. Amanat dari sang paman, yang dua hari lalu berpulang ke rahmatullah. Tepat semalam setelah Aditya mendapatkan stroberi itu, pada pagi yang masih buta, guru terbaiknya itu menghembuskan nafas terakhir.
Tak seorangpun dari keluarga Pak Abdul Rosyid yang bisa dihubungi. Tak ada alamat pasti. Jenazahnya akhirnya dikuburkan di makam umum di kota itu.
Aditya benar-benar tak menyangka malam itu adalah malam terakhir ia bisa bertemu dengan sang paman. Ia kini harus menjaga amanat yang diberikan pamannya, melalui pohon mungil yang belum berbuah itu.
Setiap hari, ia selalu merawat tanaman stroberi itu dengan baik. Browsing di internet, membeli majalah tanaman, hingga datang ke ahli tanaman pun dilakukannya untuk mencari tahu mengenai cara yang baik merawat stroberi itu.
Usahanya tak sia-sia. Kini tanaman itu telah memunculkan sebuah benda mungil berwana putih kemerahan yang kelak akan memerah dan itulah buah pertamanya.
*********************
Beberapa hari kemudian buah itu semakin menampakkan dirinya. Aldo, adik pertama Aditya dengan sangat cermat memperhatikan buah itu. Buah merah itu berbentuk bulat agak lonjong dan bagian kulitnya ditutupi oleh beberapa biji berwarna putih.
Dengan penuh takjub, Aldo yang masih delapan tahun itu menjulurkan tangannya ke buah merah kecil itu. Jari-jarinya yang mungil meraba kulit yang kasar karena sebagian tertutupi oleh biji. Tak pernah ia melihat buah stroberi secara langsung sebelumnya. Dan kini, ia memiliki kesempatan untuk melihatnya secara langsung, tepat duapuluh senti di depan matanya. Dan ia juga mempunyai kesempatan yang sangat besar, yakni untuk memegang, memetik, dan memasukkan buah yang pastinya segar dan alami itu ke dalam mulutnya. Buah yang dirawat oleh kakaknya dengan susah payah.
Satu gerakan kecil lagi, buah stroberi yang merah merona itu akan putus dengan temannya, atau mungkin pacarnya, si tangkai, dan Aldo dengan wajah gembira akan dapat segera merasakan buah yang hanya bisa dilihatnya dari televisi atau gambar-gambar di buku itu. Namun sebelum semua itu terjadi, sang kakak, Aditya telah berhasil mengangkat pot stroberi itu dan menyingkirkan tangan Aldo.
Seketika Aldo terkejut, matanya melongo menatap wajah kakaknya yang terlihat tak bersahabat itu. Dia diam menatap kakaknya, kemudian dengan memasang wajah tanpa dosa ia tersenyum, meringis pada kakaknya.
Sang kakak, yang memiliki rasa sayang berlebih pada anak kecil itu rupanya, tak dapat menunjukkan ekspresi marahnya. Wajah kecil mungil penuh rasa aingin tahu itu telah membuat bisikan syaitan pada Aditya memudar, menghilang. Aditya hanya bisa diam, lalu tersenyum datar.
“Dasar anak kecil jail,” celetuk Aditya sambil menyelentikkan jarinya dengan sangat lembut pada telinga Aldo.
Karena merasa risih, Aldo tertawa, kemudian berlari meninggalkan kakaknya.
“Maaf, Kakak!” teriak Aldo sambil berlari keluar kamar. Hingga jauh, Aldo masih saja tertawa nakal. Kakaknya hanya bisa maklum. Namun tawa nakal adiknya itu membuatnya tersenyum juga.
*********************
Sering Aditya tersenyum apabila ia teringat akan kelakuan iseng adiknya tiga hari lalu, yang mencoba merengkuh buah merah yang masih segar kala itu. Namun kini, buah itu merubah warnanya yang semula dapat memikat siapapaun yang melihat untuk mencicipinya itu, menjadi merah tua pekat dan kulitnya pun mulai keriput. Tampaknya ia harus berdandan agar bisa menarik perhatian lagi. Namun apa yang bisa dilakukan oleh buah kecil itu, sang amanat dari seorang pengumandang azan pada seorang remaja lelaki berusia enam belas tahun.
Aditya berusaha sekuat tenaga menjaga amanat itu. Ia juga berharap keinginan terakhir pamannya itu dapat terlaksana, memberikan buah pertama tanaman berdaun lebar itu pada putri semata wayang pamannya.
Setiap pulang sekolah, Aditya selalu bergegas langsung menuju sang ibu, menanyakan adakah seseorang yang mencarinya. Namun jawaban yang sama dan mengecewakan Adityalah yang selalu diterima. Ia bahkan berpesan pada semua orang di sekitar tempat tinggalnya untuk memberitahu pada orang yang mencari ustaznya, Abdul Rosyid, untuk menuju rumahnya. Ada hal penting yang harus disampaikan. Namun tak seorang pun yang bertanya.
Sore itu, hari ketujuh sesudah kejadian Aldo. Buah itu benar-benar menunjukkan tanda sekaratnya. Dengan wajah pucat tanpa ekspresi, Aditya memperhatikan stroberi itu yang seolah-olah mengucapkan kata perpisahan pahit padanya. Mata Aldo memerah. Segera ia memasang matanya untuk melihat ke jalanan, menembus jendela kamarnya. Ia melirik ke ke kanan dan ke kiri, berharap seorang gasis kecil yang baru tamat Sekolah Dasar dari ujung jalan, turun dari kendaraan, atau dari arah masjid berjalan menuju pintu rumahnya, atau paling tdak berhenti di depan pagar rumahnya, mengatakan bahwa ialah yang ditunggunya selama ini, putri kecil sang penjaga masjid. Namun rupanya mimpi itu tak akan terwujud. Hingga bintang-bintang mulai menampakkkan sinarnya yang kerlap-kerlip menghiasi langit yang gelap, gadis yang ditunggu-tunggu belum juga menunjukkan tanda-tandanya untuk muncul. Dan esok ia benar-benar harus berpisah dari buah yang selama ini dijaganya itu.
*********************
Tanaman stroberi itu kini hanya terlihat tangkai dan daunnya saja. Sang puteri yang menghiasinya kini telah menghilang, setelah berhari-hari berjuang hidup hanya untuk bertemu seseorang yang selama ini dinanti oleh sang perawat, yakni seorang gadis kecil yang sebulan lalu mengirim surat pada sang ayah, berjanji akan datang setelah bertahun-tahun tak bertemu. Ia berjanji, sesaat setelah ujiannya selesai, ia akan datang menemui sang ayah, menatap wajahnya, menyentuhnya, memeluknya. Meski ujian telah selesai dua minggu yang lalu, tetapi ia tak kunjung datang. Kalaupun ia datang, ia harus menerima sesuatu yang pahit pada akhirnya.
Aditya berpikir, apakah gadis kecil itu sudah tahu akan hal menyakitkan yang akan diterimanya ketika ia menemui sang ayah, hingga ia membatalkan kunjungannya. Namun Aditya berjanji, ia akan merawat tanaman amanat itu dengan sepenuh hati, hingga menumbuhkan buahnya lagi, yang diharapkan dapat dinikmati oleh si gadis kecil. Entah kapan itu terjadi, tapi Aditya masih berharap, sang puteri kecil penjaga masjid akan datang dan menikmati buah stroberi itu.
Tiba-tiba semua pikiran Aditya itu terganggu oleh suara sang bunda, yang memanggil namanya sambil membuka pintu kamar Aditya, mengatakan ada seorang tamu yang mencarinya. Dengan terpaksa, ia meninggalkan harapannya itu. Harapan yang berhasil dipertahankannya selama beminggu-minggu dan ia bertekad akan terus mempertahankannya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang tamu. Seseorang telah menantinya.
January 16, 2012 No comments
BUTTERFLY

A man found a cocoon of a butterfly. One day a small opening appeared. He sat and watched the butterfly for several hours as it struggled to force its body through that little hole. Then it seemed to stop making any progress.
It appeared as if it had gotten as far as it could, and it could go no further. So the man decided to help the butterfly. He took a pair of scissors and snipped off the remaining bit of the cocoon.
The butterfly then emerged easily. But it had a swollen body and small, shriveled wings.
The man continued to watch the butterfly because the expected that, at any moment, the wings would enlarge and expand to be able to support the body, which would contract in time.
Neither happen! In fact, the butterfly spent the rest of its life crawling around with a swollen body and shriveled wings. It never was able to fly.
What the man, in his kindness and haste, did not understand was that the restricting cocoon and the struggle required for the butterfly to get through the tiny opening were Allah’s way of forcing fluid from the body of the butterfly into its wing so that it would be ready flight once it achieved its freedom from the cocoon.
Sometimes struggles are exactly what we need in our lives without any obstacles it would not be as strong as what we could have been. We could never “fly”!
June 09, 2011 No comments

AL-IDRISI
Pencipta Bola Dunia

Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Muhammad Ibn Abdullah bin idris asy-Syarif, namun lebih akrab dipanggil Al-Idrisi. Beliau lahir di kota Ceuta, Spanyol pada tahun 1100 M (493 H). Beliau meninggal dunia dalam usia ± 65 tahun, yakni pada tahun 1165 di Spanyol. Al-Idrisi memang dikenal masyarakat barat sebagai seorang ahli geografi yang menciptakan peta dalam versi baru. Selain daripada itu, ia dikenal mahir mengukur garis bujur dan garis lintang dengan hanya menggunakan papan gambar semacam peta dunia yang disebut Lauhul tarsim. Selanjutnya, dia dianggap ahli geografi paling popular abad pertengahan. Selama tiga abad, nama beliau sangat dikenal hingga ke Eropa.

Al-Idrisi menempuh pendidikannya di kota Kordoba. Seperti ahli geografi lainnya, beliau sering bepergian ke sejumlah tempat seperti ke Asia dan Afrika untuk mengumpulkan data-data geografis. Sebenarnya pada saat itu sudah ada para ahli geografi muslim yang telah mampu menentukan ukuran permukaan bumi secara akurat. Tetapi ketika mereka membuat peta dunia tidak ada yang seperfect karya Al-Idrisi. Beliau mengkombinasikan semua data dan hasil penelitiannya selama bertahun-tahun itu untuk membuat sebuah karya yang menyajikan data paling lengkap dari setiap wilayah di dunia. Tidak heran, pada masa itu beberapa ahli navigasi dan pihak militer mengajaknya guna bekerja sama dengan mereka.

Tidak berhenti di sana saja, kemasyhuran dan keahlian beliau di bidang geografi akhirnya diketahui Raja Roger II dari Sicilia (1129-1140). Raja itu mengajukan sebuah penawaran berharga pada beliau untuk membuat sebuah peta dunia yang baru dan unik. Raja Roger II bersedia memberikan dana dan memfasilitasinya sesuai kebutuhan. Setelah dipikirkan cukup lam, akhirnya beliau menyanggupi penawaran itu dengan satu syarat. Ia ingin memasukkan data wilayah Sicilia, yang sebelum dikuasai Raja Roger adalah kekuasaan kaum muslim.

Beliau berhasil membuat peta pesanan Raja Sicilia itu dalam bentuk Bola Dunia (globe). Globe ini terbuat dari perak seberat 400 ons dan dilengkapi detail geografis yang sangat cermat, seperti danau, sungai, kota besar, daratan, dan pengunungan. Pada petanya, ia memberikan data tertentu untuk membedakan struktur tanah. Selain itu, untuk memudahkan siapapun memahami petanya, dimasukkan informasi tentang jarak, panjang, dan ketinggian secara tepat.

Sebagai bentuk penghormatannya pada Raja Roger II, beliau melengkapi globenya dengan sebuah buku berjudul “Kitab al-Rujari” (Roger’s Book). Buku tersebut berisi panduan membaca globe yang paling teliti dan cermat sepanjang abad pertengahan. Sebagai tambahan, beliau menyisipkan sejumlah informasi tentang pulau-pulau yang letaknya sangat jauh dan terpencil, seperti Ice Land, pada buku penelitiannya. Selain tentang pulau, ada juga informasi tentang samudra Atlantik yang disebutnya sebagai laut paling gelap. Ia berpendapat bahwa penduduk asli yang tinggal di pulau besar dekat samudra tersebut adalah penduduk Inggris.

Dengan menggunakan globe atau peta buatan Al-Idrisi tersebut, bangsa-bangsa dari Eropa mulai melakukan penjelajahan ke berbagai wilayah di seluruh dunia. Dengan karyanya itu, beliau telah berhasil mengukir prestasi excellence dan menjadi pedoman utama dalam pembuatan peta selanjutnya.

Selain menciptakan globe, beliau juga menulis buku yang masih memiliki keterkaitan dengan bidang geografi. Nuzhat al-Mushtaq fi Ikhtiraq al-Afat (kesenangan untuk orang-orang yang ingin mengadakan perjalanan menembus berbagai iklim) adalah sebuah buku ensiklopedi karya al-Idrisi yang berisi gambaran peta dunia secara detail, dilengkapi informasi tentang beberapa negara yang ada di Eropa. Ringkasan buku tersebut yang sebelumnya mengggunakan bahasa Arab telah diterjemahkan kedalam bahasa Latin dan diterbitkan di Roma, Italia dengan judul “Geographia Nubiensis”.
Setelah menyelesaikan buku tersebut, al-Idrisi kembali menyusun sebuah komplikasi ensiklopdi yang lebih lengkap bertitle Rawd Unnas wa-Nuzhat al-Nafs (Kenikmatan Lelaki dan Kesenangan Jiwa). Ada puluhan buku yang telah dihasilkan beliau selama hidupnya. Antara lain: Shifatul Arab (Karakter Bangsa Arab), Kharitanul ‘Alamil Ma’mur Minal Ard (Peta Dunia). Dalam buku ini beliau membahas tujuh benua yang ada di dunia. Buku-buku tersebut telah diterjemahkan kedalam berbagai versi bahasa antara lain bahasa Spanyol, Jerman, Perancis dan Italia.
Wallahu ‘alam.

(Joko Rabsodi, MPA Desember 2009)
March 11, 2011 No comments
IBNU MAJID, SINGA LAUT

Nama lengkap beliau adalah Shihab ad-Din Ahmad bin Majid bin Muhammad bin Amir bin Duwayk bin Yusuf bin Husayn bin Abi Ma’lak as Sa’idi bin Abi ar-Raka’ib an-Najdi. Ia adalah seorang navigator ulung dan handal di abad 15 M. Kemampuan beliau diwarisi dari ayah dan kakeknya yang juga dikenal sebagai muallim dan ahli navigator yang sangat menguasai seluk-beluk Laut Merah.

Di jazirah Arab beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Majid. Berkat kemampuannya, nama Ibnu Majid menjadi sangat tersohor hingga ke Eropa. Ia bahkan dijuluki Singa Laut, karena kemampuannya sebagai pelaut yang sangat tangguh dan paham terhadap seluk-beluk laut. Di pihak lain, orang Portugis menjulukinya dengan al-Malande atau al-Marante yang berarti “Raja Laut”. Menurut catatan Vasco da Gama, pelaut Arab ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Menurutnya, Ibnu Majid pernah menolong dirinya menyelesaikan pelayarannya dari tanjung Harapan di Afrika menuju India.

Institut Studi Ketimuran Leningrad, menyimpan sebuah manuskrip kuno berbahasa Arab yang berisi tiga bait puisi karya Ibnu Majid. Diperkirakan puisi itu dibuat pada akhir abad 15 M dan permulaan abad 16 M. Tiga bait puisi tersebut berisi sejumlah petunjuk pelayaran, seperti pengetahuan tentang jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain, prekiraan kecepatan dan arah angin, kondisi medan, serta berbagi kiat yang memudahkan pelayaran. Disamping itu, Ibnu Majid juga menyisipkan rute pelayaran yang melintasi Laut Merah, Samudera Hindia, dari berbagai kawasan yang berbeda. Dalam hal ini beliau telah menunjukkan kepiawaiannya sebagai ahli navigator (pelaut) handal. Tentunya manuskrip yang ditulisnya merupakan warisan penting bagi dunia pelayaran selanjutnya.

Konon, wilayah pesisir Afrika Barat sangat tertutup dan ditakuti oleh orang-orang Eropa. Sebab, pantai tersebut sangat menyeramkan dan penuh misteri, khususnya di seputar kawasan yang dilalui garis katulistiwa. Setiap kapal yang melewatinya pasti akan mengalami kesulitan, kecuali kapal tersebut dilengkapi layar besar yang berfungsi sebagai alat bantu pendorong. Bila ada kapal yang tidak dilengkapi dengan layar besar, para awaknya harus bekerja sama mendayung kuat-kuat agar kapal bisa berjalan kembali.

Bgi pelaut-pelaut Eropa khususnya, percaya pada mitos bahwa setiap kapal yang melintasi kawasan itu tidak akan pernah bisa kembai.. Namun mitos itu akhirnya memudar pada tahun 1461 setelah pelaut Portugis melakukan perjalanan mengarungi laut dan samudera. Meskipun begitu, untuk menmbuktikan kalau mitos itu tidak bernar, orang Portugis mengirim delegasi yang bernama Kopelhaem, memutuskan singgah untuk sementara waktu di kawasan Sokoth Selatan, semenanjung Arab. Selama berada disana, tanpa disengaja ia bertemu dengan Ibnu Majid. Di tempat inilah para petualang Portugis mendengar cerita kepulauan Madagaskar untuk pertama kalinya.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa Ibnu Majid adalah seorang navigator Arab terbesar abad pertengahan. Selain itu, beliau juga ahli di bidang pemetaan, astronomi, dan geografi. Di sepanjang hidupnya, beliau telah menghasilkan sejumlah karya yang memiliki peranan yang cukup penting. Karya-karyanya antara lain seperti : Qiladah Risalatisy wa Istikhraj Qawa’idil Usus lil Mu’allim Sulaiman al-Mahri (Untaian Surat-surat dan Kaidah-kaidah Dasar Sulaiman Mahri), Tahfatul Fuhul fi Tamhidil Ushul (Pengantar Dasar-dasar Ilmu Pelayaran), al-Umdatul Mahriyyah fi Dhabthil ‘Ulumil Bahriyyah (Pijakan al-Mahri dalam Meletakkan Ilmu Kelautan), al-Qashidah li Ibni Majid (Senandung Ibnu Majid), al-Qashidatul Musammah bil Mahriyyah, dan lain sebagainya. Belaiu juga merevisi karya sang ayah yang berjudul Al-Hijaziyyah. Setelah beliau meninggal, karyanya banyak diterbitkan ke dalam beragam bahasa termasuk bahasa Portugis. Sementara kini, karya-karya Ibnu Majid yang membahas dunia navigasi banyak tersimpan di museum di Paris.

Salah satu pembaca karya beliau adalah Ali Re’is, seorang navigator asal Turki. Di halaman pembuka karyanya, yang berjudul The Ocean, ia berkata bahwa karya-karya Ibnu Majid telah memberinya banyak tambahan ilmu pengetahuan terutama terkait dengan ilmu navigasi. Ia juga telah menemukan karya Ibnu Majid lainnya seperti Kitab al-Fawa’id dan Hawiyat al-Ikhtisar, ketika singgah di Basrah. Menurutnya, karya Ibnu Majid adalah panduan yang sangat berguna bagi pelaut yang ingin melayari Laut India dengan mudah. (Diceritakan oleh : Djoko Rabsodi)

(From MPA, October 2010)
January 30, 2011 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates