facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts



Apa sih yang salah sama gue? Udah cakep, kan? Celana panjang, keren. Sweater, oke. Make up, manis. Tapi kemana sih Ilham? Udah pukul setengah sembilan malam dan gue masih imut duduk sendirian di depan Simpang Lima Gumul. Itu, bangunan keren yang mirip Arc de Triomphe du I’Etoile di Paris itu! Eh, itu Ilham!
Ilham, temen SMP gue, yang sekarang ternyata tambah charming karena udah nggak ketemu semenjak beberapa bulan yang lalu. Kangen banget sama dia. Karena gue harus pindah ke Surabaya, mau nggak mau harus tetep keep in touch sama dia lewat twitter dan beberapa socmed lainnya. Nah, kali ini Ilham mau ngajak gue ke suatu tempat, entah kemana. Mau diculik kali gue sama dia. Mau banget kali!
Ilham melambaikan tangannya. Gue hanya tersenyum sambil terus berdoa semoga Ilham nggak tau kalo gue, gugup. Untungnya akal gue masih berfungsi. Segera kuraih lengannya, menariknya buat jalan-jalan mengelilingi monumen cantik ini. Gue cerca Ilham dengan berbagai pertanyaan: kenapa dia telat, gimana kerjaannya, gimana hidupnya, yah, whatever yang keluar dari mulut gue tentang hidup Ilham saat ini. Setengah jam kemudian kita pergi karena harus lanjutin perjalanan yang ternyata, ke... Bromo???
Unfortunately, gue hanya tidur di mobil sepanjang perjalanan. Huh, gue melewatkan momen penting buat ngobrol sama Ilham malem ini. Pukul 03.30 am kita sampai. Entah di mana itu, yang jelas Ilham ngajak gue yang masih terkantuk-kantuk buat naik jeep. Jalannya yang nggak mulus membuat gue nggak bisa tidur dan nggak bisa tenang. Sekitar sejam kemudian kita sampai di Pananjakan. Ilham ngajak gue buat sholat shubuh dulu. Ya ampun, rasanya tuh keren banget kita berdua sholat di daerah Bromo yang dinginnya minta ampun sampai gue harus pake baju tebel berlapis-lapis dan Ilham hanya tertawa.
Habis sholat subuh, gue dikejutkan lagi sama Ilham. Ya Tuhan! Iham duduk tepat di samping gue ketika gue melongo memandang matahari terbit dari balik gunung entah apa itu namanya. Sumpah, Ham! Lo keren banget sih!
Setelah puas menunjukkan kehebatannya tentang surprise-nya itu, Ilham ngajak gue masuk jeep lagi buat turun ke bawah. Kita ngelewatin hamparan pasir yang luas, yang kayak di film Pasir Berbisik itu lho! Beberapa menit kemudian kita turun dan Ilham berubah jadi Teletubbies, hehe. Nggaklah, ia bilang bukit-bukit itu namanya bukit Teletubbies, soalnya mirip banget kayak yang di film boneka gede yang warna-warni itu. Gue puas difoto terus sama Ilham di bukit hijau ini.
Setelah agak siang, Ilham ngajak cabut lagi. Kali ini Ilham nantang gue buat naik lihat kawahnya. Baru berjalan beberapa ratus meter aja gue udah capek, tapi Ilham nyemangatin terus. Gara-gara itu semangat gue muncul lagi. Setelah mendaki 145 anak tangga -itu itungan gue- akhirnya gue berhasil juga menyelesaikan tantangan cowok ini. Ilham ngulurin tangannya ke gue, nolongin buat naik satu pijakan lagi. Di atas sana gue lihat pemandangan yang kerennya nggak abis-abis. Kita berdua ngobrol panjaaangg banget. Seru banget deh kalo di deketnya Ilham.
Siangnya kita habisin buat di perjalanan sama mampir di salah satu kedai makanan. Ilham memang top banget soal traveling. Kita terusin perjalanan pulang sambil debat seru sambil dengerin musik kesukaan kita dulu.
Sorenya kita sampai di Alun-alun Batu. Ilham ngajak gue sholat dulu trus naik bianglala yang lebih gede dari yang di pasar malem. Senengnya, kita cuma berdua naik itu sambil ngobrolin ramenya Kota Batu kalo malem.
Kita menutup perjalanan ini dengan makan malam di kedai yang terletak di sepanjang jalan di pinggir tebing. Tepat dari meja tempat kita duduk , gue dan Ilham bisa memandang cahaya kota Malang yang kalo malem indah banget. Emang cahaya lampunya masih lebih indah di Paris, tapi Ilham berhasil menggantinya malam ini. Ilham, makasih ya!


Asal-usul penulisan klik di sini
May 19, 2013 3 comments

Pacaran itu kayak mampir, nikah itu bagai perhentian. Mau jadi tempat mampir atau rumah perhatian?

Pacaran itu Cuma mainan, nikah itu tanda serius. Mau dimainin atau diseriusin?

Nah, loh.... yang masih pacaran?? Hayo yang lagi pedekate?? Atau...yang hari ini baru jadian..???
Heum... Udah, putusin aja!!!

Kenapa harus diputusin? Pacaran itu kan ibaratnya kayak ta’aruf! Hadeh, ntar kalo saya jawab di sini, bukunya nggak jadi dibaca lagi. Lagi pula nggak seru kalo saya yang ceramah di sini.

Buku terbitan Mizan ini emang cocok buat teman-teman yang sekarang lagi pacaran. Tapi, setelah saya baca sampai habis, lebih cocok buat yang udah pacaran sejak zaman purbakala. Eh, lebay. Maksudnya buat yang sekarang lagi pacaran dan pacarannya itu udah cukup lama, sekitar satu, dua, tiga, atau bertahun-tahun. Cocok banget untuk memperjelas status yang masih “pacaran” tersebut.

Pacaran memang tak selamanya berujung pada zina, namun semua zina berawal dari pacaran. Terkadang kita berpikir kalimat tersebut terlalu lebay. Saya sendiri melihat fakta, meski tak sepenuhnya tahu, bahwa ketika teman-teman saya ada yang berpacaran pun juga biasa saja. Mungkin hanya sms-an, telpon-telponan, makan bareng, nonton bareng. Nah, kegiatan bareng yang selanjutnya itu yang perlu dipertanyakan.

Nggak sih, sebenernya saya memang melihat hal yang biasa aja. Itu hanya sebatas yang saya tahu lho! Nah, maka dari itu, jangan sok tahu. Karena bagaimana pun semua zina berawal dari pacaran. Seperti postingan saya sebelumnya –artikel saya malahan, saya sendiri yang buat- bahwa dulu saya berpikir pacaran itu punya sisi positif dan negatif. Jadi, saya sih masih fine-fine aja. Kalau pun ada teman saya yang bicara soal pacarnya, saya malah masih sering bercandain dia, godain dia. Saya masih belum berani tegur dia. Kenapa? Karena saya masih sebatas tahu, dia baik-baik saja. Sebatas tahu saja. Kan, nggak enak juga, malah takutnya hubungan saya dan dia jadi renggang atau gimana gitu.

Nah, dari sinilah sebenarnya kita harus koreksi diri. Bicara secara langsung namun dengan baik-baik sebenernya lebih baik, namun masih ada juga cara lain yang bisa kita lakukan untuk menasihati, atau membantu teman kita agar tidak terjerumus ke lubang yang paling dalam, tersesat, dan tak tahu arah jalan pulang. Huhuhu...

Jadi, saya hanya bisa berpesan melalui tulisan saya di blog ini : Udah, Putusin Aja! Karena saya masih belum berani untuk bicara terus terang. Semoga saya bisa menjaga komitmen saya ini. Semoga teman-teman juga bisa menjaga komitmen teman-teman, semoga kalian yang sedang pacaran segera memutuskan pacar kalian! Hehehe... Beneran, karena saya masih labil, saya juga berdoa dan tolong doakan juga, semoga saya bisa menjaga komitmen ini dengan baik. Amiinn!!

Wassalamu’alaikum!
May 10, 2013 No comments

Yak, sedikit review dan sedikit curhat –lhoh, tentang 9 Summers 10 Autumns. So, here we go.

Firstly, I am going to tell you a little secret of mine. Sedikit lebay sebenernya, tapi nggak papa juga, kan? Hehe. Bahwasanya menonton film di bioskop adalah salah satu keinginan yang saya pendam semenjak kecil. Maklum, saya tinggal di desa, meskipun sejak kecil saya sering diajak jalan-jalan ke kota, tapi yang namanya “ngintip” aja belum pernah. Padahal waktu itu saya udah di depan tangga lho!

Nah, kesempatan pun muncul ketika saya bersekolah di Kota Kediri. Jarak asrama saya ke gedung bioskop ini aja sebenernya juga nggak jauh-jauh amat. Jalan kaki aja bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-15 menit. Sayangnya, kami dilarang nonton bioskop. Tapi dalam hati saya bertekad, “Udah hampir tiga tahun tinggal di Kota Kediri, pokoknya sebelum saya pindah untuk melanjutkan studi, saya harus nonton salah satu film keren di sini!” And finally, setelah hanya bisa melirik berpuluh-puluh kali ke papan jadwal pemutaran film yang saya lewati hampir setiap hari pergi les, I got it! Yeayyy! –Don’t say I am a kind of lebay, please!

Jadi, saya akhirnya bisa menonton film yang paling saya tunggu kehadirannya di Golden Theatre Kediri ini, setelah beberapa hari menunggu datangnya film yang terlambat datang sambil hanya bisa memasang wajah iri dan hati yang sebal pada beratus-ratus tweet orang-orang yang dengan bangga dan senangnya udah nonton film ini. Huh!

9 Summers 10 Autumns, mengisahkan kehidupan penuh perjuangan Iwan Setyawan dan  manisnya buah perjuangan itu sendiri. Kisahnya diawali dengan Iwan Setyawan, atau lebih dikenal dengan Bayek, ketika masih baru berada di New York. Bayek memulai cerita masa lalunya ketika ketakutannya muncul akibat dirampok saat berada di dalam kereta. Pada saat itu, muncullah seorang anak kecil berseragam merah putih, yang tak lain adalah refleksi dari masa lalunya.

Bayek dilahirkan di Batu, di sebuah rumah sederhana oleh seorang ‘Ibuk’ yang sangat menyayanginya. Memiliki empat saudara perempuan, dan sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarganya membuat Bayek menjadi harapan besar bagi bapaknya. Bapaknya yang seorang sopir angkot berharap anak lanangnya itu bisa membantunya mencari nafkah, menjadi seorang laki-laki yang ‘sebenarnya’.

Sejak kecil Bayek pintar, ia sering menjadi juara kelas. Namun ternyata prestasinya itu tak membuat bapaknya cukup bangga. Ketika lulus SMA, Bayek melalui jalur PMDK (jalur masuk PTN tanpa tes) berhasil masuk IPB. Ia tahu bahwa kuliah di IPB, yang letaknya di provinsi Jawa Barat itu, bukanlah suatu perkara yang mudah bagi keluarganya, terutama bapaknya. Bapaknya bersikeras agar Bayek tetap tinggal di rumah, membantu ayahnya mencari nafkah. Namun, Bayek tetap bersikeras. Semua saudara dan ibuknya mendukungnya, meski ia tahu biaya hidup dan kuliah di sana tak cukup hanya berbekal beras saja.

Mengetahui kemantapan hati Bayek, hati bapaknya pun luluh. Ia kemudian mengajak Bayek mengendarai angkotnya yang telah berpuluh-puluh tahun menemaninya mencari nafkah. Bapaknya menjual angkot itu hanya untuk Bayek, untuk masa depan Bayek. Sejak itulah Bayek tahu bahwa ia tak boleh main-main saja, ia harus bisa membuat bapaknya bangga dan tak menyesal telah menjual angkot kesayangannya itu. Semenjak itulah perjuangan Bayek dimulai.

Sebuah kisah yang sangat menarik. Meskipun diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama, namun film ini tak kalah seru dengan novelnya. Banyak orang yang kecewa dengan film-film yang diaptasi dari novel. Namun, menurut saya film ini lebih hidup. Dengan setting serta dialog dan prolog yang memukau, film ini menjadi lebih menarik.

Akting para aktornya pun tak kalah keren. Ihsan Tarore sebagai Bayek, Alex Komang sebagai Bapak, dan Dewi Irawan sebagai Ibuk, sukses menjadikan film ini lebih natural. Dialog dengan bahasa Jawa khas Malang serta beberapa adegan yang lucu berhasil membuat saya dan teman-teman terpukau dan tertawa. Kisah perjuangan ketika kuliah di IPB juga berhasil membuat saya buru-buru pengen kuliah. “Karena bahagia yang diwujudkan dengan perjuangan akan lebih memberi makna.”

Overall, I like this movie! “It doesn’t matter where I came from, as long as I know where I’m going." 


May 06, 2013 2 comments

Karena Vanila Berwarna Putih

“Kenapa kamu suka vanila?” Ilham menoleh padaku.
“Karena vanila warnanya putih.” Aku masih akan menjawabnya dengan kata dan intonasi yang sama seperti itu, tak kurang dan lebih selama Ilham bertanya padaku.
Ilham adalah temanku semenjak kelas satu SMA. Bertahan selama tiga tahun berada di kelas yang sama dan –oh, tidak! Kami berada di satu tempat yang sama di kampus ini dan aku harus bertahan selama empat tahun mendatang. Lagi.
“Kenapa kamu suka vanila?” adalah pertanyaan wajib yang akan dilontarkan Ilham padaku setiap kali kami membeli es krim, kapanpun itu.
Entah kenapa juga, aku tak pernah bosan menjawabnya dengan jawaban yang sama. Aku bersyukur karena Ilham sama sekali tidak pernah mengeluh.
Malam ini ia mengajakku, lebih tepatnya membantu mengerjakan tugas kuliah. Dengan iming-iming semangkok besar es krim vanila, aku pun menyanggupinya.

8.00 pm.
Sebuah mangkok besar dan beberapa buku tebal memenuhi salah satu meja di sudut kafe ini. Sekali lagi Ilham bertanya padaku, “Kenapa kau suka vanila?”
“Karena warnanya putih.”
“Seputih cintamu padaku?”
Aku diam. Ilham diam. Wajah Ilham serius.
Beberapa detik berlalu.
“Kena kau!” Ilham sontak tertawa terpingkal-pingkal.
“Kena juga kau! Aku hafal candamu!” Aku tertawa renyah, berharap Ilham tak tahu bahwa hatiku menjawab pertanyaannya. Iya.

#CerminBentang Minggu 4. Tema : Vanila
Ditulis oleh : @azzuhruf_ifa

P.S. FYI, ini adalah cerita mini 200 kata yang saya buat intuk mengikuti lomba cerita mini (cermin) yang diadakan oleh Bentang Pustaka. Alhamdulillah juga berhasil menjadi Cermin of The Month untuk bulan April 2013. Terimakasih buat semua yang udah vote dan yang udah mendoakan plus mendukung saya. Thank you so much! :D

link : http://pustakabentang.blogspot.com/2013/04/cermin-of-month-april-2013.html

untuk ulasan lengkapnya, kunjungi : http://pustakabentang.blogspot.com/2013/05/cermin-of-month-april-2013-2.html

ehm, Jadi barusan coba klik link itu dan ternyata udah nggak bisa hoho. Ya sudahlah. Jadiin kenangan saja. xoxo
May 01, 2013 6 comments


Sebuah novel yang dikarang oleh Isti Anindya. Dengan nama pena Biaz, ia berhasil meluncurkan novel perdananya ini pada tahun 2008. Saya sendiri tertarik membeli buku ini ketika ada bazar buku beberapa bulan yang lalu. Jujur, awalnya saya tertarik dengan covernya. Warna covernya yang gradasi antara jingga dan hitam, serta siluet bayangan seorang wanita berjilbab otomatis membuat saya berpikir ini pasti buku islami. So, let’s get it one for me!

Ini adalah kisah tentang kehidupan Velia, seorang jilbaber sejati, mulai dari  masa sekolah hingga masa akhir hidupnya-meski nggak sepenuhnya begitu, hehe. Dikisahkan bahwa Velia adalah seorang cewek cantik yang sangat dicintai banyak orang. Sahabat-sahabatnya kebanyakan cowok. Meskipun disukai oleh banyak cowok, ia hanya setia menyimpan hatinya untuk satu orang, Kahfi. Ia diam-diam menyukai Kahfi, namun ternyata secara diam-diam Kahfi juga menyukainya. Ketika mengetahui hal tersebut, Velia yakin bahwa dirinya memang untuk Kahfi. Akhirnya, setelah lulus SMA hingga melanjutkan ke jenjang kuliah, ia tetap menyimpan hatinya untuk Kahfi meskipun Kahfi berada jauh darinya. Velia yakin bahwa Kahfi memang menunggunya.

Ketika akhir kuliah, Velia akhirnya bisa berhubungan dengan Kahfi lewat sms. Setelah satu bulan saling sms, Velia semakin memantapkan hatinya untuk Kahfi. Namun, ketika ia pulang ke rumah, sahabatnya Vemas melamarnya. Velia menganggap  Vemas sebagai abangnya sendiri. Ia kemudian berterus terang pada ibunya bahwa dirinya sedang menanti Kahfi. Ibunya sendiri akhirnya menyerahkan sebuah undangan pernikahan kepada Velia, undangan pernikahan antara Kahfi dan Zahra, sahabatnya ketika SMA. Mengetahui hal tersebut, Velia jatuh pingsan dan akhirnya koma selama satu tahun. Selama satu tahun itu juga Vemas setia menemaninya, mendoakannya, menunggunya. Setelah sadar, Velia akhirnya memutuskan untuk menikah dengan Vemas.

Namun, takdir berkata lain. Satu minggu sebelum pernikahan Velia dengan Vemas, Velia mengetahui bahwa Kahfi tidak jadi menikah dengan Zahra. Hal tersebut membuat Velia galau setengah mati. Velia tahu cintanya tidak bisa berlabuh ke lain hati selain Kahfi seorang. Beberapa hari menjelang pernikahannya dengan Vemas, Velia mendapat cobaan lagi. Kesuciannya direnggut oleh seorang lelaki yang sedang mabuk. Velia benar-benar hancur. Ia akhirnya memutuskan membatalkan pernikahannya dengan Vemas. Nah, mulai dari bab inilah kisah hidup Velia dimulai. Mulai dari bab ini juga kisah dalam novel ini semakin menarik untuk dibaca.

Pertama kali membaca novel ini, saya sangat bingung. Dialognya banyak, tokohnya tidak jelas. Namun, kalau sudah sampai cerita di atas tadi, kita mungkin sudah paham bagaimana alur ceritanya. Jujur saja, cerita di novel ini seperti sinetron. Agak mustahil untuk dicerna di kehidupan nyata. Banyak setting yang tidak jelas kapan kejadian waktunya. Selain itu, ketika terjadi flashback, kita akan bingung, karena tidak ada pertanda yang jelas. Ejaannya pun juga masih banyak yang salah, entah karena masih cetakan pertama atau bagaimana saya kurang paham. Satu lagi, ketika Velia berbicara masalah kedokteran, banyak sekali penjelasan yang diungkapkan. Saya sebagai pembaca novel ini merasa terganggu karena tidak paham masalah seperti itu, saya menjadi bosan, meskipun hal ini bisa menambah wawasan ilmu kita.

Di luar kekurangan novel ini, saya suka jalan ceritanya. Namun, akan lebih baik apabila ada revisi lagi. So, siapa yang pingin tahu bagaimana lanjutan kisah di atas?? Dengan siapa Velia akan menempuh hidupnya? Akankah cintanya pada Kahfi berlabuh di pelaminan? Lalu, bagaimana dengan Vemas, sahabat yang mencintainya dengan segala ketulusan hati?

#Eh, ada satu lagi yang lupa, itu Velia kok bisa punya enam anak, yang tiga terakhir itu lho....? Ada yang tau??
April 27, 2013 No comments

picture source : http://anjaswijanarko.net/eryka-bunga-ilalang-di-tengah-padang.html


Dulu, aku mencintaimu. Merasakan denyut nadi ini bersamamu, menatap bintang-bintang harapan yang membuat diriku terbang, dan meraih mimpi indah bersamamu adalah sebuah kenangan manis yang tak akan pernah hilang dalam benakku.
Dulu, kau sering mengajakku bermimpi di atas awan. Menerobos ilalang, menemukan sebuah tempat di bawah pohon yang rindang untuk berbagi cerita, tentang mimpiku dan mimpimu. Merasakan angin yang menghempas tubuh kita, aku yakin cintaku akan tetap menjagamu.
Kau sering bilang, “Aku akan pergi”, namun cintaku tak akan pernah meninggalkanmu. Kau sering bilang, “Kita akan berpisah”, namun aku yakin cintaku padamu tak akan terputus, dan aku juga sering bilang, “Kejarlah mimpimu”, karena aku yakin cinta ini akan terus tumbuh meski samudera memisahkan raga kita.
Aku tahu, cinta ini mungkin tak akan bisa terbang menuju persinggahanmu. Namun saat ini, di bawah gumpalan awan putih di angkasa yang biru, aku ingin sedikit bernostalgia denganmu. Aku ingin mendoakan sebaris kata yang akan selalu kau ucapkan di hadapan kue cokelat dengan beberapa lilin yang menyala indah. Doa yang selalu kau lantunkan untuk hidupmu dan doa yang kubisikkan untuk kita. Di atas bunga putih ini, kuselipkan secarik kertas untukmu. Tiga kata yang selalu kuucapkan di tanggal ini, bulan ini, setiap tahun, semenjak aku mencintaimu.
February 16, 2013 8 comments
Judul buku                       : Infinitely Yours
Pengarang                       : Orizuka
Editor                                 : Andree & Gita Romadhona
Penerbit                           : Gagas Media
Cetakan                            : Keenam
Tahun Terbit                      : 2012

...
“Terus, buang kuncinya,” kata Jingga sambil memotret gembok mereka dari jarak dekat.
Rayan mengernyit. “Buang?”
“Iya, buang aja ke sana.” Jingga menunjuk ke depan.
Rayan mengangguk-angguk, lalu tanpa sengaja membaca sebuah papan kuning bertuliskan ‘DO NOT THROW YOUR KEY AWAY’ tak jauh dari tempatnya berdiri.
Rayan menunjuk papan itu. “Terus, itu apa?”
Jingga buru-buru menggeleng. “Nggak apa-apa, buang aja.”
...


Jingga dan Rayan. Dua orang yang memiliki sifat kontradiktif. Jingga seorang gadis cantik yang riang, cerewet, komunikatif, menarik, selalu update fashion dan segala hal yang berhubungan dengan Korea –Korean Lovers. Rayan, seorang lelaki tampan namun pendiam, kaku, kolot, dan sama sekali tidak suka dengan hal-hal yang berbau Korea. Namun, bukankah pasangan yang baik adalah pasangan yang saling melengkapi?
Pertama kali bertemu Jingga, Rayan sadar betul bahwa ia akan mendapat kesialan selama berada di dekatnya. Mereka berdua sedang dalam perjalanan ke Korea Selatan dalam rangka mengikuti sebuah tour. Dengan tujuan awal yang berbeda, kedua insan ini ternyata terperangkap dalam ikatan satu pasangan tour : satu sama lain harus bertanggungjawab terhadap keselamatan pasangan tournya selama berada di Korea.
Sifat Jingga –yang sudah saya sebutkan di atas- ternyata benar-benar membuat Rayan kacau. Beberapa menit saja berada di dekat Jingga yang ngomong sana-sini, bagi Rayan itu adalah sebuah kesialan yang akan berlanjut pada kesialan selanjutnya. Jingga sendiri yang mengetahui bahwa Rayan adalah orang yang pendiam, terus saja mengajaknya berbicara meski ia tahu ia sedang dicuekin.
Sesampainya di Korea, Jingga dan Rayan bergegas melaksanakan rencananya. Jingga yang sejak awal memang berniat mengikuti tour ini sedang menanti seseorang : Yun Jae, tour guidenya yang ia jumpai setahun yang lalu saat ke Korea dan membuatnya tak bisa tidur setiap malam. Yun Jae telah merebut hati Jingga, dan ketika Yun Jae memasuki busnya ia melonjak kegirangan, membuat seisi bus terutama Rayan terpolongo. Membuat Rayan semakin yakin bahwa Jingga adalah makhluk teraneh yang pernah ditemuinya.
Rayan sendiri menjadi bingung setengah mati setelah kepergiannya dari rombongan tour diketahui dan diikuti oleh Jingga. Jingga yang merasa bertanggung jawab pada pasangan tournya itu berpikir bahwa Rayan akan tersesat dan jika itu terjadi, Jingga tak tahu ia akan mendapat hukuman seperti apa atas keteledorannya. Jingga sendiri juga tak tahu bahwa proteksinya pada Rayan akan membawanya pada petualangan-petualangan konyol yang akan mereka lalui bersama.
Satu hal yang membuat Rayan kabur dari rombongan adalah bahwa ia ingin bertemu dengan Mariska, mantan pacarnya, yang dalam waktu dekat akan menikah. Menikah dengan lelaki Korea yang dikenal Mariska saat sedang melanjutkan studi ke Korea. Setelah gagal bertemu dengan Mariska di apartemennya, mereka berdua berniat kembali ke rombongan. Namun, setelah pertemuan tidak sengaja antara Rayan dan Mariska di pinggir jalan, Rayan membuat Jingga harus ikut kabur bersamanya lagi. Rayan terlanjur patah hati dan Jingga tak mau melihat wajah kakunya bertambah kaku lagi. Maka, Jingga pun memutuskan bahwa Rayan harus mengikuti tour romantisme Korea, dipandu oleh Jingga sendiri. Hal ini membuat Rayan semakin kacau namun ia tak tahu mengapa ia tetap mengikuti kemauan gadis periang itu.
Jingga tak mau patah hati Rayan membuat Rayan semakin benci pada Korea, terutama para lelaki Korea. Rayan terlanjur sinis pada calon suami mantan pacarnya itu. Selama kabur, Jingga mengajak Rayan pergi ke berbagai tempat, mulai dari makan makanan khas Korea, berbelanja souvenir dan baju couple, berfoto bersama, hingga pergi ke N Seoul Tower, tempat dimana ia dan Jingga mengunci “gembok jodoh”nya. Bagi Rayan, melakukan kegiatan ganjil seperti itu bersama Jingga adalah sebuah keanehan yang tak pernah dialami Narayan Sadewa, namun entah mengapa ia menikmati perjalanan itu bersama gadis yang baru dikenalnya beberapa hari itu.
Hilangnya dompet Rayan membuat mereka berdua harus melalui berbagai petualangan dan kejadian seru, konyol, lucu, dan entah bagaimana, romantis. Kejadian-kejadian itu ternyata membuat mereka berdua perlahan-lahan jatuh hati. Namun ego Rayan dan sikap tak yakin Jingga membuat rasa cinta itu harus terpendam dalam hati.
Setelah kembali lagi ke rombongan, Rayan semakin tak tahan atas perasaannya itu, dan begitu pula Jingga. Di saat kata cinta itu hendak terungkap sebuah kejadian menghalanginya. Rayan salah sangka terhadap Yun Jae dan Jingga. Ia sangat yakin Jingga merasa sangat senang ketika Yun Jae menyatakan perasaannya, namun ia salah, Jingga sama sekali tak merasakan apa pun ketika bersama dengan Yun Jae. Begitu juga ketika Jingga hendak berterus terang pada Rayan, Rayan juga terlanjur sakit hati dan mulai mengeluarkan egonya lagi. Sejak saat itu, persahabatan manis yang terjalin antara Rayan dna Jingga selama perjalanan “kabur” mereka hilang. Rayan sudah memutuskan ia akan menjauh dari Jingga.
Setelah perjalanan panjang di Korea, tour pun berakhir. Ketika sampai di bandara, Jingga buru-buru menyerahkan buku perjalannnya pada Rayan. Rayan sama sekali tak menghiraukan Jingga. Ia tetap dingin, namun Jingga masih bersikap riang, berharap Rayan tahu isi hatinya.
Dalam perjalanan pulang, Rayan membuka buku perjalanan yang diisi Jingga dengan berbagai pose wajah Rayan selama di Korea, dan pada foto terakhir, tertulis sebaris kata dalam huruf Korea yang membuatnya mengetahui perasaan Jingga yang sesungguhnya padanya. Namun nasi telah menjadi bubur. Rayan sama sekali tidak mengetahui alamat atau pun nomor yang bisa dihubunginya.
Tetapi takdirlah yang mempertemukan mereka kembali. Ketika Jingga berada di Korea setelah bertemu Yun Jae memperjelas jawaban pinangannya, Jingga pergi menyusuri sungai Cheonggye. Pada saat itulah ia bertemu sesosok Rayan, dengan penampilan yang sedikit berbeda, dan di atas jembatan sungai Cheonggye itu, Rayan menatap Jingga, mengungkapkan satu kata yang diajari oleh sekretarisnya : Saranghae.

February 02, 2013 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates