facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts



“Oh, my God! Turunin gue.... SEKARANG!!” Aku berteriak kencang mengalahkan deru motor yang melaju kencang berlawanan arah dengan kami.
“Gila ya tuh motor! Di jalanan terjal kayak gini masih sempetnya melaju kencang!” Abangku Ilham berkomentar tak memedulikan aku yang masih tegang diboncengnya dengan sepeda menuruni jalanan yang berkerikil di sana sini.
“Elu kali, Bang, yang gila! Tuh sepeda motor kan nanjak. Lah, kita tuh sekarang lagi turun dan elu nggak ngerem sama seka—“
BRUUKK.
“--li...!” Aku meringis kesakitan memegang sikuku yang lecet. Benar saja apa yang kubilang. Kalau Bang Ilham lebih hati-hati, nggak bakal kayak gini jadinya. Jatuh ke pinggir parit di samping kebun teh ini.
Aku melirik Bang Ilham yang tergeletak tak jauh dari tempatku.
“Bang! Bang Ilham! Bangun dong! Tolongin gue, sakit nih!” Aku berdiri sambil merapikan bajuku yang kotor terkena tanah basah karena kemarin baru saja hujan.
“Pokoknya, sesampainya kita di penginapan, elu utang buat manggilin tukang pijit buat gue.” Aku masih saja menggerutu sambil berjalan ke arah Bang Ilham.
“Bang, bangun dong! Nggak usah sok pingsan segala deh! Gue udah bosen lu kibulin mulu.” Aku menggoyang-goyangkan punggung Ilham yang masih tengkurap tak bergerak. Oh, gue nggak boleh panik, Ilham nggak boleh menang kali ini. Udah berkali-kali Bang Ilham berhasil ngibulin aku dengan beragam cara yang konon didapatkannya dari buku 1001 Cara Profesional Menjahili Anak Kecil.
Hei, aku bukan anak kecil lagi. Aku udah tujuh belas tahun, tidak lebih empat tahun lebih muda dari Bang Ilham. Catat itu.
Sayangnya, Bang Ilham masih saja belum bergerak. Sudah sebelas kali aku memanggil namanya dengan keras, ia belum juga bangun. Padahal ia pernah berkata padaku, “Panggil namaku tiga kali, aku akan segera berada di sampingmu.” meski aku tahu pada saat itu ia hanya menggodaku. Aku mulai panik.
Aku pun mulai berpikiran macam-macam. Sudah cukup kehilangan dua orang tuaku, aku tak ingin menjalani hidup ini sendirian, tanpa Bang Ilham. Semenjak papa dan mama pergi, Bang Ilham harus merangkap perannya sebagai kakak sekaligus orang tua. Tentu saja ia tak bisa sepenuhnya menggantikan mereka, tapi aku tahu ia sudah susah payah membuatku tetap hidup, tetap bisa tersenyum sampai sebelum ia mulai memboncengku naik sepeda tadi.
Tak terasa air mataku pun meleleh. Pipiku sudah basah.
“Bang... jangan tinggalin gue...” Aku drama banget.
“Kenapa? Elu takut nggak bakalan dipijitin sama Mbok Minah?” Tiba-tiba Ilham membalikkan badannya, tersenyum padaku dengan wajahnya yang jahil, matanya yang hitam, dan –auranya yang seksi, itu kata temen-temenku.
Sial. “Bukan itu. Gue takut elu ninggalin banyak utang dan gue harus bekerja multitasking jadi pelayan saat siang, pencuci mobil saat libur, dan begadang nyuci piring saat malam.”
“Kalo piringnya piring hitam nggak papa dong! Elu kan bisa nyuci sambil dengerin para Blueband Korea itu!”
“Boyband Bang!” Aku memprotes. Kami pun tertawa keras hingga membuat para pemetik teh saling memandang kami dengan tatapan yang, tampaknya terganggu.


“Gue mau ngomong.” Sela Bang Ilham di saat aku masih takjub memandang hamparan kebun teh di hadapan kami.
“Ngomong aja Bang, gratis kok!” Aku menyelutuk.
“Gimana kalo tahun ini gue mau ambil semester di...” Ilham berkata dengan sangat hati-hati hingga membuatku menoleh padanya. “Oxford?”
“Sumpah lu? Udah deh, kalo bohong tuh jangan jauh-jauh. Bilang aja di UI, di ITB, di mana gitu. Jauh amat!” Aku menjawabnya dengan santai.
“Gue dapet beasiswa. Tapi, kayaknya nggak jadi gue ambil kok!” Ilham tersenyum padaku.
“Elu yakin? Kenapa? Jangan bilang karena gue.” Aku kaget, tapi aku tahu kapan Ilham berkata serius.
“Pede banget lo!” Ilham menyangkalnya. Ia tertawa kemudian mengacak-acak rambutku. Aku tahu, ia berbohong untuk jawaban terakhir ini.


Setelah kembali dari Puncak seminggu yang lalu, pikiranku mengelana dan sering tak fokus. Aku terus saja memikirkan ucapan Bang Ilham mengenai beasiswanya. Sudah pukul lima sore dan Bang Ilham belum juga pulang. Kegiatannya di kampus memang harus dicereweti kali ini.
Aku pun memutuskan untuk bersih-bersih. Ketika membersihkan meja belajar Bang Ilham, aku tak sengaja menemukan sebuah amplop putih. Tanpa berpikir lebih jauh, aku pun membukanya. Aku membacanya dengan wajah tak percaya. Bang Ilham benar-benar mendapatkan beasiswa untuk belajar ke luar negeri selama dua semester. Aku yakin Bang Ilham sudah melalui tahap yang panjang untuk mendapatkan salah satu impiannya ini. Aku hanya tak tahu. Benar-benar adik yang bodoh.
Kubaca lagi surat itu dengan pelan. Oh, tidak! Deadlinenya tak lama lagi. Jika Bang Ilham serius untuk mengambilnya, maka ia pasti sudah berbicara padaku. Melihat tingkahnya selama ini, aku tahu Bang Ilham akan melepaskannya, tapi aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak demi apa pun. Tidak juga demi aku.


Meski aku tahu aku akan hidup sendirian, aku berusaha menguatkan diri. Apa pula bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya? Aku tetap saja bersikukuh menguatkan Bang Ilham.
“Udah deh, lo nggak usah pake acara mikirin gue segala! Elu tau kan temen gue tuh banyak, soleh-solehah pula!” Aku menggigit bibir. Mencoba menguatkan hatiku yang rapuh.
“Lo bakal sendirian. Bentar lagi puasa. Lihat deh! Tinggal satu, dua...” Ilham menunjuki angka-angka di kalender. “Lima belas hari lagi!”
“Cuma setahun kan! Yakin deh, gue bisa kok! Malahan gue yang khawatir sama elu! Di sana tuh ada empat musim, masyarakat muslim jadi minoritas, gimana sama puasa elu!” Aku membela diri.
“Tuh, kan! Gue khawatir kalo elu nanti di sini sendirian khawatirin gue sampe sakit.” Ilham membalas sambil mencibir.
Aku salah ngomong. “Oke deh, gini aja ya, inget kata-kata gue. Orang sukses itu bakal meninggalkan zona aman dan nyamannya. Anggep aja elu hidup di sini tuh di zona aman dan nyaman, karena ada gue. Hehe. Begitu juga sebaliknya, gue di sini hidup di zona aman dan nyaman, karena ada elu. Karena kita keluarga. Zona aman dan nyaman kita sekarang itu, keluarga! Elu tinggal pilih.” Aku berharap tak pernah memberinya pilihan, tapi aku tahu aku harus.
Bang Ilham terdiam. Keputusan ada di tangannya. Ia tampak benar-benar kacau. Dan galau.


Dua hari lagi udah mulai shalat tarawih. Aku seneng Bang Ilham memutuskannya.
Aku tak akan kesepian. Meski pilihan yang kuberikan padanya bagai buah simalakama, tak apalah, aku benar-benar seperti orang sok bijak saat itu. Menyaingi Mario Teguh dan bakalan menjadi the next Maura Teguh.
Kulirik seorang cewek yang duduk di sampingku. Ia tertawa manis, manis sekali, sambil menggoyang-goyangkan kartu pos berwarna pink yang kuterima pagi ini. Aku tak tahu semenjak kapan sahabatku ini mulai gila sama abangku. Kartu pos berwarna pink dari Oxford.
July 14, 2014 No comments
picture source: http://freehdwalls.net/

Let me clear you something, my dear friend.

You asked me who the one that dare enough to steal my heart is. So here is the answer.

He was in the same class with me for a year and now our class is just in the opposite way. We keep in touch to make our friendship last forever but I often do hope that our relationship will be more than just a friend. We frequently study together and discuss a lot of things, included some unimportant and silly stuff that made us laugh out loud. We hang out every other day to refresh our mind because of those unpredictable subjects and end the week by exploring the city with culinary session. Spending a day with him is just another thing that made me realize that life is so wonderful.

That adorable boy, I’m sure you know him better than me because it’s you, Azra. The one who cares me not more than as a brother –you told me all the time.


It’s you, my best friend ever whom I fall in love with, Azra.
May 22, 2014 No comments

First of all, saya bener-bener minta maaf sama mbak Luluk Indryas Mufida dan Iva Firdayanti karena nggak bisa memenuhi harapan kita buat nonton bareng film ini. Maaf yaa... L Yang kedua, saya sangat berterima kasih sekali kepada teman-temanku Flo, Widi, Nuril, Mega, Lia, dan Priska yang sudah mau menemani saya buat nonton. Maaf banget kalau aku kesannya ‘maksa’, bukannya ‘ngajak’ ketika mau nonton ini. Maaf juga karena telat dateng ke bioskop, sorry sorry sorry... :3

Tapi... kalian puas, kan, nonton ini?? Atau mungkin, sedikit kecewa sama seperti saya? Well, I really hope that we enjoyed and got the point of this movie guys...

Nonton film ini, gimana yaa... semakin membuat saya dan orang-orang yang punya mimpi buat keluar negeri tambah pengen keluar negeri dan membuat orang-orang yang udah keluar negeri pengen balik ke sana, gitu nggak sih?? Errr...

Kisahnya diawali ketika Hanum dan Rangga sudah berada di Eropa. Untuk mengusir kebosanan Hanum yang sendirian di apartemen tatkala ditinggal Rangga untuk kuliah, Hanum akhirnya mengikuti les bahasa Jerman. Pada saat les itu, ia bertemu dengan Fatma Pasha yang kemudian membawanya menemukan titik-titik cahaya di benua itu. Bersama Fatma dan Ayse (putri Fatma), ia pun mulai menjelajahi berbagai tempat di Eropa. Bersama mereka, Hanum juga belajar bagaimana sikap untuk menjadi agen muslim yang baik, khususnya di negara yang muslimnya menjadi minoritas.

Kisahnya sih, nggak banyak melenceng dari buku, ehm, well, sebenernya sih saya aja yang lupa bagaimana detailnya di novel, hehe. Maklumlah, sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya membacanya. Tapi yang jelas, ada beberapa hal yang pengen banget saya komentarin setelah saya menonton film ini.

Dari segi positif, two thumbs up deh karena you know, settingnya itu di luar negeri semua woy! Serasa jalan-jalan di luar negeri gitu, atau nonton tayangan travelling edisi luar negeri. Nggak henti-hentinya saya kagum sama pemandangan dan nggak henti-hentinya juga saya ‘nggremeng’: “Aku pengen kesana” atau sekadar “kereenn” atau, “pengeeeen...” sambil memasang wajah melas menarik-narik lengan jaket Flo... hiks hiks... Selain itu, adanya dialog cerdas dan menggelitik tak urung membuat kami tertawa atau pun ‘jleb’ di hati. Dakwah lewat film tuh ya kayak gini nih, kereeen....

Selanjutnya, the troubles. Satu yang sangat saya sayangkan adalah, ketika Hanum, Fatma, dan Ayse pergi ke Bukit Kahlenberg. Saya masih ingat betul cerita di novel bahwa mereka bertiga ke sana ketika hari menjelang malam. Ketika saya menulis review novel ini dulu, saya sampai bela-belain nyari foto bukit Kahlenberg ketika malam karena di novel itu digambarkan keindahan lampu-lampu yang indah ketika malam hari yang dilihat dari bukit Kahlenberg. Sayangnya, di film ini diceritakan bahwa mereka bertiga pergi ke sana ketika siang. Bagus sih pemandangannya saat siang. Keren. Tapi, kayaknya bakalan keren lagi kalo malam hari deh...

Kemudian, di tengah-tengah cerita, muncul subtitle yang salah posisi. Maksudnya, subtitlenya muncul di saat yang tidak tepat, bukan di scene yang tepat. Nah, hal ini membuat saya sebagai penonton merasa bingung karena harus fokus pada gambar yang tidak relevan dengan subtitle atau ngotot baca subtitlenya karena takutnya nanti di saat scene yang harusnya ada subtitlenya ini malah subtitlenya nggak muncul. Bingung dengan kalimat saya? Ya gitu lah pokoknya.

Namun, yang paling nggak enak di hati adalah, sesaat setelah subtitle yang salah posisi itu, muncul pula subtitle berisi keterangan ‘Coming Soon’. Hey, wait, wait, wait... yang bener aja.. Nggak mungkin juga kan ada subtitle yang pake bahasa inggris nantinya... Saya pun langsung sadar, nih film bakalan ada part dua nya... Yang bener aja! Saya udah nunggu film ini lama, dan nggak ada pikiran sama sekali kalo harus nunggu kisahnya tamat di lain hari. Hey! Nggak ada pemberitahuan sama sekali pula di jejaring sosial. Setelah kejadian subtitle ‘Coming Soon’ itu, saya pun jadi mencak-mencak sendiri di bioskop. Haduh, nasib anak kos nih ya kayak gini. Udah nekat nyisakan uang buat nonton film ini, yang saya pikir bakalan dapat ‘ending’ saat itu juga, ternyata harus nabung lagi buat nontong yang part dua. Well, it’s so surprising ladies and gentlemen. Tak ada kabar mengenai tanggal penayangan yang part dua pula... Heuh...

Okay, enough! Overall, saya sukaaa bangeeet sama film ini. Kalau dipikir-pikir sih, emang bakalan lebih bagus kalau panjang, dijadikan dua part sih nggak papa. Tapi ya, kenapa nggak dikasih pemberitahuan sebelumnya? Sekali lagi, film ini keren! Can’t wait to watch the rest of the stories...

-Jadilah agen muslim yang baik!-

P.S.

*Mbak In dan Iva, kalau kamu duduk di sampingku waktu nonton film ini, kita bakalan ‘hurig’ sendiri nonton adegan ketika Hanum dan Rangga jalan-jalan berdua atau waktu sholat bareng... hoho
*Setelah nonton ini kami menyempatkan diri buat makan bareng... No need to say saya beli makan apa, kalian tahulah... ;) (nggak penting)
December 06, 2013 No comments
picture source : https://www.oncewed.com/wp-content/uploads/2009/06/garden-wedding-reception-decor.jpg

Aku memandang ke luar jendela. Banyak orang di luar sana memakai outfit yang rapi. Laki-laki dengan jas dan para wanita dengan gaun putih yang elegan. Senyum mengembang dan tawa berderai memenuhi halaman dengan berbagai hiasan. Bunga yang menempel di pagar, musik yang mengalun dengan syahdu, atau pun makanan yang tersaji di meja panjang itu sama sekali tak bisa mengalihkan pandanganku pada satu hal. Sesosok lelaki dengan jas hitam yang sangat pas dipakainya. Ia terlihat berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang lebih tua. Membicarakan masa depan yang terkadang diselinginya dengan senyum yang membuatku lega.
Pertama kali aku bertemu dengannya di halaman ini juga, di sebuah pesta pernikahan saudara sepupuku tiga tahun yang lalu. Sama seperti yang dikenakannya hari ini, saat itu ia juga memakai jas, hanya saja dengan warna yang berbeda. Semenjak itulah kami lebih sering mengobrol.
Di halaman ini juga kami sering bertemu, mendiskusikan mimpi kami, tentang sekolah, cita-cita, pekerjaan, hingga pernikahan. Saat itu aku berpikir mungkin jodohku sudah dekat, mungkin. Ia adalah sosok yang paling nyaman untuk diajak ngobrol. Bercerita dengannya membuatku begitu lepas, tak ada beban, dan ia adalah pendengar –serta pemberi solusi yang sangat baik.
Aku selalu berharap bahwa dia lah yang akan memenuhi mimpiku. Mimpi sebagai seorang wanita. Mimpi sederhana yang menyempurnakan sebagian ibadah kami. Aku hanya berharap bahwa setiap kali aku membuka mata di pagi hari, yang kupandang hanyalah wajahnya, senyumnya yang begitu memikat. Senyum yang membuatku jatuh hati. Senyum menawan yang saat ini menghiasi wajahnya yang sangat berbahagia menyongsong pukul sepuluh pagi ini. Senyum yang akan lebih mengembang lagi ketika ia mengucapkan janji suci di hadapanku, di hadapan kami semua.
Aku hanya berharap, ia akan mengucapkan janji suci itu pada wanita yang tepat. Wanita yang saat ini sedang menuruni tangga dengan gaun pengantin panjang. Aku hanya berharap, wanita itu akan mendapatkan segala mimpi-mimpiku selama ini –mendapatkan kebahagiaan yang selalu aku dambakan hingga detik ini.
December 06, 2013 No comments
picture source : http://www.atjehtoday.com/media/articles/625.jpg
Setelah menamatkan dua novel dari Bang Ahmad Fuadi sebelumnya, Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, rasanya kurang afdhol jika tak menyelesaikan trilogi ini. Dan, well, jika kau sudah membaca keduanya pun kemungkinan besar sudah sangat penasaran dengan kelanjutan kisah Alif Fikri.

Setelah menyelesaikan studi di luar negeri dengan beasiswa yang didapatnya yang diceritakan di novel Ranah 3 Warna, Alif Fikri kemudian mulai melanjutkan hidupnya di tanah Indonesia tercinta. Alif kemudian menyelesaikan kuliahnya di Bandung dan bertekad mencari kerja.

Awalnya hidup Alif baik-baik saja mengingat ia sudah sering menulis di media massa dan mendapatkan honor yang cukup untuk hidupnya. Namun, setelah krisis moneter yang melanda Indonesia di zaman Soeharto, keadaan ekonomi Alif pun juga mulai goyah. Beberapa media massa yang seringkali memuat tulisannya mulai berkurang. Alif pun juga sempat mengalami anacaman debt collector setelah nekat mengambil uang dari kartu kredit dan belum bisa membayarnya.

Setelah berpuluh-puluh lamaran ia layangkan ke berbagai perusahaan, ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai seorang wartawan di majalah Derap, majalah yang pada saat itu berani mengungkap fakta tanpa tedeng aling-aling mengenai kondisi pemerintah Indonesia. Di sana lah ia kemudian berkenalan dengan Dhinara, seorang gadis yang juga berprofesi sebagai seorang wartawan baru.

Meski pun sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya di Derap, namun Alif berpikir mengenai pekerjaannya itu. Mendapat tantangan dari Randai membuat semangat Alif untuk melanjutkan kuliah di luar ngeri lagi kembali muncul. Ia, dibantu dengan Dhinara, saling membantu untuk belajar Bahasa Inggris dan TOEFL. Alif akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri kembali. Namun sebelum ia pergi, ia dirisaukan oleh sikap Dhinara yang mulai menjauh darinya.

Daaaan....... bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Dhinara selanjutnya?? Saya nggak mau spoiler di sini, jadi jika kalian tertarik untuk melanjutkan kisah mereka berdua yang jauh lebih menarik, segeralah berburu novel ini secepatnya yaa.... hehehehe :D

Jujur, saya mulai menyukai novel Bang Ahmad Fuadi setelah membaca novel yang kedua, Ranah 3 Warna. Dan sesuai harapan, novel ini memenuhi ekspektasi saya. Kereeen, dan sepertinya tambahan romansa cinta membuat para cewek yang membaca halaman 237-240 jadi melting deh kayaknya... so sweeett, guys, bener!!!


Semogaa.... saya bisa menulis novel yang keren seperti ini. Mengingat saya agak susah kalau disuruh menulis tentang kisah diri saya sendiri, sehingga novel ini benar-benar membuat saya kagum pada Bang Ahmad Fuadi yang dengan ceritanya tak membuat saya bosan membaca hingga akhir!
September 22, 2013 No comments
pic source : http://the-marketeers.com/wp-content/uploads/2012/10/bendera-indonesia.jpg
Kami masih duduk di tepi sungai ketika Bu Widya –satu-satunya guru di sekolah kami, berteriak nyaring memanggil murid-muridnya yang hanya berjumlah lima belas orang. Hari ini adalah hari istimewa, tepat tanggal 17 Agustus –aku baru saja menengoknya di kalender. Hebat bukan main, bukan, kemampuan membacaku. Aku masih duduk di kelas satu SD dan aku bangga akan hal itu.
Tak lama kemudian, kami sudah berbaris rapi menghadap tiang bambu yang berdiri kokoh di tengah halaman. Tiga orang yang berbadan lebih jangkung di antara kami berderap sigap membawa kain berwarna merah putih mendekati tiang itu.
Ketika sang pemimpin berkata dengan tegas, “Hormat, grak!”, kami mulai menyanyi dengan suara yang lantang.

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku


Hingga kata ‘raya’ bait terakhir, kami belum juga menurunkan tangan. Mataku masih menatap bendera merah putih yang berkibar di pucuk tiang dengan gagahnya. Jikalau banyak orang yang mengeluh untuk berdiri seperti ini, kami malah berharap bisa lebih lama berdiri untuk mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa demi bangsa ini. Ini adalah ucapan terima kasih kami untuk mereka yang telah memerdekakan Indonesia, yang tanahnya kupijak saat ini. Tanah surga di mana sekolah kami yang hampir roboh masih berdiri.
August 17, 2013 No comments
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates