facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts


Class Library, A Special Place For Students’ Books




Almost all students have their own books, but when they finish reading the books most of them just left them in the bookshelf or in the box and would not read them for a long period of time. In order to collect the books, there must be a special action. There are many ways to handle the problem, but the effective one is by making a class library.
Class library provides a special place for students’ books. The books provided in the class library will be more useful compared with the books stored in the students’ bookshelves. The books will get a big cahnce to be read. This way will make the books more useful by letting them read by other people.
The existance of many kinds of books will also motivate the students to read the book in their leisure time in the class. It means that the class library also plays role in  motivating the students to have a good habits by reading the books and spending their time for a useful thing.
The class library’s books can complete the books from the school library. We know that the books from the school library. We know that the books from the school library are often limited and the students should queque up to borrow the book. Because of that, the class library can complete the literatures, so the students will easily get the books or literatures.
Making a class library will need an administrator to manage the books. The administrator should be responsible and always notice the books borrowed by the other students. It will also train the students to be a good administrator. In addition, the students will be trained to make a good cooperation and relation among the students so that the class library can provide a lot of kinds of books.
Therefore, the students should have a good cooperation to make a class library so their books can be more useful for them and other people. Furthermore, the school should facilitate and encourage them so the making of class library can be realized.
October 27, 2012 No comments

Smile, please...



A smile costs nothing, but gives much. Some people think that a smile has no meaning and sometimes they ignore it. But even a smile looks so simple, it is so powerful. It can change a lot of things. There are soe reasons why smile is important.

Firstly, smiling makes us attractive. Many people are attracted to people who smiles. Frowns, scowls and grimaces all push people away, but a smile draws them in. When somebodies are smiling, they lighten up the room, change the moods of others, and make the other happier. The smiling persons bring happiness with them, and the happiness attract other people. So, if we want to be surrounded by many people or have many friends, relatives and colleagues, just put a smile on our face and we will feel the effect of this simple action.

Smiling is a natural drug. Studies have shown that smiling releases endorphins, natural pain killers and serotonin. Together these three make us feel good. Smiling also relieves stress, lowers our blood pressure and boosts our immune system. When we smile, immune function improves possibly because we are more relaxed, prevent the flu and colds by smiling. There is also a measurable reduction in our blood pressure. Moreover, smiling also makes us look younger. The muscles we use to smile lift the face, making a person appears younger.

Smile can be a compliment or a gratitude expression. Not only “thanks” or retainer, but a genuine smile also expresses our deepest gratitude too. This genuine smile is really valuable for those people who receive it.  They will feel happier because their work are appreciated well.

Base on those reasons, we can conclude that smile is important. So, just smile and we will feel its benefits.
August 16, 2012 No comments
Ayo ke Paris!

13 Sya’ban 1433 H, 7.30 pm





Sebelumnya saya ingin mengucapkan merci beaucoup pada mbak Hanum Salsabiela Rais dan mas Rangga Almahendra yang telah ikhlas meluangkan waktunya untuk menulis novel yang keren ini dan membagikan pengetahuannya tentang Islam di langit Eropa. Terimakasih juga saya sampaikan pada Iva Firdayanti yang telah ikhlas meminjamkan novelnya pada saya (kunjungi
http://ivafirdayanti.blogspot.com/). Dan yang terpenting, Allah Swt. yang telah memberi saya kesempatan untuk menambah ilmu pengetahuan saya di hari libur ini dengan berbagai cara, salah satunya dengan membaca “99 Cahaya di Langit Eropa” ini.

Saya tersadar, bulan yang bersinar malam ini, adalah bulan yang sama yang menyinari daratan Eropa beratus-ratus tahun yang lalu. Bulan ini juga yang menjadi saksi bahawa Islam pernah berjaya di Eropa (maaf nyontek, mbak Hanum!). Betapa saya takjub membaca kisah-kisah mbak Hanum. Kisah-kisah yang telah membuat saya tercengang, menyadari betapa ilmu pengetahuan saya masih perlu ditambah lagi. Perlu sekali.


Musse de Lovre



Galeri di Museum Louvre
Kisah-kisah perjalanan spiritual ini juga yang telah menginspirasi saya untuk pergi ke Paris, Cordoba, Granada, Istanbul dan berbagai wilayah lain di Eropa. Saya ingin mengunjungi Museum Louvre, museum dengan koleksi terlengkap di dunia. Di sanalah Lukisan Mona Lisa karya Leonardo Da Vinci disimpan. Saya ingin menaiki anak-anak tangga di sana, menelusuri lorong-lorong dan memasuki setiap gallery di sana. Saya ingin membaca huruf Kufic yang tertera di piring-piring kuno, memandangi Celestial Sphere-nya Yunus Ibn al Husayn al Asturlabi, dan membaca huruf Kufic lagi di lukisan Vierge a l’Enfant – The Virgin and the Child : Ugolino di Nerio 1315-1320 yang pada pinggiran hijab Bunda Maria itu bertahtakan kalimat tauhid Laa Ilaaha Illallah (pede, emang bisa baca??).


Vierge a l’Enfant


Arc de Triomphe du I’Etoile
Seine River
Saya juga ingin berdiri di bawah menara Eiffel, Arc de Triomphe du Carrousel, Arc de Triomphe du I’Etoile (yang mirip Simpang Lima Gumul itu, lhooo..), dan monumen Obelisk Mesir. Saya juga ingin berada di jalur lurus Air Mancur Besar, monumen Obelisk Mesir, jalan Champs-Elysees, dan monumen Arch de Triomphe yang searah Mekkah. Berada di Jalur Kemenangan-nya Napoleon Bonaparte. Voie Triomphale. This is it Axe Historique. Tak lupa, saya juga ingin berjalan di sepanjang sunga Seine dan mengabadikan berbagai tempat-tempat wisata tadi serta Gereja Notre Dame yang gerbangnya berbentuk kubah lengkung : seperti masjid.


Axe Historique

Champs Elysees

Arc de Triomphe du Carrousel
Notre Dame

Roti Croissant
Kalo lagi di Austria, saya pengen makan roti Croissant yang terkenal itu. Roti yang berbentuk bulan sabit namun menyimpan cerita memilukan. Lalu pada senja hari, saya akan menaiki bus menuju Kahlenberg dan mengagumi keindahannya. Tak bisa dibayangkan.

Kahlenberg




Al-Hambra
Selain ke tempat-tempat wisata di Paris dan Austria, saya juga akan pergi ke the True City of Lights, Cordoba. Berkunjung ke Mezquita, Masjid Katedral. Dahulunya masjid, namun sekarang berubah menjadi katedral. Dan di sana saya mungkin juga akan merasakan hal yang sama dengan mbak Hanum. Seharusnya Mezquita dijadikan museum saja. Sedangkan di Granada, saya akan mengunjungi Al-Hambra. Di Granada lah dinasti Islam terakhir mencoba bertahan di Spanyol.

Mezquita

Ornamen dalam Mezquita

Blue Mosque dan Hagia Sophia
Semoga saja bukan yang terakhir, ke Istanbul, Turki. Berziarah ke masjid indah yang pernah saya lihat di televisi dan saya langsung jatuh cinta padanya, Blue Mosque. Di sana juga saya ingin menunaikan sholat. Dan di depan Blue Mosque, saya akan mampir ke Hagia Sophia.


Blue Mosque

Hagia Sophia


Hagia Sophia

Namun, “Danke” lah yang telah membuat saya menyadari juga dimana letak titik nol perjalanan-perjalanan ini. Membaca pengalaman mbak Hanum menunaikan ibadah rukun islam terakhir : Haji. Saya ingin, benar-benar ingin.... suatu hari... saya bisa ke sana, pergi bersama orang-orang yang saya cintai, bersujud bersama jutaan muslim lain, di sebuah tempat yang menjadi kiblat sholat seluruh umat muslim di dunia. Semoga saja.... Amiiinn....

Ka'bah, Mekkah
The last but not the least, novel ini juga telah meningkatkan rasa syukur saya kepada Allah. Betapa kita, para muslim telah dilahirkan dalam keadaan bebas, bebas dalam menjalankan ibadah kita. Jika kita ingat, bahwa dahulu dalam kurun 10 tahun setelah Granada takluk, Isabella dan Ferdinand memerintahkan pembaptisan massal kepada seluruh penduduk –warga Spanyol, baik Islam maupun Yahudi. Mereka juga memaksa setiap warga untuk berjualan babi dan mendemonstrasikan makan babi di depan mereka. Astaghfirullahal’adzim... Wahai kaum muslimin, tunjukkanlah rasa syukur kita terhadap nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita selama ini....

So, itulah mimpi-mimpi, cita-cita, dan catatan saya setelah membaca “99 Cahaya di Langit Eropa”. Novel yang fantastis!

Danke

aHaba
July 08, 2012 3 comments

IBNU MAJID, SI SINGA LAUT
THE NAVIGATOR OF ISLAM



Nama lengkap beliau adalah Shihab ad-Din Ahmad bin Majid bin Muhammad bin Amir bin Duwayk bin Yusuf bin Husayn bin Abi Ma’lak as Sa’idi bin Abi ar-Raka’ib an-Najdi. Ia adalah seorang navigator ulung dan handal di abad 15 M. Kemampuan beliau diwarisi dari ayah dan kakeknya yang juga dikenal sebagai muallim dan ahli navigator yang sangat menguasai seluk-beluk Laut Merah.

Di jazirah Arab beliau dikenal dengan sebutan Ibnu Majid. Berkat kemampuannya, nama Ibnu Majid menjadi sangat tersohor hingga ke Eropa. Ia bahkan dijuluki Singa Laut, karena kemampuannya sebagai pelaut yang sangat tangguh dan paham terhadap seluk-beluk laut. Di pihak lain, orang Portugis menjulukinya dengan al-Malande atau al-Marante yang berarti “Raja Laut”. Menurut catatan Vasco da Gama, pelaut Arab ini memiliki kemampuan yang luar biasa. Menurutnya, Ibnu Majid pernah menolong dirinya menyelesaikan pelayarannya dari Tanjung Harapan di Afrika menuju India.
                   
Institut Studi Ketimuran Leningrad, menyimpan sebuah manuskrip kuno berbahasa Arab yang berisi tiga bait puisi karya Ibnu Majid. Diperkirakan puisi itu dibuat pada akhir abad 15 M dan permulaan abad 16 M. Tiga bait puisi tersebut berisi sejumlah petunjuk pelayaran, seperti pengetahuan tentang jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lain, perkiraan kecepatan dan arah angin, kondisi medan, serta berbagi kiat yang memudahkan pelayaran. Disamping itu, Ibnu Majid juga menyisipkan rute pelayaran yang melintasi Laut Merah, Samudera Hindia, dari berbagai kawasan yang berbeda. Dalam hal ini beliau telah menunjukkan kepiawaiannya sebagai ahli navigator (pelaut) handal. Tentunya manuskrip yang ditulisnya merupakan warisan penting bagi dunia pelayaran selanjutnya.

Konon, wilayah pesisir Afrika Barat sangat tertutup dan ditakuti oleh orang-orang Eropa. Sebab, pantai tersebut sangat menyeramkan dan penuh misteri, khususnya di seputar kawasan yang dilalui garis katulistiwa. Setiap kapal yang melewatinya pasti akan mengalami kesulitan, kecuali kapal tersebut dilengkapi layar besar yang berfungsi sebagai alat bantu pendorong. Bila ada kapal yang tidak dilengkapi dengan layar besar, para awaknya harus bekerja sama mendayung kuat-kuat agar kapal bisa berjalan kembali.

Bagi pelaut-pelaut Eropa khususnya, percaya pada mitos bahwa setiap kapal yang melintasi kawasan itu tidak akan pernah bisa kembali. Namun mitos itu akhirnya memudar pada tahun 1461 setelah pelaut Portugis melakukan perjalanan mengarungi laut dan samudera. Meskipun begitu, untuk membuktikan kalau mitos itu tidak benar, orang Portugis mengirim delegasi yang bernama Kopelhaem, memutuskan singgah untuk sementara waktu di kawasan Sokoth Selatan, semenanjung Arab. Selama berada disana, tanpa disengaja ia bertemu dengan Ibnu Majid. Di tempat inilah para petualang Portugis mendengar cerita kepulauan Madagaskar untuk pertama kalinya.

Sebagaimana disebutkan di atas bahwa Ibnu Majid adalah seorang navigator Arab terbesar abad pertengahan. Selain itu, beliau juga ahli di bidang pemetaan, astronomi, dan geografi. Di sepanjang hidupnya, beliau telah menghasilkan sejumlah karya yang memiliki peranan yang cukup penting. Karya-karyanya antara lain seperti : Qiladah Risalatisy wa Istikhraj Qawa’idil Usus lil Mu’allim Sulaiman al-Mahri (Untaian Surat-surat dan Kaidah-kaidah Dasar Sulaiman Mahri), Tahfatul Fuhul fi Tamhidil Ushul (Pengantar Dasar-dasar Ilmu Pelayaran), al-Umdatul Mahriyyah fi Dhabthil ‘Ulumil Bahriyyah (Pijakan al-Mahri dalam Meletakkan Ilmu Kelautan), al-Qashidah li Ibni Majid (Senandung Ibnu Majid), al-Qashidatul Musammah bil Mahriyyah, dan lain sebagainya. Belaiu juga merevisi karya sang ayah yang berjudul Al-Hijaziyyah. Setelah beliau meninggal, karyanya banyak diterbitkan ke dalam beragam bahasa termasuk bahasa Portugis. Sementara kini, karya-karya Ibnu Majid yang membahas dunia navigasi banyak tersimpan di museum di Paris.

Salah satu pembaca karya beliau adalah Ali Re’is, seorang navigator asal Turki. Di halaman pembuka karyanya, yang berjudul The Ocean, ia berkata bahwa karya-karya Ibnu Majid telah memberinya banyak tambahan ilmu pengetahuan terutama terkait dengan ilmu navigasi. Ia juga telah menemukan karya Ibnu Majid lainnya seperti Kitab al-Fawa’id dan Hawiyat al-Ikhtisar, ketika singgah di Basrah. Menurutnya, karya Ibnu Majid adalah panduan yang sangat berguna bagi pelaut yang ingin melayari Laut India dengan mudah. (Diceritakan oleh : Djoko Rabsodi)

(From MPA, October 2010)
May 26, 2012 No comments



Aurora is a phenomenon of light emmision flamming on the ionosfer. This phenomenon is formed because of heat from chunk of calestial body from the sun ejected by side of the earth pole. This aurora sprout making a beautiful and colorful three dimensional image in the sky and it can be seen just in the high latitude, Arctic and Antartic regions.
In northern latitudes, the effect is known as the Aurora Borealis or the northern lights, named after the roman goddes of dawn, Aurora, and the greek name for the north wind, Boreas. The array of colors in the Aurora Borealis consist of red, blue, violet and green. But red is the dominant color. Aurora Borealis happens between March-April and August-September-October. The northern light can be seen at around midnight. Aurora occur very high up in the atmosphere, but if there are clouds in the way we will not see anything.
While in the southern latitudes, the beautiful phenomenon is called Aurora Australis or the southern lights. This aurora occure in the Antartic skies in the winter and it can be seen in clear cold nights. The common colors of Aurora Australis are pale green and pink. The most comon shapes are spiral curtains, arcs or streamer. Actually, it has almost identical features to the Aurora Borealis but sometimes the Aurora Australis appears in the top mountain in tropical climate and is visible from high southern latitudes in Antartic, South America and Australia.
Instead all of this, there are also some mythologies about aurora. There are people call the northern ligths the “Dance of the Spirits”, it means, the lights were spirits or souls dancing in the sky. In Europe, in the middle ages, the auroras were commonly believed as a sign from God. And in ancient Roman mythology, aurora is the goddess of the dawn, renewing herself every morning to fly accross the sky, announcing the arrival of the Sun.


Although Aurora looks very elegant but during periods of high activity a single auroral storm can produce one trillion watts of electricity with a current of one million amps. It can also affects Earth’s communication. The activity phase of an auroral display will last on the order of 15-40 minutes and may recur in 2 to 3 hours.

May 15, 2012 No comments
        Tajamnya kerikil yang merata di jalanan tak mematahkan semangat para wanita di balik punggung Gunung Wilis ini untuk mewujudkan mimpi mereka. Mengisi hari hanya sebagai ibu rumah tangga atau dengan bekerja membantu suami di ladang yang sempit membuat kondisi ekonomi warga Dusun Dasun Desa Joho Kecamatan Semen Kabupaten Kediri ini tak menentu. Ujung-ujungnya, hutang adalah solusi. Kondisi itulah yang memunculkan inisiatif para kartini dari balik punggung Gunung Wilis untuk mengubah desanya, memunculkan suatu paguyuban yang dapat mengayomi seluruh warganya.
Bermula dari inisiatif ibu-ibu dari kelompok yang sudah ada sebelum didirikannya paguyuban, muncullah suatu media yang diharapkan dapat menampung aspirasi serta menyatukan mereka, Paguyuban Perempuan Sido Rukun. Melalui pendekatan secara pribadi serta sistem getok tular, Nurpiah, salah satu anggota paguyuban ini menuturkan bagaimana usahanya untuk menyampaikan informasi kegiatan sekaligus mengajak para warga bergabung ke dalam paguyuban ini. Nurpiah juga memanfaatkan kesempatan ketika para warga mengambil sembako di rumahnya untuk berdiskusi serta menyampaikan informasi kegiatan yang mungkin dapat dilakukan untuk meningkatkan perekonomian mereka. Hal inilah yang membuat paguyuban yang semula hanya beranggotakan 25 orang itu semakin berkembang dan menambah anggotanya menjadi 40 orang.
Keberhasilan yang mereka capai saat ini pun harus disyukuri. Pengadaan Taman Pendidikan Alquran (TPA) di Dasun sangat perlu dikembangkan. Melalui pendidikan religi ini, diharapkan generasi muda Dusun Dasun dapat memperoleh pengetahuan umum maupun agama sebagai bekal untuk membangun dusun mereka untuk menjadi lebih baik di masa yang akan datang.
Selain di bidang religi, peningkatan ekonomi juga dilakukan dengan berdirinya Koperasi Simpan Pinjam Sido Makmur. Kehadiran koperasi ini sangat membantu para warga yang sedang kesulitan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Tingkat bunga yang rendah membuat para warga tak lagi ambil pusing untuk mencari tempat pinjaman uang serta menghindarkan diri mereka dari ancaman para lintah darat. Hal tersebut benar-benar menguntungkan bagi para warga yang semula hanya mengandalkan panen ini.
Usaha keripik pisang merupakan salah satu penerapan program UKM di Dusun Dasun. Selain dapat menambah pendapatan, proses pembuatan keripik pisang yang dilakukan bersama-sama dapat meningkatkan rasa kebersamaan di antara para ibu dusun ini. Tak hanya beredar di sekitar desa, produk yang mereka hasilkan kini telah merambah ke kota. Tak kalah dengan usaha keripik pisang, program UKM yang sukses dilaksanakan yakni ternak kambing. Dikelola secara langsung oleh para masyarakat, ternak kambing ini juga merupakan hal yang sangat efektif membantu peningkatan ekonomi para warga Dusun Dasun.
Keyakinan serta keinginan yang kuat dari para anggota Paguyuban Perempuan Sido Rukun ini membuat hambatan-hambatan yang menghadang jalan mereka dapat ditembus secara perlahan tapi pasti. Kekhawatiran yang pernah dirasakan oleh para aparat desa terhadap kegiatan yang mereka lakukan pun juga dapat diatasi dengan kejujuran dan prinsip yang mereka pegang teguh, yakni mereka merasa hal tersebut tidak mengganggu orang lain dan kegiatan yang mereka lakukan memang benar.
Kegiatan yang mereka lakukan menimbulkan berbagai pandangan dan respon dari warga masyarakat. Beberapa warga yang tidak mau bergabung karena takut kegiatan yang dilakukan akan gagal memang membuat para anggota paguyuban tidak nyaman. Namun para kartini ini mengatasinya dengan menyampaikan tujuan awal dari paguyuban tersebut. Sebaliknya, semangat akan muncul bagi warga yang mau bergabung dan percaya bahwa paguyuban ini akan sukses dan membawa perubahan bagi mereka. Dengan semangat yang mereka miliki, mereka berusaha untuk meningkatkan paguyuban ini lebih baik dari berbagai bidang.
Nurpiah berharap dengan didirikannya Paguyuban Perempuan Sido Rukun ini para warga dapat menambah pengetahuan, pengalaman serta meningkatkan ekonomi mereka. Sedangkan Sulastri, ketua Paguyuban Perempuan Sido Rukun berharap paguyuban yang mereka dirikan tidak akan mengalami penurunan pada tahun-tahun berikutnya.
Para Kartini kini sudah kembali muncul, tak hanya berjuang meningkatkan pendidikan, tapi juga perekonomian dari seduah dusun kecil di balik punggung Gunung Wilis, Dasun. Mereka tak menyangka bahwa lulusan SD dapat melakukan hal sebesar ini. Diteguhkannya deklarasi oleh para pengurus paguyuban akan menguatkan semangat untuk membangun desa mereka menuju desa sejahtera, desa impian para warga.
April 29, 2012 No comments

Zendagi Migzara

Judul                 : The Kite Runner
Pengarang      : Khaled Hosseini
Penerjemah  : Berliani M. Nugrahani
Penerbit          : Qanita
Tahun terbit  : 2003

Zendagi Migzara. Kehidupan terus berjalan. Mengisahkan persahabatan antara Amir dan Hassan. Hassan adalah seorang anak pelayan keluarga Amir, namun mereka berdua saling menyayangi. Hassan memberikan segala kasih sayang serta kesetiaannya pada Amir, begitu juga dengan Amir. Mereka berdua bermain bersama, membaca kisah Shahnamah bersama di bawah pohon di puncak bukit –Amir yang membacakannya untuk Hassan, karena Hassan tak dapat membaca- dan mengejar layang-layang. Tak jarang, ketika Amir diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal, Hassan lah yang mengusirnya. Ayah Amir –yang mereka sebut Baba- sangat menyayangi mereka berdua, namun Amir merasa sangat sulit untuk mendapatkan kebanggaan ayahnya sendiri untuk dirinya. Hingga pada suatu hari Amir mengikuti turnamen layang-layang, dan apabila ia menang ia bisa mendapatkan apa yang selama ini diinginkan dari ayahnya, suatu kebanggaan pada anaknya. Dan memang, ia berhasil memutuskan layang-layang yang berada di sampingnya. Hassan dan Amir sangat senang, Hassan  mengatakan pada Amir bahwa ia akan membawa layang-layang yang telah berhasil ditumpaskan Amir untuknya, “Untukmu, keseribu kalinya”. Namun saat Amir mencari Hassan yang tak kunjung kembali, semua keadaan mulai berubah. Amir melihat Hassan sedang dikerumuni oleh tiga anak lelaki nakal yang sangat disegani di wilayahnya. Hassan mendapat perlakuan yang tidak senonoh, Amir melihatnya, namun ia tak berani melakukan apa pun, ia melihat segalanya, namun ia tetap diam terpaku, dan ia pun pergi. Sejak itu, persahabatan mereka mulai merenggang. Amir yang tak tahan akhirnya memfitnah Hassan dan ayahnya agar mereka keluar dari rumahnya dan berharap kehidupannya akan kembali tenang setelah mereka pergi. Akhirnya Hassan dan ayahnya keluar dari rumah, meninggalkan Amir dalam duka, penyesalan, dan ketidaktenangan selama bertahun-tahun. Akankah Amir menemukan kebahagiaan yang kelak menyapu kesedihannya di tengah belantara puing di kota Kabul? Dapatkah Amir mendapat maaf dari sahabatnya, Hassan, setelah mengkhianatinya? 
The kite runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Buku ini bahkan telah menjadi best seller di New York, Amerika, dan telah difilmkan pada tahun 2007 lalu. Jadi, bagi kamu para penggila buku dan ingin menjadi salah satu pembaca buku best seller dunia ini, jangan kelewatan untuk membacanya.
April 21, 2012 2 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates