facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts

Disclaimer: Let me introduce you to the new hero and heroine: Agha and Afrina. I’m writing this continual and based-on-my-mood flashfiction in order to improve my writing ability. So, I would be very happy if you correct my grammar or the word use. Just comment below and tell me the correct ones. Happy reading and don’t forget to leave your opinion!



I was just glad it would be the last day of student orientation. It had been three exhausting days. Although tomorrow we would still have another event, well, it’s okay for knowing it was going to end soon.
I discussed with the other friends of my group for tomorrow’s preparation. While we were busy talking to each other, the committee asked for attention because there were some students who had not gotten their group yet. I noticed a girl wearing a head craft spoke a little bit nervous on the stage. Nothing interesting from her but her smile was so heart-warming.
“Be serious, boy!” Kamal standing next to me exclaimed. I turned back to the topic we discussed after spending a whole minute staring at her.

***

Kamal was higher than me so I stood right behind him, two from the first row in this opening ceremony. As a boy, I knew Kamal included to those who had good looking appearances. This term, destiny chose us to become classmates. I bet he would be a best friend of mine after having amusing days in the collage orientation with him.
While delivering some materials, the dean asked us to sit on the ground. I turned back to examine the situation and suddenly a girl sitting a few meters behind me absorbed my focus. She was the one who was on the stage looking for her group. Clearly I could see her doing something. She was writing the material in her notes. Knowing her doing so, somehow it challenged me. I opened my bag, took my notes, and started writing. Then I wondered, she did nothing to me but her activity couraged me to do so. It seemed I did not want to be defeated, but from what? Writing a note? Hey, who are you?


-Agha
June 29, 2014 No comments

picture source: http://freehdwalls.net
Disclaimer: Let me introduce you to the new hero and heroine: Agha and Afrina. I’m writing this continual and based-on-my-mood flashfiction in order to improve my writing ability. So, I would be very happy if you correct my grammar or the word use. Just comment below and tell me the correct ones. Happy reading and don’t forget to leave your opinion!

After three days joining the tiring orientation, it was the time for me to face the last sequence, Student Day. The day before, I was very confused because my name was not on the list. Some students and I –whose name were not mentioned, should come forward in front of all the new students and spell the name as clear as possible but it just found out there was no group having my name on their list. Finally, right before we went home the committee handled it and I was grouped into Ocean’s group.
It took place in the parking lot of the faculty. Each grouped consisted of about ten students and we made a vertical line. On the right side of my group was that of The Moon. When we were having an opening ceremony, separated two people in front of me from the group on my right side, a boy with crew cut hair caught my attention. He was the boy who would be in the same class with me this term. In my opinion, he looks smart. Unfortunately I could not remember his name.
For a long time, I tried to figure out his name. It was rather difficult for me to read the name tag. Oh, well, why should I focus all of my attention to him? I guess he had a magic, -yeah of course not.
“What are you doing? I’m getting bored.” Laila who sat in front of me asked calmly.
“Hey, do you remember? He will be in the same class with us, won’t he?” I asked innocently to her when I realized we would be in the same class, too. She must have known him instead.
“Who?” she enquired.
I pointed at him. He did not know of course because he was focusing his eyes and –maybe his mind too, to the dean’s speech.
“Agha,” Laila commented.
I made an ‘Aah..’ respond.
“He’s cute, huh?” She rather made an opinion than asked.
“Well, that’s what we both of two think now,” I smiled interestingly. Getting an answer sometimes is a lot easier if we know the right person to ask for.


-Afrina
June 28, 2014 No comments
picture source: http://freehdwalls.net/

Let me clear you something, my dear friend.

You asked me who the one that dare enough to steal my heart is. So here is the answer.

He was in the same class with me for a year and now our class is just in the opposite way. We keep in touch to make our friendship last forever but I often do hope that our relationship will be more than just a friend. We frequently study together and discuss a lot of things, included some unimportant and silly stuff that made us laugh out loud. We hang out every other day to refresh our mind because of those unpredictable subjects and end the week by exploring the city with culinary session. Spending a day with him is just another thing that made me realize that life is so wonderful.

That adorable boy, I’m sure you know him better than me because it’s you, Azra. The one who cares me not more than as a brother –you told me all the time.


It’s you, my best friend ever whom I fall in love with, Azra.
May 22, 2014 No comments

First of all, saya bener-bener minta maaf sama mbak Luluk Indryas Mufida dan Iva Firdayanti karena nggak bisa memenuhi harapan kita buat nonton bareng film ini. Maaf yaa... L Yang kedua, saya sangat berterima kasih sekali kepada teman-temanku Flo, Widi, Nuril, Mega, Lia, dan Priska yang sudah mau menemani saya buat nonton. Maaf banget kalau aku kesannya ‘maksa’, bukannya ‘ngajak’ ketika mau nonton ini. Maaf juga karena telat dateng ke bioskop, sorry sorry sorry... :3

Tapi... kalian puas, kan, nonton ini?? Atau mungkin, sedikit kecewa sama seperti saya? Well, I really hope that we enjoyed and got the point of this movie guys...

Nonton film ini, gimana yaa... semakin membuat saya dan orang-orang yang punya mimpi buat keluar negeri tambah pengen keluar negeri dan membuat orang-orang yang udah keluar negeri pengen balik ke sana, gitu nggak sih?? Errr...

Kisahnya diawali ketika Hanum dan Rangga sudah berada di Eropa. Untuk mengusir kebosanan Hanum yang sendirian di apartemen tatkala ditinggal Rangga untuk kuliah, Hanum akhirnya mengikuti les bahasa Jerman. Pada saat les itu, ia bertemu dengan Fatma Pasha yang kemudian membawanya menemukan titik-titik cahaya di benua itu. Bersama Fatma dan Ayse (putri Fatma), ia pun mulai menjelajahi berbagai tempat di Eropa. Bersama mereka, Hanum juga belajar bagaimana sikap untuk menjadi agen muslim yang baik, khususnya di negara yang muslimnya menjadi minoritas.

Kisahnya sih, nggak banyak melenceng dari buku, ehm, well, sebenernya sih saya aja yang lupa bagaimana detailnya di novel, hehe. Maklumlah, sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya membacanya. Tapi yang jelas, ada beberapa hal yang pengen banget saya komentarin setelah saya menonton film ini.

Dari segi positif, two thumbs up deh karena you know, settingnya itu di luar negeri semua woy! Serasa jalan-jalan di luar negeri gitu, atau nonton tayangan travelling edisi luar negeri. Nggak henti-hentinya saya kagum sama pemandangan dan nggak henti-hentinya juga saya ‘nggremeng’: “Aku pengen kesana” atau sekadar “kereenn” atau, “pengeeeen...” sambil memasang wajah melas menarik-narik lengan jaket Flo... hiks hiks... Selain itu, adanya dialog cerdas dan menggelitik tak urung membuat kami tertawa atau pun ‘jleb’ di hati. Dakwah lewat film tuh ya kayak gini nih, kereeen....

Selanjutnya, the troubles. Satu yang sangat saya sayangkan adalah, ketika Hanum, Fatma, dan Ayse pergi ke Bukit Kahlenberg. Saya masih ingat betul cerita di novel bahwa mereka bertiga ke sana ketika hari menjelang malam. Ketika saya menulis review novel ini dulu, saya sampai bela-belain nyari foto bukit Kahlenberg ketika malam karena di novel itu digambarkan keindahan lampu-lampu yang indah ketika malam hari yang dilihat dari bukit Kahlenberg. Sayangnya, di film ini diceritakan bahwa mereka bertiga pergi ke sana ketika siang. Bagus sih pemandangannya saat siang. Keren. Tapi, kayaknya bakalan keren lagi kalo malam hari deh...

Kemudian, di tengah-tengah cerita, muncul subtitle yang salah posisi. Maksudnya, subtitlenya muncul di saat yang tidak tepat, bukan di scene yang tepat. Nah, hal ini membuat saya sebagai penonton merasa bingung karena harus fokus pada gambar yang tidak relevan dengan subtitle atau ngotot baca subtitlenya karena takutnya nanti di saat scene yang harusnya ada subtitlenya ini malah subtitlenya nggak muncul. Bingung dengan kalimat saya? Ya gitu lah pokoknya.

Namun, yang paling nggak enak di hati adalah, sesaat setelah subtitle yang salah posisi itu, muncul pula subtitle berisi keterangan ‘Coming Soon’. Hey, wait, wait, wait... yang bener aja.. Nggak mungkin juga kan ada subtitle yang pake bahasa inggris nantinya... Saya pun langsung sadar, nih film bakalan ada part dua nya... Yang bener aja! Saya udah nunggu film ini lama, dan nggak ada pikiran sama sekali kalo harus nunggu kisahnya tamat di lain hari. Hey! Nggak ada pemberitahuan sama sekali pula di jejaring sosial. Setelah kejadian subtitle ‘Coming Soon’ itu, saya pun jadi mencak-mencak sendiri di bioskop. Haduh, nasib anak kos nih ya kayak gini. Udah nekat nyisakan uang buat nonton film ini, yang saya pikir bakalan dapat ‘ending’ saat itu juga, ternyata harus nabung lagi buat nontong yang part dua. Well, it’s so surprising ladies and gentlemen. Tak ada kabar mengenai tanggal penayangan yang part dua pula... Heuh...

Okay, enough! Overall, saya sukaaa bangeeet sama film ini. Kalau dipikir-pikir sih, emang bakalan lebih bagus kalau panjang, dijadikan dua part sih nggak papa. Tapi ya, kenapa nggak dikasih pemberitahuan sebelumnya? Sekali lagi, film ini keren! Can’t wait to watch the rest of the stories...

-Jadilah agen muslim yang baik!-

P.S.

*Mbak In dan Iva, kalau kamu duduk di sampingku waktu nonton film ini, kita bakalan ‘hurig’ sendiri nonton adegan ketika Hanum dan Rangga jalan-jalan berdua atau waktu sholat bareng... hoho
*Setelah nonton ini kami menyempatkan diri buat makan bareng... No need to say saya beli makan apa, kalian tahulah... ;) (nggak penting)
December 06, 2013 No comments
picture source : https://www.oncewed.com/wp-content/uploads/2009/06/garden-wedding-reception-decor.jpg

Aku memandang ke luar jendela. Banyak orang di luar sana memakai outfit yang rapi. Laki-laki dengan jas dan para wanita dengan gaun putih yang elegan. Senyum mengembang dan tawa berderai memenuhi halaman dengan berbagai hiasan. Bunga yang menempel di pagar, musik yang mengalun dengan syahdu, atau pun makanan yang tersaji di meja panjang itu sama sekali tak bisa mengalihkan pandanganku pada satu hal. Sesosok lelaki dengan jas hitam yang sangat pas dipakainya. Ia terlihat berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang lebih tua. Membicarakan masa depan yang terkadang diselinginya dengan senyum yang membuatku lega.
Pertama kali aku bertemu dengannya di halaman ini juga, di sebuah pesta pernikahan saudara sepupuku tiga tahun yang lalu. Sama seperti yang dikenakannya hari ini, saat itu ia juga memakai jas, hanya saja dengan warna yang berbeda. Semenjak itulah kami lebih sering mengobrol.
Di halaman ini juga kami sering bertemu, mendiskusikan mimpi kami, tentang sekolah, cita-cita, pekerjaan, hingga pernikahan. Saat itu aku berpikir mungkin jodohku sudah dekat, mungkin. Ia adalah sosok yang paling nyaman untuk diajak ngobrol. Bercerita dengannya membuatku begitu lepas, tak ada beban, dan ia adalah pendengar –serta pemberi solusi yang sangat baik.
Aku selalu berharap bahwa dia lah yang akan memenuhi mimpiku. Mimpi sebagai seorang wanita. Mimpi sederhana yang menyempurnakan sebagian ibadah kami. Aku hanya berharap bahwa setiap kali aku membuka mata di pagi hari, yang kupandang hanyalah wajahnya, senyumnya yang begitu memikat. Senyum yang membuatku jatuh hati. Senyum menawan yang saat ini menghiasi wajahnya yang sangat berbahagia menyongsong pukul sepuluh pagi ini. Senyum yang akan lebih mengembang lagi ketika ia mengucapkan janji suci di hadapanku, di hadapan kami semua.
Aku hanya berharap, ia akan mengucapkan janji suci itu pada wanita yang tepat. Wanita yang saat ini sedang menuruni tangga dengan gaun pengantin panjang. Aku hanya berharap, wanita itu akan mendapatkan segala mimpi-mimpiku selama ini –mendapatkan kebahagiaan yang selalu aku dambakan hingga detik ini.
December 06, 2013 No comments
picture source : http://www.atjehtoday.com/media/articles/625.jpg
Setelah menamatkan dua novel dari Bang Ahmad Fuadi sebelumnya, Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, rasanya kurang afdhol jika tak menyelesaikan trilogi ini. Dan, well, jika kau sudah membaca keduanya pun kemungkinan besar sudah sangat penasaran dengan kelanjutan kisah Alif Fikri.

Setelah menyelesaikan studi di luar negeri dengan beasiswa yang didapatnya yang diceritakan di novel Ranah 3 Warna, Alif Fikri kemudian mulai melanjutkan hidupnya di tanah Indonesia tercinta. Alif kemudian menyelesaikan kuliahnya di Bandung dan bertekad mencari kerja.

Awalnya hidup Alif baik-baik saja mengingat ia sudah sering menulis di media massa dan mendapatkan honor yang cukup untuk hidupnya. Namun, setelah krisis moneter yang melanda Indonesia di zaman Soeharto, keadaan ekonomi Alif pun juga mulai goyah. Beberapa media massa yang seringkali memuat tulisannya mulai berkurang. Alif pun juga sempat mengalami anacaman debt collector setelah nekat mengambil uang dari kartu kredit dan belum bisa membayarnya.

Setelah berpuluh-puluh lamaran ia layangkan ke berbagai perusahaan, ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai seorang wartawan di majalah Derap, majalah yang pada saat itu berani mengungkap fakta tanpa tedeng aling-aling mengenai kondisi pemerintah Indonesia. Di sana lah ia kemudian berkenalan dengan Dhinara, seorang gadis yang juga berprofesi sebagai seorang wartawan baru.

Meski pun sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya di Derap, namun Alif berpikir mengenai pekerjaannya itu. Mendapat tantangan dari Randai membuat semangat Alif untuk melanjutkan kuliah di luar ngeri lagi kembali muncul. Ia, dibantu dengan Dhinara, saling membantu untuk belajar Bahasa Inggris dan TOEFL. Alif akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri kembali. Namun sebelum ia pergi, ia dirisaukan oleh sikap Dhinara yang mulai menjauh darinya.

Daaaan....... bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Dhinara selanjutnya?? Saya nggak mau spoiler di sini, jadi jika kalian tertarik untuk melanjutkan kisah mereka berdua yang jauh lebih menarik, segeralah berburu novel ini secepatnya yaa.... hehehehe :D

Jujur, saya mulai menyukai novel Bang Ahmad Fuadi setelah membaca novel yang kedua, Ranah 3 Warna. Dan sesuai harapan, novel ini memenuhi ekspektasi saya. Kereeen, dan sepertinya tambahan romansa cinta membuat para cewek yang membaca halaman 237-240 jadi melting deh kayaknya... so sweeett, guys, bener!!!


Semogaa.... saya bisa menulis novel yang keren seperti ini. Mengingat saya agak susah kalau disuruh menulis tentang kisah diri saya sendiri, sehingga novel ini benar-benar membuat saya kagum pada Bang Ahmad Fuadi yang dengan ceritanya tak membuat saya bosan membaca hingga akhir!
September 22, 2013 No comments
pic source : http://the-marketeers.com/wp-content/uploads/2012/10/bendera-indonesia.jpg
Kami masih duduk di tepi sungai ketika Bu Widya –satu-satunya guru di sekolah kami, berteriak nyaring memanggil murid-muridnya yang hanya berjumlah lima belas orang. Hari ini adalah hari istimewa, tepat tanggal 17 Agustus –aku baru saja menengoknya di kalender. Hebat bukan main, bukan, kemampuan membacaku. Aku masih duduk di kelas satu SD dan aku bangga akan hal itu.
Tak lama kemudian, kami sudah berbaris rapi menghadap tiang bambu yang berdiri kokoh di tengah halaman. Tiga orang yang berbadan lebih jangkung di antara kami berderap sigap membawa kain berwarna merah putih mendekati tiang itu.
Ketika sang pemimpin berkata dengan tegas, “Hormat, grak!”, kami mulai menyanyi dengan suara yang lantang.

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku


Hingga kata ‘raya’ bait terakhir, kami belum juga menurunkan tangan. Mataku masih menatap bendera merah putih yang berkibar di pucuk tiang dengan gagahnya. Jikalau banyak orang yang mengeluh untuk berdiri seperti ini, kami malah berharap bisa lebih lama berdiri untuk mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa demi bangsa ini. Ini adalah ucapan terima kasih kami untuk mereka yang telah memerdekakan Indonesia, yang tanahnya kupijak saat ini. Tanah surga di mana sekolah kami yang hampir roboh masih berdiri.
August 17, 2013 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates