facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts


Zendagi Migzara

Judul                 : The Kite Runner
Pengarang      : Khaled Hosseini
Penerjemah  : Berliani M. Nugrahani
Penerbit          : Qanita
Tahun terbit  : 2003

Zendagi Migzara. Kehidupan terus berjalan. Mengisahkan persahabatan antara Amir dan Hassan. Hassan adalah seorang anak pelayan keluarga Amir, namun mereka berdua saling menyayangi. Hassan memberikan segala kasih sayang serta kesetiaannya pada Amir, begitu juga dengan Amir. Mereka berdua bermain bersama, membaca kisah Shahnamah bersama di bawah pohon di puncak bukit –Amir yang membacakannya untuk Hassan, karena Hassan tak dapat membaca- dan mengejar layang-layang. Tak jarang, ketika Amir diganggu oleh sekelompok anak-anak nakal, Hassan lah yang mengusirnya. Ayah Amir –yang mereka sebut Baba- sangat menyayangi mereka berdua, namun Amir merasa sangat sulit untuk mendapatkan kebanggaan ayahnya sendiri untuk dirinya. Hingga pada suatu hari Amir mengikuti turnamen layang-layang, dan apabila ia menang ia bisa mendapatkan apa yang selama ini diinginkan dari ayahnya, suatu kebanggaan pada anaknya. Dan memang, ia berhasil memutuskan layang-layang yang berada di sampingnya. Hassan dan Amir sangat senang, Hassan  mengatakan pada Amir bahwa ia akan membawa layang-layang yang telah berhasil ditumpaskan Amir untuknya, “Untukmu, keseribu kalinya”. Namun saat Amir mencari Hassan yang tak kunjung kembali, semua keadaan mulai berubah. Amir melihat Hassan sedang dikerumuni oleh tiga anak lelaki nakal yang sangat disegani di wilayahnya. Hassan mendapat perlakuan yang tidak senonoh, Amir melihatnya, namun ia tak berani melakukan apa pun, ia melihat segalanya, namun ia tetap diam terpaku, dan ia pun pergi. Sejak itu, persahabatan mereka mulai merenggang. Amir yang tak tahan akhirnya memfitnah Hassan dan ayahnya agar mereka keluar dari rumahnya dan berharap kehidupannya akan kembali tenang setelah mereka pergi. Akhirnya Hassan dan ayahnya keluar dari rumah, meninggalkan Amir dalam duka, penyesalan, dan ketidaktenangan selama bertahun-tahun. Akankah Amir menemukan kebahagiaan yang kelak menyapu kesedihannya di tengah belantara puing di kota Kabul? Dapatkah Amir mendapat maaf dari sahabatnya, Hassan, setelah mengkhianatinya? 
The kite runner adalah sebuah kisah penuh kekuatan tentang persaudaraan, kasih sayang, pengkhianatan, dan penderitaan. Khaled Hosseini dengan brilian menghadirkan sisi-sisi lain Afghanistan, negeri indah yang hingga kini masih menyimpan duka. Buku ini bahkan telah menjadi best seller di New York, Amerika, dan telah difilmkan pada tahun 2007 lalu. Jadi, bagi kamu para penggila buku dan ingin menjadi salah satu pembaca buku best seller dunia ini, jangan kelewatan untuk membacanya.
April 21, 2012 2 comments
                   Judul                                 : Menjadi Manusia Sempurna
Judul Asli                         : Al-Mawani al-Kamal
Penulis                              : Tim Dar al-Islamiyah
                                           (Beirut, Libanon)
Penerjemah                       : Ahmad Fuad al-Hadi
Penerbit                            : Penerbit Cahaya, Bogor
Cetakan                            : 1, tahun 2004
Tebal Buku                       : 0,7 cm
Jumlah Halaman               : xi + 140

Sebenarnya, mengapa Allah menciptakan kita? Mengapa sebagian besar manusia tidak sampai kepada Allah? Apakah hijab itu? Dan bagaimana cara mengatasinya? Buku berjudul “Menjadi Manusia Sempurna” yang ditulis oleh seorang ulama bersahaja namun sangat mumpuni di bidangnya ini memang tidak dimaksudkan untuk mengajari Anda tentang bagaimana menjadi manusia sempurna itu. Beliau “hanya” mengetuk kesadaran kita untuk secara jujur mengenali kelemahan dan kekurangan diri kita, menuju Kesempurnaan tak bertepi.
Manakala manusia merenung, dia akan menyadari bahwa pada awal penciptaan dirinya telah dilengkapi Tuhan dengan berbagai kebutuhan. Dalam kehidupannya, manusia akan berusaha mencari kesempuraan mutlak, dan itu adalah Allah Swt. Jika kita mau berfikir dan merenungkan penciptaan-Nya, maka kita akan beroleh tujuan agung dan mulia, yaitu perjumpaan dengan Dia Sang Pencipta. Dia telah membekali hambaNya dengan berbagai keperluan agar dapat mencapai tujuan yang senantiasa diusahakan hambaNya. Juga memudahkan jalan tersebut bagi hamba-Nya. Karenanya, mengapakah seseorang tidak sampai kepada Allah Swt dan hanya segelintir manusia sajalah yang akhirnya mencapai Tuhannya?
Allah Swt telah menciptakan manusia dalam keadaan yang sama dan memungkinkan hambaNya itu untuk sampai kepadaNya. Akan tetapi sebagian besar diantara mereka tidak mampu menggapainya lantaran mereka berbeda dalam mengembangkan setiap potensi yang ada. Saat manusia mengikuti seruan setan, lenyaplah sedikit demi sedikit potensi yang diberikan Allah Swt kepadanya. Adapun orang-orang yang mengikuti seruan Allah Swt sesungguhnya mereka tergolong sebagai orang-orang yang berbahagia di akhirat nanti.
Sebuah cermin menyerupai jiwa seseorang. Agar memantulkan gambar dengan jelas, a harus dalam keadaan bersih dari kotoran yang menempel. Begitui pula hati, seseorang selayaknya menghilangkan tirai dan penghalang yang merintanginya, sehingga mampu menerima karunia Ilahi.
Selamanya, tidak akan ada yang mampu menggantikan fitrah, baik itu adat ataupun perkembangan zaman dan teknologi. Sebab, fitrah manusia hanya merindukan “kesempurnaan mutlak”. Apabila fitrah manusia senantiasa mengajak manusia mencapai kesempurnaan mutlak, maka akal menjelaskan kepada umat manusia jalannya serta menyingkapkan kepada mereka segala bentuk marabahaya dan menerangkan pula akan adanya dua jalan; jalan keburukan dan jalan ketakwaan. Berbagai penyakit batin atau hati yang menimpa umat manusia, adalah hal yang berbahaya karena hal itu sampai pada taraf mampu mematikan akal seseorang, seperti sifat sombong. Amal paling penting yang dapat membantu seseorang mendapatkan akal dan kembali kepada fitrahnya adalah senantiasa berpegang dan berhubungan dengan alam non-materi; alam spiritual.
Hijab (tirai) kelalaian termasuk hijab yang sangat personal sekali sifatnya dan sangat penting; hijab yang menyebabkan teralihkannya perhatian seseorang menuju Rabb al-‘Alamin. Seseorang yang lalai dapat mencapai fase dimana dia tidak dapat melihat dirinya sendiri dalam kesalahan. Sebab-sebab kelalaian itu adalah cinta dunia, hawa nafsu dan pergaulan dengan orang-orang fasik dan zalim. Cara mengobati kelalaian adalah dengan memahami tujuan hidup, mengingati kematian, sering membaca al-Qur’an dan berteman dengan orang-orang bijak.
Ketaatan merupakan gambaran kedekatan kepada Allah Swt dan tercapainya kebahagiaan hakiki, sedangkan maksiat merupakan gambaran keluarnya seseorang dari wilayah kedekatan dan rahmat ilahiah, serta perlawanan terhadap kemurkaan Tuhan. Tidak ada perbedaan antara dosa kecil dan dan dosa besar. Kedua-duanya sama-sama menghalangi seseorang untuk beralih faidh (anugrah) Ilahi, meskipun dosa besar lebih berbahaya ketimbang selainnya.
Allah Swt bergembira dengan taubat seorang hamba-Nya yang mukmin, lantaran telah kembalinya seseorang kepada-Nya. Sesungguhnya, taubat merupakan salah satu nikmat Ilahi terbesar yang telah diberikan Allah Swt kepada umat Muhammad Saw dan hal itu merupakan bukti dan argumentasi tak terbantahkan atas luasnya rahmat Tuhan dan kasih sayang-Nya yang tak bertepi serta kecintaan-Nya terhadap hamba-hambaNya. Taubat yang tulus dilakukan dengan segenap ketulusan dan keikhlasan kepada Tuhan semata.
Salah satu penghalang terbesar yang menyebabkan terhentinya manusia pada tabir perjalanan ruhani menuju Tuhannya adalah berbagai pemikiran salah yang menjadi keyakinan, kehidupan dan suluknya, yang dibangun diatas dasar keyakinan yang salah pula. Salah satu tanda kebodohan adalah menyangkali segala sesuatu yang belum diketahui hakikat dan pengetahuannya. Asal-muasal semua itu adalah kebodohan dan minimnya pengetahuan. Ini merupakan hal yang sangat menjauhkan orang-orang dari hakikat keberadaan dan untuk beroleh anugrah Ilahi yang sesungguhnya. 
Untuk mengobati hijab pemikiran sesat dan bathil adalah dengan mengakui kesalahan pemikiran dan keyakinan masa lalu yag sesat, menuntut ilmu dan mempelajari berbagai hukum Islam, bertukar pikiran untuk menjauhkan diri dari fanatisme, meninggalkan ketergesaan dan memohon pertolongan melalui jalur spiritual.
Dalam buku ini banyak terdapat hadits dan ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan materi yang sedang dibahas. Sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan kita serta menjadikan pelengkap dalam materi.
Namun, ketika membaca buku ini, kita akan sering menjumpai kosakata asing yang mungkin belum kita ketahui. Dan kosakata ini sering diulang dalam setiap bab, sehingga kita harus mengerti arti kosakata tersebut agar dapat memahami materi yang sedang kita baca secara keseluruhan.
Kesimpulannya, buku ini dapat menambah wawasan serta pengetahuan kita agar dapat mencapai kesempurnaan mutlak dan kebahagiaan hakiki dengan meghilangkan tirai penghalang yang ada pada diri kita.

March 31, 2012 No comments
           Mery Riana, seorang miliarder muda dan motivator nomor satu di Indonesia dan Asia, ternyata juga mengalami masa-masa sulit sebelum dapat meraih kesuksesannya. Kondisi keluarganya yang sederhana, tidak pernah membuat Merry berharap untuk bisa berkuliah ke luar negeri. Kekuatan finansial orangtuanya hanya cukup untuk menguliahkan dia dalam negeri, dan ia sangat bersukacita untuk hal itu.
Namun, peristiwa keusuhan pada tanggal 14 Mei 1998 silam telah membuat impian Merry yang saat itu hendak melanjutkan penidikannya ke Universitas Trisakti runtuh. Kedua orangtuanya yang berdarah Tionghoa itu akhirnya memutuskan mengirim Merry untuk melanjutkan studi ke Singapura demi keselamatan putrinya itu. Di usianya yang masih belia, Mery harus dihadapkan dengan sebuah keputusan besar dan secara perlahan ia akhirnya dapat memunculkan keberaniannya. Dengan keberangkatan yang sangat terbatas karena kondisi finansial orangtuanya, Merry akhirnya mulai menguatkan hati dan berpikir positif bahwa kepergiannya ke negeri orang tanpa didampingi orangtua barangkali adalah cara Tuhan untuk mempersiapkan kemandiriannya di sana.
Di Singapura, ia melanjutkan kuliah di Nanyang Technology University (NTU) dan tinggal di asrama kampus. Dengan pinjaman uang sebesar 40 ribu dolar atau setara 300 juta rupiah dari DBS untuk biaya hidup dan kuliah selama 4 tahun, ia ternyata hanya dapat menyisihkan 10 dolar saja untuk biaya makan selama seminggu. Hal itu membuatnya benar-benar harus berhemat.
Kondisi selama satu tahun kuliahnya di NTU mendorong Merry untuk memutar otak. Namun, di tengah-tengah kesulitannya itu ia bertemu seseorang, Alva, yang ternyata juga mengalami kondisi hampir sama dengannya. Hal itu ternyata membuat mereka berdua semakin dekat dan secara sinkron mereka selalu memberi semangat atau sekedar nasihat satu sama lain.
Pada tahun keduanya kuliah, Merry akhirnya memutuskan untuk mulai bekerja di sela-sela masa liburan semester. Pada awalnya ia bekerja sebagai pembagi brosur, kemudian menjadi pegawai di sebuah toko bunga, hingga menjadi pelayan di banquet. Dari upah bekerja selama liburan, Merry sedikit demi sedikit dapat menabung. Ia kemudian mencoba berbisnis dengan uangnya itu, namun bisnis pertamanya ditipu.
Pada tahun 2001, Merry Riana memulai kerja magang. Ia bekerja cukup baik di perusahaan magangnya, namun tak ingin terus bekerja di perusahaan itu setelah lulus kuliah. Ia kemudian membuat sebuah resolusi baru, yakni ingin mapan dan meraih kebebasan finansial sebelum usianya 30 tahun.
Pertemuan dengan Anthony Robbins, motivator idolanya, membuat Merry Riana terus memburu peluang untuk melancarkan resolusinya. Meskipun harus terhambat berkali-kali dengan bisnis yang gagal, ia tetap semangat dan pertunangannya dengan Alva semakin mebuat Merry tak pantang menyerah.
Memutuskan diri untuk menjadi seorang sales asuransi bersama Alva ternyata merupakan awal jejak keberhasilannya. Seribu satu penolakan dan ujian mental yang harus dijalaninya di jalanan sempat membuat Merry terjatuh beberapa kali namun sikap disiplin dan dukungan dari Alva mampu membakar semangatnya lagi. Dengan bekerja selama 14 jam sehari, tujuh hari seminggu, dan dua puluh kali presentasi sehari, Merry Riana akhirnya mampu melunasi hutang pendidikannya dengan uangnya sendiri.
Setelah berhasil menjadi manajer dan berhak merekrut anak buah karena pencapaian investasinya telah mencapai 900 ribu dolar, Merry kemudian diangkat menjadi President Star Club dan memutuskan untuk mendirikan sebuah organisaasi dan menikah dengan Alva. Selama menjalankan organisasi tersebut, Merry dan Alva juga dihadapkan dengan berbagai masalah pelik, namun karena kerja keras, mereka dapat mengatasinya.
Kini, Merry Riana telah berhasil mewujudkan mimpi sejuta dolarnya. Tetapi, peraih berbagai penghargaan ini tak lupa akan negeri aslanya. Ia ingin membangkitkan semangat sukses bagi para generasi muda Indonesia, sehingga dapat memajukan bangsa.
March 31, 2012 1 comments

Hati Tidak Memilih, Hatilah yang Dipilih


Judul                     : Perahu Kertas
Pengarang          : Dewi Lestari
Editor                    : Hermawan Aksan
Penerbit               : Truedee Pustaka Sejati
Tahun terbit         : Agustus 2009


Kugy adalah seorang cewek yang cantik, supel dan cerdas tapi sangat cuek dalam berpenampilan.  Ia mempunyai cita-cita yang bagi banyak orang profesi tersebut tidak dapat menjaminnya untuk sukses : penulis dongeng. Namun ia tak pernah patah semangat, hingga akhirnya ia bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta, sakit hati serta membuatnya berpikir untuk lebih realistis dan membuang mimpi besarnya. Keenan adalah seorang cowok yang cerdas dan memiliki bakat yang sangat tinggi dalam melukis. Satu-satu impiannya hanyalah menjadi seorang pelukis, sayangnya sang ayah sama sekali tidak mendukungnya dan memaksanya berkuliah di bidang manajemen untuk meneruskan bisnis ayahnya. Pertemuan kedua insan muda yang saling berlawanan penampilan namun sangat kompak dan selaras dalam berbagai hal ini membuat mereka saling jatuh cinta. Namun kisah cinta mereka harus terputus meski mereka berdua belum sempat menyatakan cintanya. Kugy terlanjur menilai buruk Keenan atas keputusasaan dan keputusannya. Hal tersebut membuat hidup Kugy dan Keenan berantakan. Mereka berdua akhirnya terpisah selama bertahun-tahun sambil membawa rasa cinta yang terus membayangi mereka berdua dalam menjalani realitas kehidupan. Tetapi hati tak pernah salah, ketika mereka bertemu saat sudah mempunyai kekasih masing-masing, semuanya berubah.
Gaya penceritaan yang luwes serta mudah dipahami membuat novel ini sangat menarik. Alur yang ditata dengan baik sukses mendorong para pembacanya untuk terus membaca hingga akhir. Penggambaran suasana hati para karakter mudah untuk dipahami serta diikuti, bahkan membuat para pembaca serasa terlibat dalam cerita dan meluapkan emosinya masing-masing. Berbagai nasihat yang terdapat dalam novel ini juga memberikan semangat para pembaca untuk terus berusaha mencapai mimpi-mimpinya.
Namun dalam novel ini ada beberapa istilah asing yang tidak terdapat penjelasan secara detail sehingga membingungkan para pembaca yang masih belum mengetahui makna istilah-istilah tersebut.
Novel keenam karya seorang penulis ternama bernama pena “Dee” ini memang layak untuk dibaca. Alur yang menarik serta penggambaran karakter serta watak yang jelas semakin membuat pembaca untuk terus membaca hingga akhir. Pesan-pesan serta nasihat bijak yang terdapat pada dialog memberi kita berbagai motivasi dan semangat untuk tetap menjadi diri sendiri, tidak putus asa, serta terus berusaha untuk mencapai semua mimpi-mimpi kita.
“Saya belajar dari kisah hidup seseorang. Hati tidak pernah memilih. Hati dipilih. Jadi, kalau Keenan bilang, Keenan telah memilih saya, selamanya Keenan tidak akan pernah tulus mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh,”.



February 17, 2012 No comments
Menyadari bahwa harta yang diberikan oleh Allah kepadanya begitu melimpah, maka pada suatu hari nabi Sulaiman memberanikan diri memohon izin kepada Allah, “Ya Allah. izinkanlah kiranya hambaMu ini memberi makan seluruh makhlukMu di bumi ini selama setahun,” begitu pinta nabi Sulaiman.
“Kau tidak akan mampu, Sulaiman,” jawab Allah.
“Kalau begitu, satu bulan saja, ya Allah,” desak nabi Sulaiman.
“Kau juga tidak akan mampu,” tegas Allah.
“Kalau begitu sehari saja, ya Allah,” desaknya lagi
“Kau tetap tidak akan mampu,” jawab Allah.
“Aku ingin mencobanya, aku memohon untuk dizinkan,” pinta nabi Sulaiman pula
“Silakan kalau ingin mencoba,” begitu jawab Allah.
Segera saja nabi Sulaiman mengumpulkan seluruh jin dan manusia untuk mendatangkan bahan-bahan makanan dari berbagai jenis dan lauk pauknya, baik berupa sapi atau kambing dan seluruh hewan yang halal. Maka periuk-periuk besar segera dipancangkan lengkap dengan anak tangga untuk menuangkan bahan makanan dan lauk pauk yang akan dimasak. Ketika itu seluruh jin dan manusia sibuk untuk mempersiapkan hidangan yang dihamparkan di atas padang pasir. Beliaupun menyuruh angin untuk bertiup seperlunya agar makanan tidak basi. Setelah keseluruhannya dirasakan siap, ketika itu Allah lalu bertanya, “Siapakah yang kau kehendaki untuk menyantap lebih dahulu, Sulaiman?”
“Kiranya akan lebih baik jika aku mulai dari seluruh hewan samudra ya Allah?” jawab nabi Sulaiman.
Ketika itulah, Allah menyuruh seekor hewan besar dari samudra untuk melahap hidangan yang telah dipersiapkan nabi Sulaiman. Hewan itu pun berangkat ke tempat hidangan tadi seraya bertanya pada nabi Sulaiman, “Aku dengar baginda yang akan menanggung rezeki saya hari ini, wahai Nabiyullah?”
“Benar, benar sekali, makanlah sekarang sepuasmu,” jawab Nabi Sulaiman.
Maka, segera saja hewan itu melahap makanan yang tersedia dan malah berteriak, “Wahai nabi Sulaiman, aku belum kenyang, baru sepertiga dari porsiku sehari-hari.”
Nabi Sulaiman pun marah, “Kau telah menghabiskan semuanya, betapa rakus sikapmu itu,” begitu gertak nabi Sulaiman.
“Inikah jawaban seorang penjamu terhadap tamunya, padahal engkaulah yang menyebabkan porsiku menurun drastis di hari ini, engkau telah ceroboh, wahai Nabiyullah Sulaiman,” begitu hewan itu balik menyalahkan.
Melihat dengan mata kepala sendiri mengenai kenyataan ini, nabi Sulaiman pun segera bertekuk lutut dan bersujud panjang memuji kebesaran Allah. Kemudian, tanggung jawab memberi makan itu langsung dikembalikan pada Allah sebelum makhluk yang lain mendemo besar-besaran mengadukan kelaparannya.
Burung Hud-hud melihat peristiwa itu, dia tersenyum simpul dan mencari akal untuk bercengkerama dengan nabi Sulaiman. Maka, pada suatu hari dia menghadap Sulaiman. “Sekarang aku ingin mempersiapkan hidangan daging untuk baginda,” begitu burung Hud-hud menawarkan jasanya.
“Maksudmu itu khusus bagi saya sendiri atau bagaimana?” Tanya Baginda memperjelas.
“Bukan untuk Baginda saja, bahkan seluruh prajurit baginda, aku siap memberi makan,” jawab Hud-hud berlagak tegas.
Setelah sampai hari yang dijanjikan, Nabi Sulaiman dan seluruh prajurit pun berangkat mendatangi jamuan Hud-hud pada suatu tempat yang telah ditentukan. Maka, ketika mereka sudah berdatangan, Hud-hud segera menyambar belalang, lalu mencekiknya sampai mati, kemudian dilemparkan di pinggir lautan seraya berkata, “Wahai Nabiyullah Sulaiman, segeralah Baginda maju menyantap daging itu bersama para prajurit Baginda, namun bagi siapa saja yang tidak mendapat bagian dagingnya, saya mohon dengan hormat agar mereka menikmati kuahnya,” begitu Hud-hud mengatakan sambil berlalu pergi.
Mengetahui akal-akalan Hud-hud ini, nabi Sulaiman tidak bisa menahan tawanya hingga beliau tertawa sendiri di saat teringat ulah Hud-hud ini.
(diambil dari : Kisah Kezuhudan Manusia Sepanjang Zaman)
Majalah MPA 284 / Mei 2010

February 04, 2012 No comments

Pendiri Filsafat Muslim

Nama lengkap beliau adalah Abu Yusuf Ya’kub bin Ishak al-Kindi. Namun masyarakat Barat sering menyebutnya “al-Kindus”. Beliau dilahirkan di tanah Arab Selatan pada tahun 809 M, dari kalangan keluarga kaya dan terhormat.

Setelah meyelesaikan pendidikan dasarnya, al-Kindi pindah ke Basrah (Irak) untuk menambah pengetahuannya di berbagai bidang Setelah itu, ia pindah ke Baghdad untuk melanjutkan kuliah. Beliau dikenal sebagai seorang filosof yang mahir kimia dan matematika. Dalam sejumlah karyanya, ia sering membahas masalah logika dan matematika, juga sering mengulas buku-buku yunani seperti karya Aristoteles.

Dalam catatan biografinya -al-Muntakhab- dijelaskan bahwa al-Kindi adalah muslim pertama yang terkenal dan intens menekuni filsafat. Sejumlah tulisan berupa terjemahan maupun koreksi terhadap hasil karyanya sendiri merupakan sumbangsihnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

Beliau tokoh yang sangat produktif mengusung masalah metafisika, psikologi, etika, dan metode pendekatan secara logika dan ilmiah kepada masyarakat muslim Arab. Oleh karenanya, para ilomuwan Arab menganggapnya sebagai peletak dasar dan pendiri filsafat dalam dunia muslim Arab. Selain itu, beliau seorang pemikir yang cerdas dan bijak. Karya-karyanya yang luar biasa membuat namanya berada dalam posisi tertinggi di bidang ilmu pengetahuan.

Dengan kecerdasan dan keahlian yang dimilikinya, al-Kindi juga menulis buku tentang kriptologi atau seni memecahkan kode. Salah satu bukunya yang berjudul Risalah fi Istikhraj al-Mu;amma atau Manuscript for The Deciphering Cryptographic Messages itu berisi beberapa cara menguraikan kode. Dalam buku itu dijelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Lewat buku tersebut beliau memperkenalkan penggunaan kode statistika untuk memecahkan kode rahasia. Pengalamannya bekerja sebagai penerjemah sandi rahasia dan pesan tersembunyi yang terdapat dalam naskah asli Yunani dan Romawi telah mempertajam nalurinya di bidang kriptoanalisa. Awalnya, buku tersebut merupakan sebuah makalah yang kemudian hari dibawa ke Eropa untuk diterjemahkan dan diterbitkan dalam bentuk buku. Tidak hanya menguasai ilmu kriptografi, al-Kindi juga pakar di bidang matematika dengan menghasilkan beberapa buku tentang sistem penomoran, yang akhirnya menjadi dasar matematika modern. Selain tiu, ia telah meberikan kontribusi besar di bidang geometri bola, suatu bidang yang sangat mendukung dalam bidang astronomi. Bersama al-Khawarizmi dan Banu Musa bersaudara, mereka diberi tugas mnerjemahkan karya-karya filosof Yunani dalam bahsa Arab oleh Khalifah al-Makmun.

Al-Kindi sangat mengagumi pemikiran para filosof Yunani-Romawi. Ia sangat terilhami oleh dua filosof  besar Yunani: Socrates dan Aristoteles. Kedua tokoh tersebut sangat berpengaruh dalam beberapa karyanya.

(Dikisahkan kembali oleh Joko Rabsodi, MPA Februari 2011)
January 25, 2012 No comments

Bayangan Aditya kini jauh lebih panjang daripada tinggi tubuhnya. Bahkan sinar matahari berwarna oranye itu memperjelas bentuk bayangannya yang hitam. Namun ia tak ingin kehilangan suasana yang jarang bisa dinikmati di kotanya itu, yakni tatkala tak ada awan sedikit pun yang dapat menghalangi sang bintang terbesar untuk membagi hangatnya sinar-sinar terakhirnya yang tak lama lagi harus berpindah dari kota Aditya untuk menyemangati berjuta-juta makhluk di sisi lain bumi ini menyongsong hari baru.
Berminggu-minggu awan hitam selalu menutup kegiatan sehari-hari Aditya serta warga kota sekitarnya, dan Aditya merasa, sore yang indah dan langka itu akan membawa perubahan baru baginya. Perubahan yang ia harap bisa membuatnya ceria kembali setelah ia dan keluarganya berduka cita. Ia tak habis pikir, bagaimana mungkin seekor serangga hitam kecil bersayap bernama latin Aedes Aegypti itu bisa membuat si bungsu, Zahra, harus terkulai lemas di rumah sakit selama berhari-hari dan harus pergi meninggalkan Aditya dan keluarga yang mencintainya itu. Namun, tak seorang pun tahu bagaimana akhir hidup seseorang. Dan itulah kehendak Tuhan.
Gema azan tiba-tiba menyadarkan Aditya dari lamunannya. Ia bertekad untuk segera mengakhiri kesedihannya sendiri, dan membawa suasana hangat penuh keceriaan di tengah-tengah keluarganya kembali setelah sempat menghilang cukup lama. Segera ia menutup jendela kamarnya dan secara perlahan menuruni tangga, bergegas menuju masjid samping rumahnya.
Rumah Allah yang megah itu adalah salah satu tempat yang bisa membuatnya tenang. Disana, kerap kali ia mencurahkan segala masalahnya pada sang Khalik, dan ia selalu keluar dengan hati dan pikiran yang lebih baik. Benar-benar lebih baik dari sebelumnya.
Seusai salat maghrib, Aditya duduk bersila sambil menyandarkan bahunya pada dinding teras bagian selatan masjid. Hal itu benar-benar membuatnya nyaman. Sesosok pria berbaju koko merapikan kopiahnya sambil berjalan menghampiri Aditya. Ia kemudian duduk di sampingnya.
“Jangan sedih lagi, tak baik terlalu lama murung,” lelaki itu dengan penuh bijaksana memulai pembicaraannya. “Masih ada hari esok, dan kau tak bisa menyapanya dengan wajah murung setiap pagi, bukan?” sambung sang lelaki.
Aditya membalasnya dengan senyuman simpul.
“Kematian seseorang adalah rahasia Allah. Kita tak bisa menyangkal bahkan menolaknya,” nada pria itu tiba-tiba berubah, ada sesuatu yang berbeda, dan Aditya merasakan hal itu.
Lelaki itu kemudian berdiri, pergi meninggalkan Aditya menuju pondasi teras. Aditya memperhatikannya. Tak berapa lama, bapak yang penuh kesabaran itu kembali membawa sebuah polybag berisi suatu tumbuhan mungil. Tak tampak sama sekali buah tanaman itu, hanya daun-daun kecil yang bergoyang ketika pria itu membawanya dan kemudian menyerahkannya pada Aditya.
“Tolong jaga stroberi ini,” ujar sang lelaki.
Dengan penuh tanda tanya Aditya menerima tanaman itu.
“Tapi, kenapa…..” Aditya menjawab dengan ragu-ragu namun tak jadi meneruskan kalimatnya. Pria yang selama beberapa tahun ini tinggal di masjid, yang membuat rumah suci itu terpelihara dengan amat baik. Abdul Rosyid, itulah nama lengkapnya. Aditya sangat akrab dengannya. Dengan panggilan ‘paman’ ia menyapa lelaki yang sudah ia anggap sebagai ayah keduanya serta sebagai guru terbaik yang pernah ditemuinya itu. Namun ia melihat ada sesuatu yang mengganjal dalam pikiran ustaznya itu lewat kedua matanya. Dan dengan segera, lelaki itu dapat menangkap apa yang dipikirkan oleh Aditya.
“Aku akan mengatakan sesuatu padamu,” ungkap sang penjaga masjid itu sambil membetulkan posisi duduknya, “dan setelah ini kau harus lebih dewasa.”
Aditya tersentak, tak biasanya sang guru berkata seperti itu. Namun ia mulai menyimaknya dengan baik.
Pria itu mulai bercerita, “Dulu, sebelum aku datang ke kota ini, aku adalah pria yang bahagia bersama keluarganya. Aku, istriku, dan putri tunggalku. Kami tinggal di sebuah desa kecil yang tentram. Selama enam tahun kami hidup dengan rukun dan bahagia, namun ketika aku kehilangan pekerjaan, semuanya mulai berantakan. Kami tidak bisa mencukupi kebutuhan kami dengan maksimal. Ternyata istriku tidak bisa bertahan dengan kondisi itu dan akhirnya……. kami bercerai….,” dengan nada yang berat, pria itu mengungkapkannya pada Aditya.
“Putriku kini usianya pasti sudah hampir dua belas tahun,” sambungnya. “Tak terasa waktu cepat sekali berlalu. Dan sudah bertahun-tahun aku tidak berjumpa dengannya. Beberapa hari yang lalu aku mendapat surat darinya. Entah bagaimana mereka bisa menemukanku. Ia bilang, ia akan datang kemari setelah mengikuti ujian akhir sekolahnya.”
Hati Aditya bergetar. Ia mungkin tak tahu bagaimana perasaan ustaznya itu, namun ia tahu bagaimana rasanya kehilangan seseorang yang sangat dicintai.
“Saat masih kecil, sering aku mengajaknya ke kebun stroberi dekat rumah. Ia sangat menyukai buah merah itu. Saat menerima surat itu, aku langsung menuju toko tanaman, membeli stroberi itu. Aku ingin merawatnya, dan aku ingin, buah pertamanya itu dapat dinikmati olehnya,” begitulah harapan sang ustaz.
“Sudah Paman balaskah surat itu?” tanya Aditya.
“Sayang sekali, ia tak menuliskan alamatnya dengan jelas,” sahut sang paman dengan sedih.
“Tolong rawat stroberi ini untuknya,” pinta lelaki bersarung itu sambil berdiri.
“Mmmm… tapi….,” Aditya ingin menjawab, namun pamannya dengan sigap memberi tanda untuk diam karena azan dari masjid lain telah berkumandang, dan pamannya yang juga muazin itu harus segera mengumandangkan azan, mengajak umat muslim sekitarnya untuk salat isya’ berjamaah, menunaikan kewajibannya.
Sebelum pergi meninggalkan Aditya yang masih terpaku, sang ustaz berkata, “Terima kasih, Aditya. Terima kasih atas segalanya”, ujar pria itu pada Aditya dengan lembut sambil tersenyum.
*********************
Jam beker Aditya berdering membangunkan pemiliknya. Derik jangkrik dengan sangat jelas masih terdengar, namun dengan tegas ia melawan kantuk yang mengajaknya kembali tidur. Ia terbangun, sorotan matanya tertuju pada tanaman stroberi yang diletakkannya di beranda jendela.
Stroberi, tanaman itu benar-benar ajaib baginya. Mengingatkannya pada berbagai peristiwa dan kenangan dalam hidupnya. Tanaman kerdil itu adalah tanaman yang sangat disukai oleh adiknya, Zahra. Berbagai pernak-pernik milik adiknya adalah stroberi. Buah yang disukainya pun juga stroberi. Apapun tentang stroberi dia suka. Seandainya Zahra masih ada, dengan senang hati ia akan memberikan tanaman itu pada adiknya. Ia yakin sang bungsu pecinta stroberi itu akan merawatnya lebih baik, lebih baik dari kakaknya. Namun Aditya berpikir, tak mungkin dengan mudah ia memberikan tanaman amanat itu pada adiknya. Stroberi itu adalah amanat baginya. Amanat dari sang paman, yang dua hari lalu berpulang ke rahmatullah. Tepat semalam setelah Aditya mendapatkan stroberi itu, pada pagi yang masih buta, guru terbaiknya itu menghembuskan nafas terakhir.
Tak seorangpun dari keluarga Pak Abdul Rosyid yang bisa dihubungi. Tak ada alamat pasti. Jenazahnya akhirnya dikuburkan di makam umum di kota itu.
Aditya benar-benar tak menyangka malam itu adalah malam terakhir ia bisa bertemu dengan sang paman. Ia kini harus menjaga amanat yang diberikan pamannya, melalui pohon mungil yang belum berbuah itu.
Setiap hari, ia selalu merawat tanaman stroberi itu dengan baik. Browsing di internet, membeli majalah tanaman, hingga datang ke ahli tanaman pun dilakukannya untuk mencari tahu mengenai cara yang baik merawat stroberi itu.
Usahanya tak sia-sia. Kini tanaman itu telah memunculkan sebuah benda mungil berwana putih kemerahan yang kelak akan memerah dan itulah buah pertamanya.
*********************
Beberapa hari kemudian buah itu semakin menampakkan dirinya. Aldo, adik pertama Aditya dengan sangat cermat memperhatikan buah itu. Buah merah itu berbentuk bulat agak lonjong dan bagian kulitnya ditutupi oleh beberapa biji berwarna putih.
Dengan penuh takjub, Aldo yang masih delapan tahun itu menjulurkan tangannya ke buah merah kecil itu. Jari-jarinya yang mungil meraba kulit yang kasar karena sebagian tertutupi oleh biji. Tak pernah ia melihat buah stroberi secara langsung sebelumnya. Dan kini, ia memiliki kesempatan untuk melihatnya secara langsung, tepat duapuluh senti di depan matanya. Dan ia juga mempunyai kesempatan yang sangat besar, yakni untuk memegang, memetik, dan memasukkan buah yang pastinya segar dan alami itu ke dalam mulutnya. Buah yang dirawat oleh kakaknya dengan susah payah.
Satu gerakan kecil lagi, buah stroberi yang merah merona itu akan putus dengan temannya, atau mungkin pacarnya, si tangkai, dan Aldo dengan wajah gembira akan dapat segera merasakan buah yang hanya bisa dilihatnya dari televisi atau gambar-gambar di buku itu. Namun sebelum semua itu terjadi, sang kakak, Aditya telah berhasil mengangkat pot stroberi itu dan menyingkirkan tangan Aldo.
Seketika Aldo terkejut, matanya melongo menatap wajah kakaknya yang terlihat tak bersahabat itu. Dia diam menatap kakaknya, kemudian dengan memasang wajah tanpa dosa ia tersenyum, meringis pada kakaknya.
Sang kakak, yang memiliki rasa sayang berlebih pada anak kecil itu rupanya, tak dapat menunjukkan ekspresi marahnya. Wajah kecil mungil penuh rasa aingin tahu itu telah membuat bisikan syaitan pada Aditya memudar, menghilang. Aditya hanya bisa diam, lalu tersenyum datar.
“Dasar anak kecil jail,” celetuk Aditya sambil menyelentikkan jarinya dengan sangat lembut pada telinga Aldo.
Karena merasa risih, Aldo tertawa, kemudian berlari meninggalkan kakaknya.
“Maaf, Kakak!” teriak Aldo sambil berlari keluar kamar. Hingga jauh, Aldo masih saja tertawa nakal. Kakaknya hanya bisa maklum. Namun tawa nakal adiknya itu membuatnya tersenyum juga.
*********************
Sering Aditya tersenyum apabila ia teringat akan kelakuan iseng adiknya tiga hari lalu, yang mencoba merengkuh buah merah yang masih segar kala itu. Namun kini, buah itu merubah warnanya yang semula dapat memikat siapapaun yang melihat untuk mencicipinya itu, menjadi merah tua pekat dan kulitnya pun mulai keriput. Tampaknya ia harus berdandan agar bisa menarik perhatian lagi. Namun apa yang bisa dilakukan oleh buah kecil itu, sang amanat dari seorang pengumandang azan pada seorang remaja lelaki berusia enam belas tahun.
Aditya berusaha sekuat tenaga menjaga amanat itu. Ia juga berharap keinginan terakhir pamannya itu dapat terlaksana, memberikan buah pertama tanaman berdaun lebar itu pada putri semata wayang pamannya.
Setiap pulang sekolah, Aditya selalu bergegas langsung menuju sang ibu, menanyakan adakah seseorang yang mencarinya. Namun jawaban yang sama dan mengecewakan Adityalah yang selalu diterima. Ia bahkan berpesan pada semua orang di sekitar tempat tinggalnya untuk memberitahu pada orang yang mencari ustaznya, Abdul Rosyid, untuk menuju rumahnya. Ada hal penting yang harus disampaikan. Namun tak seorang pun yang bertanya.
Sore itu, hari ketujuh sesudah kejadian Aldo. Buah itu benar-benar menunjukkan tanda sekaratnya. Dengan wajah pucat tanpa ekspresi, Aditya memperhatikan stroberi itu yang seolah-olah mengucapkan kata perpisahan pahit padanya. Mata Aldo memerah. Segera ia memasang matanya untuk melihat ke jalanan, menembus jendela kamarnya. Ia melirik ke ke kanan dan ke kiri, berharap seorang gasis kecil yang baru tamat Sekolah Dasar dari ujung jalan, turun dari kendaraan, atau dari arah masjid berjalan menuju pintu rumahnya, atau paling tdak berhenti di depan pagar rumahnya, mengatakan bahwa ialah yang ditunggunya selama ini, putri kecil sang penjaga masjid. Namun rupanya mimpi itu tak akan terwujud. Hingga bintang-bintang mulai menampakkkan sinarnya yang kerlap-kerlip menghiasi langit yang gelap, gadis yang ditunggu-tunggu belum juga menunjukkan tanda-tandanya untuk muncul. Dan esok ia benar-benar harus berpisah dari buah yang selama ini dijaganya itu.
*********************
Tanaman stroberi itu kini hanya terlihat tangkai dan daunnya saja. Sang puteri yang menghiasinya kini telah menghilang, setelah berhari-hari berjuang hidup hanya untuk bertemu seseorang yang selama ini dinanti oleh sang perawat, yakni seorang gadis kecil yang sebulan lalu mengirim surat pada sang ayah, berjanji akan datang setelah bertahun-tahun tak bertemu. Ia berjanji, sesaat setelah ujiannya selesai, ia akan datang menemui sang ayah, menatap wajahnya, menyentuhnya, memeluknya. Meski ujian telah selesai dua minggu yang lalu, tetapi ia tak kunjung datang. Kalaupun ia datang, ia harus menerima sesuatu yang pahit pada akhirnya.
Aditya berpikir, apakah gadis kecil itu sudah tahu akan hal menyakitkan yang akan diterimanya ketika ia menemui sang ayah, hingga ia membatalkan kunjungannya. Namun Aditya berjanji, ia akan merawat tanaman amanat itu dengan sepenuh hati, hingga menumbuhkan buahnya lagi, yang diharapkan dapat dinikmati oleh si gadis kecil. Entah kapan itu terjadi, tapi Aditya masih berharap, sang puteri kecil penjaga masjid akan datang dan menikmati buah stroberi itu.
Tiba-tiba semua pikiran Aditya itu terganggu oleh suara sang bunda, yang memanggil namanya sambil membuka pintu kamar Aditya, mengatakan ada seorang tamu yang mencarinya. Dengan terpaksa, ia meninggalkan harapannya itu. Harapan yang berhasil dipertahankannya selama beminggu-minggu dan ia bertekad akan terus mempertahankannya. Dengan langkah gontai ia berjalan menuju ruang tamu. Seseorang telah menantinya.
January 16, 2012 No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates