facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts



Let me tell you, ini adalah kali kedua saya membaca Restart, setelah membaca novel ini dalam waktu yang singkat beberapa waktu yang lalu, dan menuliskan sedikit reviewnya di sini. Well, kenapa sampe ngulang dua kali? Itu tak lain karena saya masih belum nangkep ceritanya secara utuh. Dan setelah membaca ulang, wuih, saya baru sadar kalo novel karangan Mbak Nina Ardianti ini memang keren. Dan tetep, nggak bosenin. Karena udah pernah nulis sinopsis singkatnya, maka di sini saya pengen sedikit mengulas tentang alasan saya merekomendasikan novel ini.

Yang jelas, Mbak Nina tuh selalu berhasil membuat saya kagum sama tokoh-tokoh di novelnya. Kalo membaca Fly to the Sky saya suka banget sama Edyta dan Ilham, di novel Restart ini saya suka sama banyak orang. Saya heran, kok bisa sih Mbak Nina menciptakan karakter yang membuat tokohnya disukai para pembacanya. Salut deh!

Selanjutnya, yang membuat saya suka adalah dialog dan jalan pikiran para tokohnya. Seringkali gagal membuat saya berkali-kali menahan senyum dan tawa. Yang ada, cuma geleng-geleng kepala. Membaca cerita Syiana yang lepas, membuat saya mudah merasakan emosinya.

Ini salah satu dialog yang berhasil membuat saya tertawa :

...
Lalu terdengar suara siulan panjang diikuti dengan, “Harusnya gue panggil infotainment. Biar besok heboh, ‘Apakah. Yang. Membuat. Fedrian. Arsjad. Dan. Syiana. Alamsjah. Bertengkar? Apakah. Hubungan. Mereka. Di. Ujung. Tanduk?” nadanya terdengar sangat mirip Feni Rose
...

For your information, dialog di atas diutarakan oleh teman cowok sebelah kubikel Syiana, Aulia. Hehehe...

Namun, ada juga bagian yang membuat saya sebal sama Edyta. Yang bagian ini nih:

...
Aku menggodanya dengan wajah polos. Menganggap kata-katanya serius. “Eh. Sebenernya ide bagus tuh, Dyt. Gue malahan nggak pernah kepikiran. Wah, kalau tau lo sebenernya ngerestuin sih-“
Kata-kataku terputus oleh komentarnya, “DAN LO MAU LEBIH MILIH ABANG GUE DIBANDING FEDRIAN ARSJAD?” Ia mengucapkan itu seolah-olah aku ini gila atau apa.
...

Oh my God. Edyta. DAN LO TEGA BENER SIH SAMA ILHAM-ABANG LO SENDIRI! Huhuhu, saya jadi sedih nih, masak Ilham sampe digituin. (Well, biasalah, anggota PPI)

Next, kalo ada bagian yang saya nggak suka, pasti ada juga beberapa bagian yang saya sukai. Ketika Fedrian berkata pada Syiana di detik-detik sebelum mereka putus. Kalo aku jadi Syiana, aku udah melting.

...
“Kamu adalah perempuan pertama yang membuatku berpikir untuk kembali bekerja di korporasi-kalau perlu aku akan jadi banker lagi-hanya supaya aku bisa menjamin masa depan untuk kamu. I would give up everything I have, give up all of my dreams, and taking the responsibility to make you safe by making a safety net. Only for you. Karena aku yakin, you are the one.”
...

Sayangnya, Ian menutupnya dengan, “Tapi sekarang aku beryukur aku nggak melakukan itu”. Hah, langsung ilang deh melting-nya.

Terus, aku suka quote yang ini :

...
“Beberapa waktu lalu ada yang berkata kepada saya, relationship is a full time job. If you’re not ready, don’t apply. Apalagi sampai tanda tangan offering letter.”
...


Yeah, that’s all. Eits, tapi, sebelum saya menutup review ini, ada satu yang pengen saya sampaikan. Ini khusus buat Ian. Setelah mendengarkan lagu ini dua kali dan ngerti liriknya, saya langsung kepikiran Restart yang happy ending ini. Selain lagu ciptaan Ian tentunya, kayaknya lagu ini tepat deh dinyanyikan buat Syiana.

9

Every part in my heart I’m giving out
Every song in my lips I’m singing out
any fear in my soul I’m Letting go
And anyone who ask I’ll let them know

She’s the one she’s the one
I say it loud
She’s the one she’s the one
I say it proud

Ring the bell ring the bell
For the whole crowd
Ring the bell ring the bell

I’m telling the world
That I’ve found a girl
The one I can live for
The one who deserves

9


Tiao Cruz – Telling the World
July 15, 2013 3 comments

Ini adalah novel yang paaaaaliiing saya tunggu! Setelah berhasil mendapatkannya free, haha, lewat kuis yang diadakan oleh penulisnya, Mbak Nina Ardianti, plus tanda tangannya *pamer* -___- Tapiiii, yap, tapi, setelah novel ini sampe di rumah, saya pun harus bersabar buat membaca novel yang sudah saya tunggu dengan harap-harap cemas, yang setiap hari setelah saya memenangkan kuis itu saya selalu bertanya pada bude dan mbak saya : ‘novel buat saya udah datang belum?’, yang ketika saya udah datang saya tatap lekat-lekat novel itu, senyum-senyum sendiri, dan bertekad tak memperbolehkan siapa pun buat baca novel ini sebelum saya selesai membacanya. Lebay memang.
Memang novel itu datangnya kurang tepat, setelah saya gagal masuk PTN lewat jalur undangan, huhu. Tapi, nggak papa, ini namanya ujian, kan?? Jadi, saya pun mulai menghindar dari laptop, internet –termasuk twitter dan facebook, dan yang susah : saya harus mengubah genre buku saya, dari novel menjadi buku pelajaran. Hehe. Jadi, setelah saya selesai tes, saya pun ngebut baca novel itu. Itu juga salah, gara-gara saya ngebut mungkin, saya jadi tidak terlalu bisa menikmatinya. Jadi, dalam review kali ini mungkin hanya sedikit sinopsis dan... let’s see...
Namanya Syiana, sahabatnya Edyta, adalah cewek cantik yang, unfortunately, baru putus dari pacarnya, Yudha. Alasannya cukup buat Syiana terhenyak, dan saya juga, Yudha selingkuh. Semenjak putus, ternyata Syiana masih sering memikirkan Yudha. Harapan yang ia bangun bersama Yudha setelah tiga tahun pacaran mendadak runtuh, hancur berkeping-keping.
Di tengah-tengah penderitannya setelah bertemu Yudha secara tidak sengaja di Hongkong, Syiana mendapat masalah lagi. Ia tak sengaja bertemu seseorang –yang akhirnya dua orang, yang pertama mabuk ketika Syiana duduk di sampingnya, dan yang satunya lagi menuduh Syiana telah membawa temannya yang saat itu duduk di sampingnya –yang mabuk itu. *maaf bahasanya agak hancur*. Syiana yang memang sedang frustrasi itu akhirnya menyiram kedua orang itu dengan minuman yang tersisa di gelasnya. Malam itu adalah malam yang sial buat Syiana.
Sesampainya di Indonesia, Syiana sudah disibukkan dengan pekerjaannya. Projectnya sudah siap launching dalam beberapa waktu mendatang. Tapi, ia semakin pusing ketika atasannya meminta untuk mengganti icon yang bakalan mewakili projectnya itu dengan sebuah band yang lagi ngetop di Indonesia tapi Syiana sama sekali tidak tahu. Memang pekerjaannya membuat Syiana sedikit kuper soal musik Indonesia.
Singkat cerita, Syiana mendapat pertemuan yang tak sengaja dengan Fedrian, lelaki yang ia siram wajahnya ketika berada di bar di Hongkong. Fedrian juga membuat Syiana syok karena ia ternyata adalah salah satu anggota band Dejavu, icon yang bakalan dijadikan projectnya nanti. Pertemuan itu juga yang akhirnya membuat Syiana dekat dengan Fedrian, dengan cara yang unik tentunya. Sayangnya, ia masih susah move on dari Yudha.

Itulah mengapa cover novel ini : “All you have to do is move on”. Seperti biasa, saya selalu suka gaya berceritanya Mbak Nina. Setiap selesai membaca novelnya, selalu ada semangat baru buat nulis yang nggak garing. Dialog-dialongnya selalu ada saja yang membuat saya tertawa. Saya suka. Masalahnya, meski udah baca sampai selesai dalam waktu kurang dari dua belas jam kalo diakumulasikan, saya masih belum bisa move on dari Ilham. Likely, saya harus baca novel ini mulai dari awal lagi deh, dan saya bakal buat review yang kedua. Eh, satu hal penting yang bisa saya dapet dari novel ini, adalah bagaimana manner kita dalam bersahabat. Banyak banget hal yang dapet kita pelajari dari hubungan Syiana dan Edyta di sini. Semoga, saya bakalan punya sahabat kayak mereka kalo kuliah nanti, ya! Amiin :D
July 02, 2013 No comments


Penulis : Orizuka
Editor : Gita Romadhona
Penerbit : GagasMedia
Cetakan : Kedua, 2013

Jadi, ini adalah kedua kalinya saya membaca novel karya Orizuka, setelah yang pertama saya baca : Infinitely Yours. Penasaran banget buat baca novel ini setelah teman saya, Alfy, ngompor-ngomporin saya buat baca novel ini berbulan-bulan yang lalu, atau beberapa tahun yang lalu. Keberadaan kelas kami yang tidak berubah membuat memori saya sulit mengingat kapan ia berkata begitu.
Dulu, sewaktu penasaran saya langsung membuka google dan mengetik judul novel ini. Covernya dulu masih berwarna ijo. Jadi, sewaktu kemarin saya merelakan novel ini buat dipinjem Neni dulu, saya baru tersadar kalo itu adalah novel Orizuka yang ganti cover, yang pengen sekali saya baca. Finally, saya pun rela meminjamkan Alfy buku baru saya, buku yang belum saya buka, yang baru saya buka segelnya ketika dalam perjalanan menemuinya. Yah, toh nanti juga bakalan saya baca buku baru saya itu, sama saja. Semenjak kehilangan hape, entah kenapa saya jadi ikhlas buat minjemin, memberi, sedekah, whatever yang bisa saya lakukan, selama itu baik buat saya. Enough!
Novel ini mengisahkan Yogas yang sedang dalam perjalanan mencari (dulu) sahabatnya, Joe, ke Yogya. Bukan untuk reuni, kangen, atau hal melankolis lainnya, tapi balas dendam. Dia bersikeras untuk menemukan Joe apa pun yang terjadi meski ia tak tahu persis di mana Joe tinggal. Dengan uang yang tak banyak, Yogas akhirnya menemukan sebuah kost sangat sederhana yang hampir roboh. Ia tak punya pilihan lain mengingat uangnya yang terbatas dan tujuannya hanyalah untuk bertemu Joe.
Namun, takdir berkata lain. Di kost itu ia bertemu dengan Kana, seorang cewek cerewet yang tinggal persis di sebelah kamarnya. Yogas cuek saja terhdap Kana, namun sikap Kana yang bersahabat membuat Yogas nyaman dengan dia. Menyadari bahwa Yogas telah salah mengambil sikap –Yogas tak ingin siapa pun peduli dengannya- terhadap Kana, ia pun mulai menjauh. Sayangnya, setelah cukup lama berinteraksi dengan Yogas, Kana jatuh cinta padanya.
Sikap Yogas yang aneh, yang kadang baik, kadang marah, membuat Kana bingung. Perlahan-lahan ia pun mengetahui rahasia Yogas yang disembunyikannya itu. Kana tahu betul bahwa Yogas positif HIV, dan Kana juga tahu maksud kedatangannya ke Yogya. Meski Yogas menghindar, Kana tetap saja mendekatinya. Kana ingin menemaninya, tidak seperti sikap orang lain yang menghindar, Kana tetap meyakinkan Yogas atas janjinya. Karena Kana tahu, ia telah jatuh hati pada Yogas, dan tak ingin menyesal nantinya.

Wah, emang nih novel bagus. Nggak sia-sia Alfy recommend ini buat aku. Haha. Alur yang baik berhasil membuat saya penasaran atas rahasia Yogas yang hendak disampaikan Orizuka pada pembaca hingga akhir. Endingnya juga bagus,membuat saya berpikir, “bakalan ketemu Yogas nggak nih si Kana??”. Satu hal yang saya kagumi, Orizuka berhasil membuat dialog-dialognya nggak terkesan garing, dan yang terpenting, dialognya Yogas tuh nggak cewek –karena, kan, yang nulis cewek. So, kalo ada pengajuan novel yang bagus buat tema HIV, novel ini bisa menjadi salah satunya  lho(berhubung saya baru baca novel ini aja yang berhubungan dengan HIV, hehe)! :D
July 02, 2013 1 comments


Apa sih yang salah sama gue? Udah cakep, kan? Celana panjang, keren. Sweater, oke. Make up, manis. Tapi kemana sih Ilham? Udah pukul setengah sembilan malam dan gue masih imut duduk sendirian di depan Simpang Lima Gumul. Itu, bangunan keren yang mirip Arc de Triomphe du I’Etoile di Paris itu! Eh, itu Ilham!
Ilham, temen SMP gue, yang sekarang ternyata tambah charming karena udah nggak ketemu semenjak beberapa bulan yang lalu. Kangen banget sama dia. Karena gue harus pindah ke Surabaya, mau nggak mau harus tetep keep in touch sama dia lewat twitter dan beberapa socmed lainnya. Nah, kali ini Ilham mau ngajak gue ke suatu tempat, entah kemana. Mau diculik kali gue sama dia. Mau banget kali!
Ilham melambaikan tangannya. Gue hanya tersenyum sambil terus berdoa semoga Ilham nggak tau kalo gue, gugup. Untungnya akal gue masih berfungsi. Segera kuraih lengannya, menariknya buat jalan-jalan mengelilingi monumen cantik ini. Gue cerca Ilham dengan berbagai pertanyaan: kenapa dia telat, gimana kerjaannya, gimana hidupnya, yah, whatever yang keluar dari mulut gue tentang hidup Ilham saat ini. Setengah jam kemudian kita pergi karena harus lanjutin perjalanan yang ternyata, ke... Bromo???
Unfortunately, gue hanya tidur di mobil sepanjang perjalanan. Huh, gue melewatkan momen penting buat ngobrol sama Ilham malem ini. Pukul 03.30 am kita sampai. Entah di mana itu, yang jelas Ilham ngajak gue yang masih terkantuk-kantuk buat naik jeep. Jalannya yang nggak mulus membuat gue nggak bisa tidur dan nggak bisa tenang. Sekitar sejam kemudian kita sampai di Pananjakan. Ilham ngajak gue buat sholat shubuh dulu. Ya ampun, rasanya tuh keren banget kita berdua sholat di daerah Bromo yang dinginnya minta ampun sampai gue harus pake baju tebel berlapis-lapis dan Ilham hanya tertawa.
Habis sholat subuh, gue dikejutkan lagi sama Ilham. Ya Tuhan! Iham duduk tepat di samping gue ketika gue melongo memandang matahari terbit dari balik gunung entah apa itu namanya. Sumpah, Ham! Lo keren banget sih!
Setelah puas menunjukkan kehebatannya tentang surprise-nya itu, Ilham ngajak gue masuk jeep lagi buat turun ke bawah. Kita ngelewatin hamparan pasir yang luas, yang kayak di film Pasir Berbisik itu lho! Beberapa menit kemudian kita turun dan Ilham berubah jadi Teletubbies, hehe. Nggaklah, ia bilang bukit-bukit itu namanya bukit Teletubbies, soalnya mirip banget kayak yang di film boneka gede yang warna-warni itu. Gue puas difoto terus sama Ilham di bukit hijau ini.
Setelah agak siang, Ilham ngajak cabut lagi. Kali ini Ilham nantang gue buat naik lihat kawahnya. Baru berjalan beberapa ratus meter aja gue udah capek, tapi Ilham nyemangatin terus. Gara-gara itu semangat gue muncul lagi. Setelah mendaki 145 anak tangga -itu itungan gue- akhirnya gue berhasil juga menyelesaikan tantangan cowok ini. Ilham ngulurin tangannya ke gue, nolongin buat naik satu pijakan lagi. Di atas sana gue lihat pemandangan yang kerennya nggak abis-abis. Kita berdua ngobrol panjaaangg banget. Seru banget deh kalo di deketnya Ilham.
Siangnya kita habisin buat di perjalanan sama mampir di salah satu kedai makanan. Ilham memang top banget soal traveling. Kita terusin perjalanan pulang sambil debat seru sambil dengerin musik kesukaan kita dulu.
Sorenya kita sampai di Alun-alun Batu. Ilham ngajak gue sholat dulu trus naik bianglala yang lebih gede dari yang di pasar malem. Senengnya, kita cuma berdua naik itu sambil ngobrolin ramenya Kota Batu kalo malem.
Kita menutup perjalanan ini dengan makan malam di kedai yang terletak di sepanjang jalan di pinggir tebing. Tepat dari meja tempat kita duduk , gue dan Ilham bisa memandang cahaya kota Malang yang kalo malem indah banget. Emang cahaya lampunya masih lebih indah di Paris, tapi Ilham berhasil menggantinya malam ini. Ilham, makasih ya!


Asal-usul penulisan klik di sini
May 19, 2013 3 comments

Pacaran itu kayak mampir, nikah itu bagai perhentian. Mau jadi tempat mampir atau rumah perhatian?

Pacaran itu Cuma mainan, nikah itu tanda serius. Mau dimainin atau diseriusin?

Nah, loh.... yang masih pacaran?? Hayo yang lagi pedekate?? Atau...yang hari ini baru jadian..???
Heum... Udah, putusin aja!!!

Kenapa harus diputusin? Pacaran itu kan ibaratnya kayak ta’aruf! Hadeh, ntar kalo saya jawab di sini, bukunya nggak jadi dibaca lagi. Lagi pula nggak seru kalo saya yang ceramah di sini.

Buku terbitan Mizan ini emang cocok buat teman-teman yang sekarang lagi pacaran. Tapi, setelah saya baca sampai habis, lebih cocok buat yang udah pacaran sejak zaman purbakala. Eh, lebay. Maksudnya buat yang sekarang lagi pacaran dan pacarannya itu udah cukup lama, sekitar satu, dua, tiga, atau bertahun-tahun. Cocok banget untuk memperjelas status yang masih “pacaran” tersebut.

Pacaran memang tak selamanya berujung pada zina, namun semua zina berawal dari pacaran. Terkadang kita berpikir kalimat tersebut terlalu lebay. Saya sendiri melihat fakta, meski tak sepenuhnya tahu, bahwa ketika teman-teman saya ada yang berpacaran pun juga biasa saja. Mungkin hanya sms-an, telpon-telponan, makan bareng, nonton bareng. Nah, kegiatan bareng yang selanjutnya itu yang perlu dipertanyakan.

Nggak sih, sebenernya saya memang melihat hal yang biasa aja. Itu hanya sebatas yang saya tahu lho! Nah, maka dari itu, jangan sok tahu. Karena bagaimana pun semua zina berawal dari pacaran. Seperti postingan saya sebelumnya –artikel saya malahan, saya sendiri yang buat- bahwa dulu saya berpikir pacaran itu punya sisi positif dan negatif. Jadi, saya sih masih fine-fine aja. Kalau pun ada teman saya yang bicara soal pacarnya, saya malah masih sering bercandain dia, godain dia. Saya masih belum berani tegur dia. Kenapa? Karena saya masih sebatas tahu, dia baik-baik saja. Sebatas tahu saja. Kan, nggak enak juga, malah takutnya hubungan saya dan dia jadi renggang atau gimana gitu.

Nah, dari sinilah sebenarnya kita harus koreksi diri. Bicara secara langsung namun dengan baik-baik sebenernya lebih baik, namun masih ada juga cara lain yang bisa kita lakukan untuk menasihati, atau membantu teman kita agar tidak terjerumus ke lubang yang paling dalam, tersesat, dan tak tahu arah jalan pulang. Huhuhu...

Jadi, saya hanya bisa berpesan melalui tulisan saya di blog ini : Udah, Putusin Aja! Karena saya masih belum berani untuk bicara terus terang. Semoga saya bisa menjaga komitmen saya ini. Semoga teman-teman juga bisa menjaga komitmen teman-teman, semoga kalian yang sedang pacaran segera memutuskan pacar kalian! Hehehe... Beneran, karena saya masih labil, saya juga berdoa dan tolong doakan juga, semoga saya bisa menjaga komitmen ini dengan baik. Amiinn!!

Wassalamu’alaikum!
May 10, 2013 No comments

Yak, sedikit review dan sedikit curhat –lhoh, tentang 9 Summers 10 Autumns. So, here we go.

Firstly, I am going to tell you a little secret of mine. Sedikit lebay sebenernya, tapi nggak papa juga, kan? Hehe. Bahwasanya menonton film di bioskop adalah salah satu keinginan yang saya pendam semenjak kecil. Maklum, saya tinggal di desa, meskipun sejak kecil saya sering diajak jalan-jalan ke kota, tapi yang namanya “ngintip” aja belum pernah. Padahal waktu itu saya udah di depan tangga lho!

Nah, kesempatan pun muncul ketika saya bersekolah di Kota Kediri. Jarak asrama saya ke gedung bioskop ini aja sebenernya juga nggak jauh-jauh amat. Jalan kaki aja bisa ditempuh dalam waktu sekitar 10-15 menit. Sayangnya, kami dilarang nonton bioskop. Tapi dalam hati saya bertekad, “Udah hampir tiga tahun tinggal di Kota Kediri, pokoknya sebelum saya pindah untuk melanjutkan studi, saya harus nonton salah satu film keren di sini!” And finally, setelah hanya bisa melirik berpuluh-puluh kali ke papan jadwal pemutaran film yang saya lewati hampir setiap hari pergi les, I got it! Yeayyy! –Don’t say I am a kind of lebay, please!

Jadi, saya akhirnya bisa menonton film yang paling saya tunggu kehadirannya di Golden Theatre Kediri ini, setelah beberapa hari menunggu datangnya film yang terlambat datang sambil hanya bisa memasang wajah iri dan hati yang sebal pada beratus-ratus tweet orang-orang yang dengan bangga dan senangnya udah nonton film ini. Huh!

9 Summers 10 Autumns, mengisahkan kehidupan penuh perjuangan Iwan Setyawan dan  manisnya buah perjuangan itu sendiri. Kisahnya diawali dengan Iwan Setyawan, atau lebih dikenal dengan Bayek, ketika masih baru berada di New York. Bayek memulai cerita masa lalunya ketika ketakutannya muncul akibat dirampok saat berada di dalam kereta. Pada saat itu, muncullah seorang anak kecil berseragam merah putih, yang tak lain adalah refleksi dari masa lalunya.

Bayek dilahirkan di Batu, di sebuah rumah sederhana oleh seorang ‘Ibuk’ yang sangat menyayanginya. Memiliki empat saudara perempuan, dan sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarganya membuat Bayek menjadi harapan besar bagi bapaknya. Bapaknya yang seorang sopir angkot berharap anak lanangnya itu bisa membantunya mencari nafkah, menjadi seorang laki-laki yang ‘sebenarnya’.

Sejak kecil Bayek pintar, ia sering menjadi juara kelas. Namun ternyata prestasinya itu tak membuat bapaknya cukup bangga. Ketika lulus SMA, Bayek melalui jalur PMDK (jalur masuk PTN tanpa tes) berhasil masuk IPB. Ia tahu bahwa kuliah di IPB, yang letaknya di provinsi Jawa Barat itu, bukanlah suatu perkara yang mudah bagi keluarganya, terutama bapaknya. Bapaknya bersikeras agar Bayek tetap tinggal di rumah, membantu ayahnya mencari nafkah. Namun, Bayek tetap bersikeras. Semua saudara dan ibuknya mendukungnya, meski ia tahu biaya hidup dan kuliah di sana tak cukup hanya berbekal beras saja.

Mengetahui kemantapan hati Bayek, hati bapaknya pun luluh. Ia kemudian mengajak Bayek mengendarai angkotnya yang telah berpuluh-puluh tahun menemaninya mencari nafkah. Bapaknya menjual angkot itu hanya untuk Bayek, untuk masa depan Bayek. Sejak itulah Bayek tahu bahwa ia tak boleh main-main saja, ia harus bisa membuat bapaknya bangga dan tak menyesal telah menjual angkot kesayangannya itu. Semenjak itulah perjuangan Bayek dimulai.

Sebuah kisah yang sangat menarik. Meskipun diangkat dari sebuah novel yang berjudul sama, namun film ini tak kalah seru dengan novelnya. Banyak orang yang kecewa dengan film-film yang diaptasi dari novel. Namun, menurut saya film ini lebih hidup. Dengan setting serta dialog dan prolog yang memukau, film ini menjadi lebih menarik.

Akting para aktornya pun tak kalah keren. Ihsan Tarore sebagai Bayek, Alex Komang sebagai Bapak, dan Dewi Irawan sebagai Ibuk, sukses menjadikan film ini lebih natural. Dialog dengan bahasa Jawa khas Malang serta beberapa adegan yang lucu berhasil membuat saya dan teman-teman terpukau dan tertawa. Kisah perjuangan ketika kuliah di IPB juga berhasil membuat saya buru-buru pengen kuliah. “Karena bahagia yang diwujudkan dengan perjuangan akan lebih memberi makna.”

Overall, I like this movie! “It doesn’t matter where I came from, as long as I know where I’m going." 


May 06, 2013 2 comments

Karena Vanila Berwarna Putih

“Kenapa kamu suka vanila?” Ilham menoleh padaku.
“Karena vanila warnanya putih.” Aku masih akan menjawabnya dengan kata dan intonasi yang sama seperti itu, tak kurang dan lebih selama Ilham bertanya padaku.
Ilham adalah temanku semenjak kelas satu SMA. Bertahan selama tiga tahun berada di kelas yang sama dan –oh, tidak! Kami berada di satu tempat yang sama di kampus ini dan aku harus bertahan selama empat tahun mendatang. Lagi.
“Kenapa kamu suka vanila?” adalah pertanyaan wajib yang akan dilontarkan Ilham padaku setiap kali kami membeli es krim, kapanpun itu.
Entah kenapa juga, aku tak pernah bosan menjawabnya dengan jawaban yang sama. Aku bersyukur karena Ilham sama sekali tidak pernah mengeluh.
Malam ini ia mengajakku, lebih tepatnya membantu mengerjakan tugas kuliah. Dengan iming-iming semangkok besar es krim vanila, aku pun menyanggupinya.

8.00 pm.
Sebuah mangkok besar dan beberapa buku tebal memenuhi salah satu meja di sudut kafe ini. Sekali lagi Ilham bertanya padaku, “Kenapa kau suka vanila?”
“Karena warnanya putih.”
“Seputih cintamu padaku?”
Aku diam. Ilham diam. Wajah Ilham serius.
Beberapa detik berlalu.
“Kena kau!” Ilham sontak tertawa terpingkal-pingkal.
“Kena juga kau! Aku hafal candamu!” Aku tertawa renyah, berharap Ilham tak tahu bahwa hatiku menjawab pertanyaannya. Iya.

#CerminBentang Minggu 4. Tema : Vanila
Ditulis oleh : @azzuhruf_ifa

P.S. FYI, ini adalah cerita mini 200 kata yang saya buat intuk mengikuti lomba cerita mini (cermin) yang diadakan oleh Bentang Pustaka. Alhamdulillah juga berhasil menjadi Cermin of The Month untuk bulan April 2013. Terimakasih buat semua yang udah vote dan yang udah mendoakan plus mendukung saya. Thank you so much! :D

link : http://pustakabentang.blogspot.com/2013/04/cermin-of-month-april-2013.html

untuk ulasan lengkapnya, kunjungi : http://pustakabentang.blogspot.com/2013/05/cermin-of-month-april-2013-2.html

ehm, Jadi barusan coba klik link itu dan ternyata udah nggak bisa hoho. Ya sudahlah. Jadiin kenangan saja. xoxo
May 01, 2013 6 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates