facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts

picture source: http://freehdwalls.net/

Let me clear you something, my dear friend.

You asked me who the one that dare enough to steal my heart is. So here is the answer.

He was in the same class with me for a year and now our class is just in the opposite way. We keep in touch to make our friendship last forever but I often do hope that our relationship will be more than just a friend. We frequently study together and discuss a lot of things, included some unimportant and silly stuff that made us laugh out loud. We hang out every other day to refresh our mind because of those unpredictable subjects and end the week by exploring the city with culinary session. Spending a day with him is just another thing that made me realize that life is so wonderful.

That adorable boy, I’m sure you know him better than me because it’s you, Azra. The one who cares me not more than as a brother –you told me all the time.


It’s you, my best friend ever whom I fall in love with, Azra.
May 22, 2014 No comments

First of all, saya bener-bener minta maaf sama mbak Luluk Indryas Mufida dan Iva Firdayanti karena nggak bisa memenuhi harapan kita buat nonton bareng film ini. Maaf yaa... L Yang kedua, saya sangat berterima kasih sekali kepada teman-temanku Flo, Widi, Nuril, Mega, Lia, dan Priska yang sudah mau menemani saya buat nonton. Maaf banget kalau aku kesannya ‘maksa’, bukannya ‘ngajak’ ketika mau nonton ini. Maaf juga karena telat dateng ke bioskop, sorry sorry sorry... :3

Tapi... kalian puas, kan, nonton ini?? Atau mungkin, sedikit kecewa sama seperti saya? Well, I really hope that we enjoyed and got the point of this movie guys...

Nonton film ini, gimana yaa... semakin membuat saya dan orang-orang yang punya mimpi buat keluar negeri tambah pengen keluar negeri dan membuat orang-orang yang udah keluar negeri pengen balik ke sana, gitu nggak sih?? Errr...

Kisahnya diawali ketika Hanum dan Rangga sudah berada di Eropa. Untuk mengusir kebosanan Hanum yang sendirian di apartemen tatkala ditinggal Rangga untuk kuliah, Hanum akhirnya mengikuti les bahasa Jerman. Pada saat les itu, ia bertemu dengan Fatma Pasha yang kemudian membawanya menemukan titik-titik cahaya di benua itu. Bersama Fatma dan Ayse (putri Fatma), ia pun mulai menjelajahi berbagai tempat di Eropa. Bersama mereka, Hanum juga belajar bagaimana sikap untuk menjadi agen muslim yang baik, khususnya di negara yang muslimnya menjadi minoritas.

Kisahnya sih, nggak banyak melenceng dari buku, ehm, well, sebenernya sih saya aja yang lupa bagaimana detailnya di novel, hehe. Maklumlah, sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya membacanya. Tapi yang jelas, ada beberapa hal yang pengen banget saya komentarin setelah saya menonton film ini.

Dari segi positif, two thumbs up deh karena you know, settingnya itu di luar negeri semua woy! Serasa jalan-jalan di luar negeri gitu, atau nonton tayangan travelling edisi luar negeri. Nggak henti-hentinya saya kagum sama pemandangan dan nggak henti-hentinya juga saya ‘nggremeng’: “Aku pengen kesana” atau sekadar “kereenn” atau, “pengeeeen...” sambil memasang wajah melas menarik-narik lengan jaket Flo... hiks hiks... Selain itu, adanya dialog cerdas dan menggelitik tak urung membuat kami tertawa atau pun ‘jleb’ di hati. Dakwah lewat film tuh ya kayak gini nih, kereeen....

Selanjutnya, the troubles. Satu yang sangat saya sayangkan adalah, ketika Hanum, Fatma, dan Ayse pergi ke Bukit Kahlenberg. Saya masih ingat betul cerita di novel bahwa mereka bertiga ke sana ketika hari menjelang malam. Ketika saya menulis review novel ini dulu, saya sampai bela-belain nyari foto bukit Kahlenberg ketika malam karena di novel itu digambarkan keindahan lampu-lampu yang indah ketika malam hari yang dilihat dari bukit Kahlenberg. Sayangnya, di film ini diceritakan bahwa mereka bertiga pergi ke sana ketika siang. Bagus sih pemandangannya saat siang. Keren. Tapi, kayaknya bakalan keren lagi kalo malam hari deh...

Kemudian, di tengah-tengah cerita, muncul subtitle yang salah posisi. Maksudnya, subtitlenya muncul di saat yang tidak tepat, bukan di scene yang tepat. Nah, hal ini membuat saya sebagai penonton merasa bingung karena harus fokus pada gambar yang tidak relevan dengan subtitle atau ngotot baca subtitlenya karena takutnya nanti di saat scene yang harusnya ada subtitlenya ini malah subtitlenya nggak muncul. Bingung dengan kalimat saya? Ya gitu lah pokoknya.

Namun, yang paling nggak enak di hati adalah, sesaat setelah subtitle yang salah posisi itu, muncul pula subtitle berisi keterangan ‘Coming Soon’. Hey, wait, wait, wait... yang bener aja.. Nggak mungkin juga kan ada subtitle yang pake bahasa inggris nantinya... Saya pun langsung sadar, nih film bakalan ada part dua nya... Yang bener aja! Saya udah nunggu film ini lama, dan nggak ada pikiran sama sekali kalo harus nunggu kisahnya tamat di lain hari. Hey! Nggak ada pemberitahuan sama sekali pula di jejaring sosial. Setelah kejadian subtitle ‘Coming Soon’ itu, saya pun jadi mencak-mencak sendiri di bioskop. Haduh, nasib anak kos nih ya kayak gini. Udah nekat nyisakan uang buat nonton film ini, yang saya pikir bakalan dapat ‘ending’ saat itu juga, ternyata harus nabung lagi buat nontong yang part dua. Well, it’s so surprising ladies and gentlemen. Tak ada kabar mengenai tanggal penayangan yang part dua pula... Heuh...

Okay, enough! Overall, saya sukaaa bangeeet sama film ini. Kalau dipikir-pikir sih, emang bakalan lebih bagus kalau panjang, dijadikan dua part sih nggak papa. Tapi ya, kenapa nggak dikasih pemberitahuan sebelumnya? Sekali lagi, film ini keren! Can’t wait to watch the rest of the stories...

-Jadilah agen muslim yang baik!-

P.S.

*Mbak In dan Iva, kalau kamu duduk di sampingku waktu nonton film ini, kita bakalan ‘hurig’ sendiri nonton adegan ketika Hanum dan Rangga jalan-jalan berdua atau waktu sholat bareng... hoho
*Setelah nonton ini kami menyempatkan diri buat makan bareng... No need to say saya beli makan apa, kalian tahulah... ;) (nggak penting)
December 06, 2013 No comments
picture source : https://www.oncewed.com/wp-content/uploads/2009/06/garden-wedding-reception-decor.jpg

Aku memandang ke luar jendela. Banyak orang di luar sana memakai outfit yang rapi. Laki-laki dengan jas dan para wanita dengan gaun putih yang elegan. Senyum mengembang dan tawa berderai memenuhi halaman dengan berbagai hiasan. Bunga yang menempel di pagar, musik yang mengalun dengan syahdu, atau pun makanan yang tersaji di meja panjang itu sama sekali tak bisa mengalihkan pandanganku pada satu hal. Sesosok lelaki dengan jas hitam yang sangat pas dipakainya. Ia terlihat berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang lebih tua. Membicarakan masa depan yang terkadang diselinginya dengan senyum yang membuatku lega.
Pertama kali aku bertemu dengannya di halaman ini juga, di sebuah pesta pernikahan saudara sepupuku tiga tahun yang lalu. Sama seperti yang dikenakannya hari ini, saat itu ia juga memakai jas, hanya saja dengan warna yang berbeda. Semenjak itulah kami lebih sering mengobrol.
Di halaman ini juga kami sering bertemu, mendiskusikan mimpi kami, tentang sekolah, cita-cita, pekerjaan, hingga pernikahan. Saat itu aku berpikir mungkin jodohku sudah dekat, mungkin. Ia adalah sosok yang paling nyaman untuk diajak ngobrol. Bercerita dengannya membuatku begitu lepas, tak ada beban, dan ia adalah pendengar –serta pemberi solusi yang sangat baik.
Aku selalu berharap bahwa dia lah yang akan memenuhi mimpiku. Mimpi sebagai seorang wanita. Mimpi sederhana yang menyempurnakan sebagian ibadah kami. Aku hanya berharap bahwa setiap kali aku membuka mata di pagi hari, yang kupandang hanyalah wajahnya, senyumnya yang begitu memikat. Senyum yang membuatku jatuh hati. Senyum menawan yang saat ini menghiasi wajahnya yang sangat berbahagia menyongsong pukul sepuluh pagi ini. Senyum yang akan lebih mengembang lagi ketika ia mengucapkan janji suci di hadapanku, di hadapan kami semua.
Aku hanya berharap, ia akan mengucapkan janji suci itu pada wanita yang tepat. Wanita yang saat ini sedang menuruni tangga dengan gaun pengantin panjang. Aku hanya berharap, wanita itu akan mendapatkan segala mimpi-mimpiku selama ini –mendapatkan kebahagiaan yang selalu aku dambakan hingga detik ini.
December 06, 2013 No comments
picture source : http://www.atjehtoday.com/media/articles/625.jpg
Setelah menamatkan dua novel dari Bang Ahmad Fuadi sebelumnya, Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, rasanya kurang afdhol jika tak menyelesaikan trilogi ini. Dan, well, jika kau sudah membaca keduanya pun kemungkinan besar sudah sangat penasaran dengan kelanjutan kisah Alif Fikri.

Setelah menyelesaikan studi di luar negeri dengan beasiswa yang didapatnya yang diceritakan di novel Ranah 3 Warna, Alif Fikri kemudian mulai melanjutkan hidupnya di tanah Indonesia tercinta. Alif kemudian menyelesaikan kuliahnya di Bandung dan bertekad mencari kerja.

Awalnya hidup Alif baik-baik saja mengingat ia sudah sering menulis di media massa dan mendapatkan honor yang cukup untuk hidupnya. Namun, setelah krisis moneter yang melanda Indonesia di zaman Soeharto, keadaan ekonomi Alif pun juga mulai goyah. Beberapa media massa yang seringkali memuat tulisannya mulai berkurang. Alif pun juga sempat mengalami anacaman debt collector setelah nekat mengambil uang dari kartu kredit dan belum bisa membayarnya.

Setelah berpuluh-puluh lamaran ia layangkan ke berbagai perusahaan, ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai seorang wartawan di majalah Derap, majalah yang pada saat itu berani mengungkap fakta tanpa tedeng aling-aling mengenai kondisi pemerintah Indonesia. Di sana lah ia kemudian berkenalan dengan Dhinara, seorang gadis yang juga berprofesi sebagai seorang wartawan baru.

Meski pun sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya di Derap, namun Alif berpikir mengenai pekerjaannya itu. Mendapat tantangan dari Randai membuat semangat Alif untuk melanjutkan kuliah di luar ngeri lagi kembali muncul. Ia, dibantu dengan Dhinara, saling membantu untuk belajar Bahasa Inggris dan TOEFL. Alif akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri kembali. Namun sebelum ia pergi, ia dirisaukan oleh sikap Dhinara yang mulai menjauh darinya.

Daaaan....... bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Dhinara selanjutnya?? Saya nggak mau spoiler di sini, jadi jika kalian tertarik untuk melanjutkan kisah mereka berdua yang jauh lebih menarik, segeralah berburu novel ini secepatnya yaa.... hehehehe :D

Jujur, saya mulai menyukai novel Bang Ahmad Fuadi setelah membaca novel yang kedua, Ranah 3 Warna. Dan sesuai harapan, novel ini memenuhi ekspektasi saya. Kereeen, dan sepertinya tambahan romansa cinta membuat para cewek yang membaca halaman 237-240 jadi melting deh kayaknya... so sweeett, guys, bener!!!


Semogaa.... saya bisa menulis novel yang keren seperti ini. Mengingat saya agak susah kalau disuruh menulis tentang kisah diri saya sendiri, sehingga novel ini benar-benar membuat saya kagum pada Bang Ahmad Fuadi yang dengan ceritanya tak membuat saya bosan membaca hingga akhir!
September 22, 2013 No comments
pic source : http://the-marketeers.com/wp-content/uploads/2012/10/bendera-indonesia.jpg
Kami masih duduk di tepi sungai ketika Bu Widya –satu-satunya guru di sekolah kami, berteriak nyaring memanggil murid-muridnya yang hanya berjumlah lima belas orang. Hari ini adalah hari istimewa, tepat tanggal 17 Agustus –aku baru saja menengoknya di kalender. Hebat bukan main, bukan, kemampuan membacaku. Aku masih duduk di kelas satu SD dan aku bangga akan hal itu.
Tak lama kemudian, kami sudah berbaris rapi menghadap tiang bambu yang berdiri kokoh di tengah halaman. Tiga orang yang berbadan lebih jangkung di antara kami berderap sigap membawa kain berwarna merah putih mendekati tiang itu.
Ketika sang pemimpin berkata dengan tegas, “Hormat, grak!”, kami mulai menyanyi dengan suara yang lantang.

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku


Hingga kata ‘raya’ bait terakhir, kami belum juga menurunkan tangan. Mataku masih menatap bendera merah putih yang berkibar di pucuk tiang dengan gagahnya. Jikalau banyak orang yang mengeluh untuk berdiri seperti ini, kami malah berharap bisa lebih lama berdiri untuk mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa demi bangsa ini. Ini adalah ucapan terima kasih kami untuk mereka yang telah memerdekakan Indonesia, yang tanahnya kupijak saat ini. Tanah surga di mana sekolah kami yang hampir roboh masih berdiri.
August 17, 2013 No comments

Ella adalah seorang gadis cantik dan pintar namun sedikit judes. Ia mempunyai sahabat bernama Maya yang lebih feminin. Sudah berteman dan sebangku sejak kelas satu SMA dan berlanjut hingga kelas tiga. Meski Ella adalah orang yang agak tertutup, namun Maya paham jikalau ia memang sedang tidak ingin curhat apabila ia ada masalah. Yah, meski pun sebenarnya Maya belum benar-benar paham akan karakter sahabatnya itu.

Ketika duduk di kelas tiga, menjelang ujian nasional, Ella mendapat cobaan. Papa dan mamanya hendak bercerai dan Ella benar-benar frustasi akan hal itu. Semakin lama Ella semakin tidak peduli pada sekolahnya. Ia bolos berhari-hari menjelang keputusan dan pasca perceraian kedua orang tuanya. Maya awalnya tak mengetahuinya karena Ella benar-benar menutup diri. Ella pun juga menghindar dari Maya. Namun setelah Maya mengetahui alasan Ella, Ella pun mendapat semangat lagi untuk bersekolah.

Di lain pihak, kehidupan Maya mulai mencerah. Setelah papanya meninggal, kini mamanya mulai mendapatkan sosok baru yang bisa mendampinginya. Awalnya Maya benar-benar senang akan kebahagiaan mamanya itu, meski pun mamanya masih merahasiakan identitas si pria yang telah mengambil hatinya. Mendengar kabar tentang kebahagiaan mama Maya, Ella pun turut bersuka cita atas sahabatnya itu.

Ketika waktu pertemuan Maya dengan calon papa barunya itu, Ella mengantarnya. Namun, di sinilah konflik mulai muncul lagi. Calon papa baru Maya tak lain tak bukan adalah Papa Ella sendiri. Mengetahui hal tersebut, Ella shock, begitu juga Maya. Semenjak itu masalah pun mulai bermunculan yang membuat jarak di antara dua sahabat itu mulai merenggang.

Awal cerita ini memang agak datar menurutku. Menceritakan masalah keluarga Ella dan nostalgianya dengan Mbok Iyem membuatku agak bosan. Hingga ketika diperkenalkannya tokoh Mama Maya yang seingatku muncul di separuh perjalanan membaca buku inilah yang membuatku tertarik. Dengan adegan tiba-tiba yang mengungkapkan bahwa Mama Maya sedang dekat dengan seorang pria, alur selanjutnya sudah tertebak olehku. Karena masih ragu, aku pun semakin tertarik dengan hipotesaku yang akhirnya terbukti. Hehe. Namun, setelah terbukti itulah yang semakin membuatku penasaran dengan ending ceritanya. Agak sulit menebak memang. Karena memang, ending cerita ini tidak sesuai dengan ekspektasiku yang aku harap akan happy ending dengan romansa cinta antara Ella dan Rama, si ketua kelas yang telah banyak membantu Ella dan Maya. Atau paling nggak kisah ini akan diakhiri secara happy mengenai keluarga Ella. Bukan itu juga. Karena setelah membaca sinopsis singkat di balik cover buku ini aku jadi paham bahwa ini adalah kisah tentang persahabatan antara Ella dan Maya. Karena, jujur, menurutku endingnya terlalu menggantung. Menurutku.

Penulis : Rhein Fathia
Penerbit : Bunyan
Cetakan : pertama, Juli 2013

Jumlah halaman : vi + 174 halaman
August 11, 2013 No comments

Totto-chan tak tahu bahwa dirinya dikeluarkan dari sekolah dasar ketika masih kelas satu SD. Ibunya hanya bilang bahwa ia akan pindah sekolah. Gurunya yang lama mengatakan bahwa Totto-chan anak yang nakal. Hal itulah yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah.

Untungnya Ibu Totto-chan menemukan sekolah dasar yang pada akhirnya disukai –dicintai oleh Totto-chan, Sekolah Dasar Tomoe. Sekolah yang menjadikan bekas gerbong kereta sebagai kelas membuat Totto-chan benar-benar tertarik. Pertama kali ia masuk ke sekolah itu, ia bertemu dengan Kepala Sekolah Tomoe, Sosaku Kobayashi. Meskipun dengan gigi yang sudah ompong, Totto-chan tau bahwa Mr. Kobayashi adalah orang yang baik dan Totto-chan sangat nyaman berada di dekatnya, terlebih setelah mendengarkan Totto-chan bercerita padanya selama empat jam.

Di sekolahnya yang baru, Totto-chan mendapat banyak teman dengan berbagai karakter dan kondisi. Ada temannya yang cacat karena terkena polio, namun ia bisa bersahabat baik dengannya. Bahkan ia rela berbagi pohonnya secara rahasia. Selain itu, ia amat menikmati pelajaran di sekolahnya karena setiap murid bisa memilih pelajaran yang akan mereka kerjakan terlebih dahulu setiap pagi. Bebas, tergantung apa yang mereka suka. Totto-chan selalu semangat untuk berangkat pagi dan pulang lebih lama di Sekolah Dasar Tomoe, begitu juga teman-temannya.

Sama sekali tak menyangka bahwa ada sekolah seperti Tomoe. Awalnya saya mengira bahwa ini adalah sebuah novel, novel fiksi. Namun yang menarik, ini semua berdasarkan kisah nyata, nonfiksi, realistis, lebih jelasnya, benar-benar ada dan terjadi di masa lampau. Mengingat peristiwa yang terjadi adalah ketika masa perang Asia Pasifik, sepertinya mustahil membayangkan ada sebuah sekolah dengan gerbong kereta sebagai kelasnya, dengan hanya lima puluh siswa yang belajar di sekolah Tomoe, bisa memilih mata pelajaran yang disukai untuk dikerjakan lebih dahulu, dan ada berbagai kegiatan asyik yang berlangsung selama di Tomoe. Tapi ini adalah kisah nyata, kisah tentang Tetsuko Kuroyanagi yang dulu pernah dikeluarkan dari sebuah sekolah dasar ketika kelas satu SD karena dianggap nakal oleh gurunya kemudian bersekolah di Tomoe yang mengajarkannya banyak hal yang tidak didapatkannya apabila ia belajar di tempat lain.

Saya juga terkejut ketika membaca catatan akhir buku ini. Bahwa buku ini menjadi best seller dan membuat sejarah di dunia penerbitan Jepang serta menjadi buku wajib pendidikan. Saya sangat bersyukur bisa membaca buku ini. Melihat sistem pendidikan di Indonesia seperti ini, saya benar-benar iri pada Tetsuko Kuroyanagi yang dulu bersekolah di Tomoe. Pasti menyenangkan apabila saya bisa belajar dengan bebas seperti di Tomoe.


Setelah membaca buku ini, saya berharap ada sekolah yang seperti Tomoe di masa sekarang dan saya bisa melihatnya secara langsung. Saya juga berharap sistem pendidikan di Indonesia akan jauh lebih baik lagi di masa mendatang. Amiin. Terakhir, terima kasih kepada Neni Alya yang sudah meminjamkan buku ini *modus*. Strongly recommended!

Penulis                 : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa         : Widya Kirana
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : keempat belas, Mei 2013

August 11, 2013 2 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates