facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts


Beberapa minggu yang lalu, saya dikejutkan oleh teman saya, karena ia sudah mempunyai Perahu Kertas yang part II. Entah mengapa saya sudah tidak seheboh dulu lagi, ketika mendapatkan PK I. Saya juga tidak buru-buru ingin menontonnya. Namun, karena keinginan teman-teman sekelas, akhirnya nobar pun dimulai. Mumpung ada bioskop gratis. Hehe.

And right, according to my prediction, the second part is better than the first. Kenapa? Karena cerita di part II lebih mendetail. Hal ini dapat diprediksi karena pada part I alurnya benar-benar cepat. Jika membaca novelnya, mungkin lebih dari setengah novelnya ada di part I.

Jadi, bagusnya di part II ini cerita bisa lebih mendetail, dan saya malah merasa alurnya jadi lambat banget, gara-gara udah nonton yang pertama mungkin ya. Tapi, ada satu yang membuat saya tidak nyaman menontonnya. Entah karena filmnya sendiri, sound di kelas saya, atau entah apa, saya (dan teman-teman sekelas) tidak bisa mendengar suara filmnya dengan jelas. Kami benar-benar tidak nyaman dengan hal itu.

Apalagi ya??? Oh, iya. Soal akting. Kami semua jadi terkesan dengan aktingnya mas Reza Rahadian. Waktu putus dengan Kugy di tepi pantai itu, banyak dari kami yang tidak rela. Kasihan banget sama Remi. Waduh.... Itu tandanya aktingnya mas Reza Rahadian bagus.... Hahaha.

Apalagi nihhh...??? Yang terakhir aja ya. Adegan terakhir di film ini. Ada penambahan ending. Kalau di novel, cerita cuma sebatas Kugy jadian sama Keenan trus menikah. Kugy juga diceritakan sedang mengandung buah hatinya dengan Keenan, the next K. Nah, sebelum itu diceritakan bahwa Remi jadian sama Siska, partnernya Remi. Wah, kalo itu kami semua yang nonton nggak setuju.... hehehe...

p.s : Semua review ini murni subjektif saya, kalo ada yang tidak setuju, nggak apa-apa ya... komentar di bawah aja... hehehe (#ngarep komentar) :D

January 28, 2013 No comments


Written and directed by Doug Atchison, this movie got many awards. That’s why this got many positive reviews. Not only tells about the discrimination, it also gives us a lot of moral values.
Akeelah and The Bee is about akeelah anderson,  a bright 11-year-old girl who studies in  a black school in South Los Angeles. Because of her great ability in spelling, she is encouraged by her school to join the regional spelling bee contest. Firstly, Akeelah refuses to join, but because of her condition she finally get the chance to go to the higher grade of the contest. By help of Dr. Larabee, her coach, Akeelah get a lot of valuables experience she never expected. She also change her attitude during the studying time with him. She learns that everything could be achieved if she always believes in her ability and never afraid to get the things she wants.


Even got many obstruction from her families, she can handle the problem and makes better situation than before. And after passed the hard time, by support of her mother, brother, friends, and her coach, she made the final become the precious thing that she can give to all people who always support her.
Keke Palmer’s (Akeelah anderson) ability in acting make the spectator get involved in her emotion. She really gives the best in becoming the main role. It makes the movie become very interesting.
Not only interesting, but this movie also gives us a lot of moral values. Akeelah Anderson, as an African American girl participation in National Bee Contest teach us that everyone should get the same right in all aspect of the life. It also teachs us to believe in our ability so we can achieve all of our dreams.
Inspite of the positive critics, some people was not satisfied with the plot and the action of the child. They assure that they can guess how was the ending and they do not agree about the romantic scene between Akeelah and Javier. But there are still many people who can enjoy the plot till the ending.
To sum up, Akeelah and the Bee is one of the best movie that not only gives us the good story but also the moral values for everyone in the world. 
January 25, 2013 1 comments





Ame furi Basu tei (raining at the bus stop)
Zubunure  Obake ga itara (if there's a drenched ghost,)
Anata no Amagasa   Sashite agemasho (let him under your umbrella)
Mori e no pasupooto (the passport to the forest,)
Mahou no tobira Akimasu (the magical door will open)

Tonari no To to ro   Totoro   To to ro   Totoro (my neighbor to to ro totoro to to ro totoro)
Tsukiyo no ban ni   Okarina fuiteru (it blows upon its ocarina on the night if the moon)
Tonari no To to ro   Totoro   To to ro   Totoro (my neighbor to to ro totoro to to ro totoro )
Moshimo aeta nara   Sutekina shiawase ga Anata ni kuru wa (if you ever meet him, a wonderful happiness will 
come to you)

Pernah dengar lagu itu? Yap, dua bait di atas adalah OST nya film zaman dulu namun sangat populer : My Neighbor Totoro. Saya aja belum lahir waktu itu, tepatnya tahun 1988, dan setelah kurun waktu lebih dari dua dekade barulah saya bisa menontonnya beberapa minggu yang lalu. Hal itu pun ternyata tak mengurangi kekaguman saya terhadap film yang pernah memenangkan Animage Anime Grand Prix dan Mainichi Film Award untuk film terbaik pada tahun 1988 itu.
Bersetting di sebuah desa yang indah, film ini mengisahkan profesor Tatsuo Kusukabe dan kedua putrinya, Satsuki dan Mei yang baru saja pindah rumah agar lebih dekat pergi ke rumah sakit untuk mengunjungi ibunya. Di desa itu, mereka tinggal di sebuah rumah kuno yang terletak di dekat hutan. Setiap hari mereka berdua menghabiskan waktu bermain di halaman samping rumah yang luas dan hijau tersebut.


Suatu hari, ketika Satsuki sedang pergi ke sekolah, Mei yang bosan bermain sendirian di halaman bertemu dengan makhluk kecil yang kemudian membawanya masuk ke dalam hutan. Setelah menerobos semak-semak panjang akhirnya Mei berhasil mengikuti makhluk kecil itu hingga ke Pohon Champor di mana ia bertemu dengan makhluk besar yang sedang tertidur lelap, Totoro.


Satsuki yang awalnya tidak percaya kepada Mei atas pertemuannya dengan makhluk penjaga hutan itu akhirnya menyadari kesalahannya ketika ia dan Mei sedang menunggu ayahnya pulang dari universitas di halte. Ketika hujan mengguyur dan Mei tertidur lelap dalam gendongannya, sang makhluk besar itu muncul di sampingnya, berpayungkan daun kecil yang hanya melindungi kepalanya. Sejak saat itulah mereka melalui hari-hari bersama Totoro si penjaga hutan dengan berbagai keajaiban dan petualangan yang seru.


Menonton film ini rasanya saya diajak kembali lagi ke alam, ke sebuah desa yang masih sangat alami, terjaga dari berbagai polusi. Ingin rasanya pergi ke desa itu, masuk ke dalam hutan, bermain di sungai, dan bermain dengan teman-teman di halaman yang hijau.
Tak hanya sensasi alam, sepanjang kisah kita akan dihadirkan dengan berbagai adegan lucu Mei dan Totoro yang super duper imut. Kisah persahabatan, kekeluargaan, kebersamaan, bahkan gotong royong merupakan nilai-nilai moral yang akan kita dapatkan seusai menonton film produksi Studio Ghibli yang keren ini.


Nah, tertarik untuk menonton? Nih, saya kasih link trailernya biar penasaran, eh buat referensi... Enjoy it!

Watch Trailer My Neighbor Totoro



Referensi :
http://en.wikipedia.org/wiki/My_Neighbor_Totoro
http://www.animelyrics.com/anime/totoro/tttotoro.htm
January 17, 2013 No comments

Selene, Putri Sang Cleopatra



Kekuasaan. Intrik. Kecemburuan. Hasrat. Ambisi. Cinta segitiga. Di tengah prahara ini, putri dari Cleopatra, ratu Mesir yang paling terkenal, berjuang untuk menemukan cinta dan takdirnya...

Perkawinan Cleopatra dan Mark Antony tak hanya menjadi salah satu kisah cinta paling agung sepanjang masa, namun juga yang paling rumit dengan ambisi dan konsekuensi politik yang terjalin di dalamnya. Mereka mempunyai tiga anak: si kembar Alexander dan Selena, serta si bungsu Ptolemy. Ketika Kaisar pewaris takhta kerajaan Mesir, ia membawa ketiga pewaris takhta kerajaan Mesir ini kembali ke Roma sebagai tawanan, namun tidak semuanya dapat bertahan hidup. Di negeri yang asing itu, sisa keturunan Cleopatra harus menghadapi bahaya dan ambisi pribadi keluarga Oktavianus, seraya berjuang meraih hasrat dan keinginan mereka sendiri.

Mengisahkan Putri Selene, salah satu putri dari Cleopatra, dan saudara kembarnya Alexander yang harus hijrah ke Roma setelah ayah mereka, Markus Antonius, mengalami kekalahan. Cleopatra sendiri akhirnya bunuh diri dan ketiga anak mereka, Ptolomeus, Selene, dan Alexander pun dibawa ke Romawi oleh Oktavianus. Di sana mereka tinggal bersama Oktavia yang memperlakukan mereka dengan sangat baik meskipun orang-orang di sekitar mereka masih menganggap mereka orang-orang Mesir yang seharusnya dimusnahkan.

Berada di Romawi, Selene yakin bahwa kehidupannya dan saudara kembarnya adalah mutlak di bawah tangan Oktavianus. Setelah kehilangan saudaranya yang masih kecil, Ptolemeus, ketika dalam perjalanan ke Romawi, ia semakin bertekad agar ia bisa kembali ke Mesir.

Selama di Romawi ia semakin mengasah kepandaiannya dalam bidang arsitektur meski masih sangat belia. Dengan menunjukkan bakatnya itu ia berharap bahwa Oktavianus tidak akan membunuhnya maupun saudara kembar yang sangat disayanginya itu. Berada di Romawi juga membuat Selene ikut terlibat dalam urusan politik kerajaan. Dengan munculnya kelompok Elang Merah yang menentang perbudakan, Selene semakin yakin bahwa ia akan mendapatkan celah untuk bebas dari Oktavianus.

Di Romawi itu juga ia bertemu dengan Marcellus yang memikat hatinya. Namun sayangnya kisah cinta mereka harus terhalang setelah Marcellus dinikahkan dengan Julia. Ditambah dengan kematian Alexander, Selene harus mengalami masa-masa yang berat selama di Romawi. Dengan berbagai halangan itu, Selene memutuskan untuk tetap berusaha mendapatkan kebahagiaan dan cinta yang telah hilang selama berada di Romawi.

Membaca novel sejarah ini, bukan berarti Anda akan dihanyutkan oleh cerita dongeng zaman dahulu kala. Lebih dari itu, setiap membalik kertas adalah sebuah emosi untuk bertahan mengikuti rasa penasaran tentang kelanjutan kisahnya. Michelle Moran berhasil membuat bahasa yang indah untuk dibaca. Baru kali ini saya membaca novel sejarah yang tidak membosankan. Kisah tragis yang dialami Selene membuat saya tak dapat berhenti membaca untuk mengetahui akhir ceritanya. Meskipun harus berkali-kali bertemu dengan istilah-istilah asing, alur yang menarik membuat novel ini tak sekadar novel, namun juga mengajarkan kepada kita kehidupan sejarah masa lalu.

Benar-benar tak dapat ditebak hingga halaman terakhir!
January 15, 2013 No comments


Image source : http://myonepercentaday.files.wordpress.com/2011/01/compassion.jpg

It has become a common thing when most of teenagers have had boyfriend or girlfriend. However, there are still many teenagers that cons of having boyfriend or girlfriend considering the benefits of it.
Many people think that having a boyfriend or girlfriend can become a motivator for them. Not only in studying, a boyfriend or girlfriend can also motivate them in doing something or reaching our dreams. The presence of a special person will encourage us to do something.
Having a person that is very close to us make us freely  to share our peoblems. A good boyfriend or girlfriend will give us an advice or some solutions. By sharing our problem, we can decrease our burden too.
In addition, people who has boyfriend or girlfriend are considered that they have a good interaction. People who has a good interaction can attract many people and make other feel comfort when beside him or her.
On the other hand, many people also think that having a boyfriend or girlfriend just wasting the time. They should provide more time for their boyfriend or girlfriend beside of their study or other useful thing. It also disturb the concentration when they are studying.
Furthermore, if we can’t control or manage ourselves, our boyfriend or girlfriend can influence us to do bad things such as free sex or other criminal action. These effects can decrease the moral of teenagers nowadays.
Considering pros and cons above, our choice to have a boyfriend or girlfriend should be thought furthermore. Many people think that by having a boyfriend, we can be motivated. Nevertheless, there are still many people believed that it just waste the time. So, it just depends on our choice how to choose the best.
December 12, 2012 No comments


Pertama kali membaca novelnya, saya sangat-sangat penasaran bagaimana kalau this great novel dijadikan film. Pasti bakalan keren abis!! Saat membaca pun, saya selalu terbayang wajah si Kugy, Keenan, Luhde, Remi, Noni, Eko, dst... Si Kugy yang acak-acak an, Si Keenan yang gondrong, Si Luhde yang cantik, dst juga...
Sewaktu booming kalau Perahu Kertas ini bakalan dijadikan film beneran, saya dan teman-teman seringkali menebak-nebak siapa saja yang akan memerankan para tokoh-tokoh ini. Sewaktu bulan Agustus pun saya selalu menanti-nanti nih film bakalan cepet keluar di bioskop Kediri. Tapi baru sekitar satu bulan kemudian setelah premiere Perahu Kertas ini bisa berlayar di Kediri.
Pertamanya saya ngotot banget mau nonton sama teman-teman. Namun, gara-gara harga tiketnya yang cukup mahal (bagi pelajar seperti saya) akhirnya kami mengurungkan niat dan memendam rasa untuk bisa melihat cerita ini dalam bentuk kisah nyata.
Setelah empat bulan berlalu, tepatnya pada bulan Desember ini, ketika sepupu saya mengabari saya kalau ia sudah “menemukan” perahu yang populer itu, saya girang tak terkira. And finally I got it!
Sekilas review, di versi filmnya, Kugy diperankan oleh Maudy Ayunda, Keenan diperankan oleh Adipati Dolken, Remi diperankan oleh Reza Rahadian, Luhde diperankan oleh Elyzia Mulachela, dan untuk lebih lengkapnya silahkan buka wikipedia di sini , hehe... Disutradarai oleh Hanung Bramantyo, film ini meraih kesuksesan yang cukup besar. So, let me tell you my review about this film.
Cerita diawali dengan kepindahan Kugy ke Bandung yang kemudian dilanjutkan menjemput Keenan di stasiun. Proses selanjutnya nggak jauh beda sama yang di novel. Namun, yang namanya film pasti beda sama novelnya. Terus, yang beda apa???
Pertama, saya kira proses pertemanan Kugy dan Keenan cepet banget di film, sehingga kesannya tuh dua anak gak kelihatan saling jatuh cinta. Terus, ada bagian yang waktu Kugy dan Keenan pulang bareng naik kereta api, kemudian kereta apinya berhenti gara-gara ada longsor. Seingat saya, mereka berdua makan bareng di warung kecil terus kehujanan. Tapi di filmnya cuma diceritain turun dari kereta api, terus ngobrol singkat gitu. Padahal menurut saya itu salah satu bagian yang penting. Kalo di novel judulnya : "Bulan, perjalanan, kita.". Terus suasananya yang di novel ngena banget buat ngungkapin perasaan mereka berdua, romantis. Nah, satu lagi yang cukup penting. Saya merasa cukup boring sama dialog-dialog mereka. Padahal kalo baca di novel tuh nggak bisa berhenti senyum, malahan sampai ngakak abis.
Dibandingkan dengan film-film adaptasi novel lain yang sering buat penggemarnya kecewa, menurut saya film ini cukup bagus membuat para penggemar novelnya merealisasikan tokoh-tokoh novelnya dalam dunia nyata, meskipun ada juga yang kecewa. So, setelah melihat yang part I saya jadi lebih penasaran sama yang kedua. Just waiting the second “paper boat” released... :D
Sekian review saya tentang perahu kertas part I kali ini, semua tulisan saya murni dari pendapat saya. Jadi, kalo ada yang mau beda pendapat sama saya juga silakan... Ini kan negara democrazy, eh demokrasi maksudnya...

December 12, 2012 No comments


Sebuah cerita tentang Srintil, seorang gadis muda yang “terpilih” menjadi seorang ronggeng.

Berlatar tempat di sebuah desa yang terpencil dan terpuruk, Dukuh Paruk. Kehadiran seorang ronggeng di sana adalah sebuah berkah bagi mereka. Kehadiran seorang ronggeng juga lah yang berhasil menumbuhkan semangat hidup mereka kembali.

Awalnya Srintil sangat senang dirinya “terpilih” menjadi seorang ronggeng. Namun untuk bisa menjadi seorang ronggeng sejati ia harus melewati berbagai ritual yang sangat tidak etis dilakukan di zaman sekarang ini. Namun, degan kehadiran Rasus, sahabat yang selalu setia mendampinginya, ia berhasil melewati segala tantangan untuk naik tingkat menjadi ronggeng di usia kurang dari 15 tahun.

Waktu pun berlalu, kehadiran ronggeng Srintil di Dukuh Paruk telah berhasil mengangkat kembali nama dukuh ini hingga luar daerah. Penampilan Srintil pun menjadi sorotan setiap insan. Penampilannya di setiap panggung pun juga tak pernah sepi pengunjung. Kererotisannya pun semakin menjadi-jadi.

Namun keputusan Srintil inilah yang membuat Rasus semakin menghindar. Semua bayangan Rasus tentang ibunya yang ada pada diri Srintil lama-kelamaan memudar. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi dari Dukuh Paruk, meninggalkan Srintil yang menyimpan hati untuknya dan neneknya sebatang kara.

Pada tahun 1965, ketika  Indonesia digentarkan oleh ulah PKI, maka Dukuh Paruk pun juga dijadikan sasaran. Para pengikut ronggeng difitnah dan akhirnya ditahan, termasuk Srintil. Bertahun-tahun Srintil dijadikan sasaran dan tak diperbolehkan pulang.

Ketika Srintil sudah bebas, ia pun merubah segala tingkah lakunya. Semua penduduk desa pun juga sudah mulai merubah diri. Tak ada lagi pementasan ronggeng. Namun, Srintil nampak kosong. Srintil yang mulai bernjak dewasa ini merasa kehilangan, kehilangan seseorang yang telah menjadi sahabatnya, sahabat yang setia melindunginya, sahabat yang perlahan-lahan dicintainya.

Di tengah-tengah kehampaannya itu, muncul seorang lelaki bernama Bajus. Srintil merasa Bajus beritikad baik dengannya, maka ia pun menjalin persahabatan yang baik dengannya.  Tetapi di tengah-tengah kehampaannya itu juga, muncullah Rasus, Rasus yang telah menjadi seorang tentara. Semua orang di Dukuh Paruk tahu bagaimana perasaan Srintil terhadap Rasus. Mereka akhirnya meminta Rasus untuk menikahi Srinbtil, gadis cantik yang dicintai semua orang Dukuh Paruk. Rasus yang belum berani namun sebenarnya memiliki perasan pada Srintil akhirnya memutuskan untuk pergi lagi. Meninggalkan Srintil lagi.

Beberapa tahun setelah Rasus merampungkan urusannya, ia kembali lagi Dukuh Paruk. Namun alangkah terkejutnya ia ketika bertemu Srintil. Srintil yang telah berubah. Srintil yang dikhianati oleh seorang lelaki bernama Bajus. Srintil yang hilang harapan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Rasus benar-benar menyesal. Namun waktu tak dapat diputar kembali. Rasus mendapati Srintil terpojok di sudut kamarnya. Sesaat menangis, sesaat tersenyum, sesaat berteriak. Srintil benar-benar sudah berubah. Srintil telah gila.
November 20, 2012 2 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates