facebook google twitter tumblr instagram linkedin
  • Home
  • Travel
  • Life Style
    • Category
    • Category
    • Category
  • About
  • Contact
  • Download

az-zuhruf

some stories and thoughts


Happiness might come in a sudden and make us feel the joy of the world. It might because we get a stuff that we have been long desire, receive a news that might change our life, win a tournament for the first or umpteenth time, or many other else. Expressing the joy, however, in many situations leads us to overact that we cannot control ourselves to exaggerate it. We want others to know how it feels but we do not realize that it might annoy them. Thus, in expressing the delight, we should be able to be grateful, share the joy in an appropriate way, and make sure that it does not bother other people and surroundings.

The first thing that we have to do when we are happy is to be grateful. Thanking God for what we receive and have the smile on our faces which does not fade easily is a must. We should be able to understand that the happiness only comes from The Almighty. We just cannot claim that what we achieve and makes us so bright comes from ourselves, from our struggle without any help from others. People who succeed and happy indeed are those who are able to be grateful for what they receive and realize that the joy does not merely come from himself or herself. Never will those people arrogantly say that it is they who can finally raise the happiness itself because they know that happiness does not last forever.

In addition, happiness is something that we should share with other people. Once happiness shines from our eyes, people around us can easily detect it. Even the smile speaks better than words to explain the joy so it is rarely that simple to hide the feeling. Sharing the joy to other people can add the joy in ourselves, though. We can perhaps encourage them to smile, too, so instead of getting the joy for ourselves we can feel it together with our friends, making a better and more comfortable atmosphere through the joy in the air.

Happiness is meant to be shared but if we do it wrong we otherwise irritate our surroundings. People who are so happy may unconsciously scream, smile endlessly, dance in the middle of the room, or do any other strange activities. Mark Strand in his poem Eating Poetry on the fifth stanza expresses the joy happening in a person in a very good way, "She does not understand. When I got on my knees and lick her hand, she screams." Line 13 and 14 of this poem symbolize that people around us might not understand our feeling of joy. We out of blue hug our closest friends, kiss our parents or do other peculiar things but we do not realize that our action might annoy them. Furthermore, if we cannot control our joy it might endanger our surroundings, too. Thus, controlling our action while feeling happy is important in order not to make other people feel bothered with us.

In conclusion, I can say that there are at least three things that we have to notice in expressing our joy. We have to be grateful to God, share the joy to other people, but we also need to make sure that when sharing the happiness we do not irritate other people. In short, we have to be careful in expressing our whole happiness.

February 13, 2016 No comments

Tangannya bergerak meraih selimut namun tiba-tiba saja ia terjaga. Matanya menulusuri ruangan kamar kos yang gelap lalu tangan kanannya bergerak ke samping mencari posisi ponselnya. Ia mengusap layar dan mendapati penanda waktu di bagian ujung menunjukkan tepat pukul 00.00 WIB. Perempuan itu sadar bahwa tepat pada saat itu umurnya sudah tak lagi sama seperti satu menit sebelumnya. Ia sudah beranjak dewasa. Ketika ia hendak memutuskan untuk tidur lagi, ponsel di tangannya bergetar. Sebuah pesan dari sahabat sekolahnya muncul, mengucapkan selamat dan beberapa baris doa untuknya. Ia tersenyum, namun jauh dalam hatinya ia sedang menunggu ucapan dan doa dari orang lain.

Menjelang tengah hari, puluhan ucapan dan doa mengalir membanjiri timeline facebooknya. Di sela-sela kesibukannya membalas pesan, laptop di mejanya itu menimbulkan bunyi-bunyi nyaring menandakan pesan masuk. Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar tak henti. Semuanya berisi ucapan selamat dan doa. Betapa bahagianya ia mendapat puluhan doa hari itu. Namun sekali lagi, ia masih saja menunggu.

Pukul tiga sore, ketika ia bersiap-siap menuju perpustakaan, ponselnya bergetar lagi. Bukan, itu bukan pesan dari orang yang ditunggunya. Namun pesan itu membuatnya cukup terkejut tatkala ia membaca nama si pengirim, adik tingkatnya. Hatinya bertanya-tanya, bagaimana mungkin adik tingkatnya itu bisa tahu dan masih sempat-sempatnya mengirim sms di sela-sela kesibukannya mengikuti ujian akhir. Lalu ia tersadar bahwa mereka yang lebih memilih sms atau mengirim lewat chat mungkin ingin pesannya langsung dibaca olehnya. Sayangnya, orang yang ditunggu-tunggu hingga saat itu lebih memilih tidak dua-duanya.

Pada akhirnya, setelah lelah menunggu, ia pun pasrah. Bukan pasrah yang tulus namun lebih mengarah kepada kecewa. Orang yang ditunggu-tunggu itu, orang yang sudah dianggapnya sebagai sahabat terbaik meski pun baru berkenalan selama satu setengah tahun, orang yang hampir saja mencuri separuh hatinya, tetap saja tak muncul memberi pesan. Sudah puluhan kali ia mengingatkan dirinya, "Mungkin ia lupa. Mungkin ia sibuk. Mungkin." namun semuanya gagal. Ia sudah terlanjur kecewa. Ia bahkan masih menunggu sahabatnya itu sekadar mengucapkan 'happy belated birthday'. Terlambat, harapannya sudah pupus.

Perempuan itu hanya tak tahu, bahwa orang yang ditunggu-tunggu itu sebenarnya memberi ucapan lebih dari yang ia minta. Lelaki yang juga menganggap si perempuan sebagai sahabat itu sudah lebih dahulu mengucapkan doa dibandingkan orang lain. Si lelaki paham betul apa yang diinginkan sahabat perempuannya itu. Bukankah sahabat perempuannya itu berkali-kali mengutip penulis favoritnya bahwa teman baik tidak diukur dari banyaknya komunikasi, tapi dari banyaknya doa yang diam-diam dipanjatkan? Sahabat perempuannya itu hanya tak tahu.

Kediri, Juli 2014.

September 08, 2014 No comments
Disclaimer: Let me introduce you to the new hero and heroine: Agha and Afrina. I’m writing this continual and based-on-my-mood flashfiction in order to improve my writing ability. So, I would be very happy if you correct my grammar or the word use. Just comment below and tell me the correct ones. Happy reading and don’t forget to leave your opinion!


I was completely taken aback by ten pieces of paper containing opinions from my classmates. A month ago, the teacher asked us to write an opinion and each should be directed to three different friends. It could be with name to show who the writer was or just anonymous. For surprise, it was me who got the most.

Of the ten messages, only one caught my attention the most. I dabbed my eyes and blew my nose. I tried once again to read the last few letters that were smeared. I bet it was the name of the writer and guessed it was written by my friend, Afrina.

After I had not met her for two days, Afrina called me out of the blue to meet up. Of course I was glad about it. That’s why I sat in one of the benches in the park waiting for her and reread the messages I got. It had been ten minutes and Afrina had not come yet.

“Hey, dude!” I turned back to look for the source even I knew for sure it was from Afrina.

“Hey, what’s up?”             
                                                                  
Before answering my question, her attention came to the piece of paper in my hand. “What is all that about?”

I gave a look the paper to her and asked, “Do you know who wrote this cute one?”

Afrina took the paper and read the message –‘You are a very good friend of mine’- and I noticed that she stood still longer, looking for the right answer. At that time I knew I was right.


-Agha
September 03, 2014 No comments


“Oh, my God! Turunin gue.... SEKARANG!!” Aku berteriak kencang mengalahkan deru motor yang melaju kencang berlawanan arah dengan kami.
“Gila ya tuh motor! Di jalanan terjal kayak gini masih sempetnya melaju kencang!” Abangku Ilham berkomentar tak memedulikan aku yang masih tegang diboncengnya dengan sepeda menuruni jalanan yang berkerikil di sana sini.
“Elu kali, Bang, yang gila! Tuh sepeda motor kan nanjak. Lah, kita tuh sekarang lagi turun dan elu nggak ngerem sama seka—“
BRUUKK.
“--li...!” Aku meringis kesakitan memegang sikuku yang lecet. Benar saja apa yang kubilang. Kalau Bang Ilham lebih hati-hati, nggak bakal kayak gini jadinya. Jatuh ke pinggir parit di samping kebun teh ini.
Aku melirik Bang Ilham yang tergeletak tak jauh dari tempatku.
“Bang! Bang Ilham! Bangun dong! Tolongin gue, sakit nih!” Aku berdiri sambil merapikan bajuku yang kotor terkena tanah basah karena kemarin baru saja hujan.
“Pokoknya, sesampainya kita di penginapan, elu utang buat manggilin tukang pijit buat gue.” Aku masih saja menggerutu sambil berjalan ke arah Bang Ilham.
“Bang, bangun dong! Nggak usah sok pingsan segala deh! Gue udah bosen lu kibulin mulu.” Aku menggoyang-goyangkan punggung Ilham yang masih tengkurap tak bergerak. Oh, gue nggak boleh panik, Ilham nggak boleh menang kali ini. Udah berkali-kali Bang Ilham berhasil ngibulin aku dengan beragam cara yang konon didapatkannya dari buku 1001 Cara Profesional Menjahili Anak Kecil.
Hei, aku bukan anak kecil lagi. Aku udah tujuh belas tahun, tidak lebih empat tahun lebih muda dari Bang Ilham. Catat itu.
Sayangnya, Bang Ilham masih saja belum bergerak. Sudah sebelas kali aku memanggil namanya dengan keras, ia belum juga bangun. Padahal ia pernah berkata padaku, “Panggil namaku tiga kali, aku akan segera berada di sampingmu.” meski aku tahu pada saat itu ia hanya menggodaku. Aku mulai panik.
Aku pun mulai berpikiran macam-macam. Sudah cukup kehilangan dua orang tuaku, aku tak ingin menjalani hidup ini sendirian, tanpa Bang Ilham. Semenjak papa dan mama pergi, Bang Ilham harus merangkap perannya sebagai kakak sekaligus orang tua. Tentu saja ia tak bisa sepenuhnya menggantikan mereka, tapi aku tahu ia sudah susah payah membuatku tetap hidup, tetap bisa tersenyum sampai sebelum ia mulai memboncengku naik sepeda tadi.
Tak terasa air mataku pun meleleh. Pipiku sudah basah.
“Bang... jangan tinggalin gue...” Aku drama banget.
“Kenapa? Elu takut nggak bakalan dipijitin sama Mbok Minah?” Tiba-tiba Ilham membalikkan badannya, tersenyum padaku dengan wajahnya yang jahil, matanya yang hitam, dan –auranya yang seksi, itu kata temen-temenku.
Sial. “Bukan itu. Gue takut elu ninggalin banyak utang dan gue harus bekerja multitasking jadi pelayan saat siang, pencuci mobil saat libur, dan begadang nyuci piring saat malam.”
“Kalo piringnya piring hitam nggak papa dong! Elu kan bisa nyuci sambil dengerin para Blueband Korea itu!”
“Boyband Bang!” Aku memprotes. Kami pun tertawa keras hingga membuat para pemetik teh saling memandang kami dengan tatapan yang, tampaknya terganggu.


“Gue mau ngomong.” Sela Bang Ilham di saat aku masih takjub memandang hamparan kebun teh di hadapan kami.
“Ngomong aja Bang, gratis kok!” Aku menyelutuk.
“Gimana kalo tahun ini gue mau ambil semester di...” Ilham berkata dengan sangat hati-hati hingga membuatku menoleh padanya. “Oxford?”
“Sumpah lu? Udah deh, kalo bohong tuh jangan jauh-jauh. Bilang aja di UI, di ITB, di mana gitu. Jauh amat!” Aku menjawabnya dengan santai.
“Gue dapet beasiswa. Tapi, kayaknya nggak jadi gue ambil kok!” Ilham tersenyum padaku.
“Elu yakin? Kenapa? Jangan bilang karena gue.” Aku kaget, tapi aku tahu kapan Ilham berkata serius.
“Pede banget lo!” Ilham menyangkalnya. Ia tertawa kemudian mengacak-acak rambutku. Aku tahu, ia berbohong untuk jawaban terakhir ini.


Setelah kembali dari Puncak seminggu yang lalu, pikiranku mengelana dan sering tak fokus. Aku terus saja memikirkan ucapan Bang Ilham mengenai beasiswanya. Sudah pukul lima sore dan Bang Ilham belum juga pulang. Kegiatannya di kampus memang harus dicereweti kali ini.
Aku pun memutuskan untuk bersih-bersih. Ketika membersihkan meja belajar Bang Ilham, aku tak sengaja menemukan sebuah amplop putih. Tanpa berpikir lebih jauh, aku pun membukanya. Aku membacanya dengan wajah tak percaya. Bang Ilham benar-benar mendapatkan beasiswa untuk belajar ke luar negeri selama dua semester. Aku yakin Bang Ilham sudah melalui tahap yang panjang untuk mendapatkan salah satu impiannya ini. Aku hanya tak tahu. Benar-benar adik yang bodoh.
Kubaca lagi surat itu dengan pelan. Oh, tidak! Deadlinenya tak lama lagi. Jika Bang Ilham serius untuk mengambilnya, maka ia pasti sudah berbicara padaku. Melihat tingkahnya selama ini, aku tahu Bang Ilham akan melepaskannya, tapi aku tak akan membiarkan hal itu terjadi. Tidak demi apa pun. Tidak juga demi aku.


Meski aku tahu aku akan hidup sendirian, aku berusaha menguatkan diri. Apa pula bedanya dengan tahun-tahun sebelumnya? Aku tetap saja bersikukuh menguatkan Bang Ilham.
“Udah deh, lo nggak usah pake acara mikirin gue segala! Elu tau kan temen gue tuh banyak, soleh-solehah pula!” Aku menggigit bibir. Mencoba menguatkan hatiku yang rapuh.
“Lo bakal sendirian. Bentar lagi puasa. Lihat deh! Tinggal satu, dua...” Ilham menunjuki angka-angka di kalender. “Lima belas hari lagi!”
“Cuma setahun kan! Yakin deh, gue bisa kok! Malahan gue yang khawatir sama elu! Di sana tuh ada empat musim, masyarakat muslim jadi minoritas, gimana sama puasa elu!” Aku membela diri.
“Tuh, kan! Gue khawatir kalo elu nanti di sini sendirian khawatirin gue sampe sakit.” Ilham membalas sambil mencibir.
Aku salah ngomong. “Oke deh, gini aja ya, inget kata-kata gue. Orang sukses itu bakal meninggalkan zona aman dan nyamannya. Anggep aja elu hidup di sini tuh di zona aman dan nyaman, karena ada gue. Hehe. Begitu juga sebaliknya, gue di sini hidup di zona aman dan nyaman, karena ada elu. Karena kita keluarga. Zona aman dan nyaman kita sekarang itu, keluarga! Elu tinggal pilih.” Aku berharap tak pernah memberinya pilihan, tapi aku tahu aku harus.
Bang Ilham terdiam. Keputusan ada di tangannya. Ia tampak benar-benar kacau. Dan galau.


Dua hari lagi udah mulai shalat tarawih. Aku seneng Bang Ilham memutuskannya.
Aku tak akan kesepian. Meski pilihan yang kuberikan padanya bagai buah simalakama, tak apalah, aku benar-benar seperti orang sok bijak saat itu. Menyaingi Mario Teguh dan bakalan menjadi the next Maura Teguh.
Kulirik seorang cewek yang duduk di sampingku. Ia tertawa manis, manis sekali, sambil menggoyang-goyangkan kartu pos berwarna pink yang kuterima pagi ini. Aku tak tahu semenjak kapan sahabatku ini mulai gila sama abangku. Kartu pos berwarna pink dari Oxford.
July 14, 2014 No comments
source: http://freehdwalls.net/iphone-apple-headphones-beats-by-dr-dre-hd-wallpaper/

Disclaimer: Let me introduce you to the new hero and heroine: Agha and Afrina. I’m writing this continual and based-on-my-mood flashfiction in order to improve my writing ability. So, I would be very happy if you correct my grammar or the word use. Just comment below and tell me the correct ones. Happy reading and don’t forget to leave your opinion!

I decided to sit on the park bench and turned on my laptop. I did not know why but when I got up this morning, I was not in the mood. I texted Agha before leaving for campus asking him to meet me but he did not reply. It just made me worse. Oh dear universe, could you please help me to boost my mood?
After ten minutes reviewing my blog, I saw Agha was walking toward me. I pretended not to notice him when he sat right next to me.
“What happened?” he insisted.
“Nothing,” I said acidly.
He opened his mouth to continue asking but after a while he just silently looked at me and I just ignored him.
The next ten minutes just passed in silence. None of us started to speak. I was busy with my laptop and he made himself busy too by doing something with his note book. Finally I ended this helpless meeting by going back home.

***

I was so frustrated because till the daylight ended I was still in a badmood. I pulled my body to the bed and tried to sleep but my cellphone vibrated.

Need your help. SOS.

It was a message from Agha.

Re: What?

Would you really like to help me?

Re: Hopefully, yes.

Smile for me

At that time, the last three words from him made me smile. It was just... cute? Without wasting more time, I clicked Agha’s number and hearing his voice on the line was more than enough for me to gain my mood again. Yeah, girls are often complicated!


-Afrina
July 09, 2014 No comments
Disclaimer: Let me introduce you to the new hero and heroine: Agha and Afrina. I’m writing this continual and based-on-my-mood flashfiction in order to improve my writing ability. So, I would be very happy if you correct my grammar or the word use. Just comment below and tell me the correct ones. Happy reading and don’t forget to leave your opinion!



I was just glad it would be the last day of student orientation. It had been three exhausting days. Although tomorrow we would still have another event, well, it’s okay for knowing it was going to end soon.
I discussed with the other friends of my group for tomorrow’s preparation. While we were busy talking to each other, the committee asked for attention because there were some students who had not gotten their group yet. I noticed a girl wearing a head craft spoke a little bit nervous on the stage. Nothing interesting from her but her smile was so heart-warming.
“Be serious, boy!” Kamal standing next to me exclaimed. I turned back to the topic we discussed after spending a whole minute staring at her.

***

Kamal was higher than me so I stood right behind him, two from the first row in this opening ceremony. As a boy, I knew Kamal included to those who had good looking appearances. This term, destiny chose us to become classmates. I bet he would be a best friend of mine after having amusing days in the collage orientation with him.
While delivering some materials, the dean asked us to sit on the ground. I turned back to examine the situation and suddenly a girl sitting a few meters behind me absorbed my focus. She was the one who was on the stage looking for her group. Clearly I could see her doing something. She was writing the material in her notes. Knowing her doing so, somehow it challenged me. I opened my bag, took my notes, and started writing. Then I wondered, she did nothing to me but her activity couraged me to do so. It seemed I did not want to be defeated, but from what? Writing a note? Hey, who are you?


-Agha
June 29, 2014 No comments

picture source: http://freehdwalls.net
Disclaimer: Let me introduce you to the new hero and heroine: Agha and Afrina. I’m writing this continual and based-on-my-mood flashfiction in order to improve my writing ability. So, I would be very happy if you correct my grammar or the word use. Just comment below and tell me the correct ones. Happy reading and don’t forget to leave your opinion!

After three days joining the tiring orientation, it was the time for me to face the last sequence, Student Day. The day before, I was very confused because my name was not on the list. Some students and I –whose name were not mentioned, should come forward in front of all the new students and spell the name as clear as possible but it just found out there was no group having my name on their list. Finally, right before we went home the committee handled it and I was grouped into Ocean’s group.
It took place in the parking lot of the faculty. Each grouped consisted of about ten students and we made a vertical line. On the right side of my group was that of The Moon. When we were having an opening ceremony, separated two people in front of me from the group on my right side, a boy with crew cut hair caught my attention. He was the boy who would be in the same class with me this term. In my opinion, he looks smart. Unfortunately I could not remember his name.
For a long time, I tried to figure out his name. It was rather difficult for me to read the name tag. Oh, well, why should I focus all of my attention to him? I guess he had a magic, -yeah of course not.
“What are you doing? I’m getting bored.” Laila who sat in front of me asked calmly.
“Hey, do you remember? He will be in the same class with us, won’t he?” I asked innocently to her when I realized we would be in the same class, too. She must have known him instead.
“Who?” she enquired.
I pointed at him. He did not know of course because he was focusing his eyes and –maybe his mind too, to the dean’s speech.
“Agha,” Laila commented.
I made an ‘Aah..’ respond.
“He’s cute, huh?” She rather made an opinion than asked.
“Well, that’s what we both of two think now,” I smiled interestingly. Getting an answer sometimes is a lot easier if we know the right person to ask for.


-Afrina
June 28, 2014 No comments
picture source: http://freehdwalls.net/

Let me clear you something, my dear friend.

You asked me who the one that dare enough to steal my heart is. So here is the answer.

He was in the same class with me for a year and now our class is just in the opposite way. We keep in touch to make our friendship last forever but I often do hope that our relationship will be more than just a friend. We frequently study together and discuss a lot of things, included some unimportant and silly stuff that made us laugh out loud. We hang out every other day to refresh our mind because of those unpredictable subjects and end the week by exploring the city with culinary session. Spending a day with him is just another thing that made me realize that life is so wonderful.

That adorable boy, I’m sure you know him better than me because it’s you, Azra. The one who cares me not more than as a brother –you told me all the time.


It’s you, my best friend ever whom I fall in love with, Azra.
May 22, 2014 No comments

First of all, saya bener-bener minta maaf sama mbak Luluk Indryas Mufida dan Iva Firdayanti karena nggak bisa memenuhi harapan kita buat nonton bareng film ini. Maaf yaa... L Yang kedua, saya sangat berterima kasih sekali kepada teman-temanku Flo, Widi, Nuril, Mega, Lia, dan Priska yang sudah mau menemani saya buat nonton. Maaf banget kalau aku kesannya ‘maksa’, bukannya ‘ngajak’ ketika mau nonton ini. Maaf juga karena telat dateng ke bioskop, sorry sorry sorry... :3

Tapi... kalian puas, kan, nonton ini?? Atau mungkin, sedikit kecewa sama seperti saya? Well, I really hope that we enjoyed and got the point of this movie guys...

Nonton film ini, gimana yaa... semakin membuat saya dan orang-orang yang punya mimpi buat keluar negeri tambah pengen keluar negeri dan membuat orang-orang yang udah keluar negeri pengen balik ke sana, gitu nggak sih?? Errr...

Kisahnya diawali ketika Hanum dan Rangga sudah berada di Eropa. Untuk mengusir kebosanan Hanum yang sendirian di apartemen tatkala ditinggal Rangga untuk kuliah, Hanum akhirnya mengikuti les bahasa Jerman. Pada saat les itu, ia bertemu dengan Fatma Pasha yang kemudian membawanya menemukan titik-titik cahaya di benua itu. Bersama Fatma dan Ayse (putri Fatma), ia pun mulai menjelajahi berbagai tempat di Eropa. Bersama mereka, Hanum juga belajar bagaimana sikap untuk menjadi agen muslim yang baik, khususnya di negara yang muslimnya menjadi minoritas.

Kisahnya sih, nggak banyak melenceng dari buku, ehm, well, sebenernya sih saya aja yang lupa bagaimana detailnya di novel, hehe. Maklumlah, sudah lebih dari satu tahun yang lalu saya membacanya. Tapi yang jelas, ada beberapa hal yang pengen banget saya komentarin setelah saya menonton film ini.

Dari segi positif, two thumbs up deh karena you know, settingnya itu di luar negeri semua woy! Serasa jalan-jalan di luar negeri gitu, atau nonton tayangan travelling edisi luar negeri. Nggak henti-hentinya saya kagum sama pemandangan dan nggak henti-hentinya juga saya ‘nggremeng’: “Aku pengen kesana” atau sekadar “kereenn” atau, “pengeeeen...” sambil memasang wajah melas menarik-narik lengan jaket Flo... hiks hiks... Selain itu, adanya dialog cerdas dan menggelitik tak urung membuat kami tertawa atau pun ‘jleb’ di hati. Dakwah lewat film tuh ya kayak gini nih, kereeen....

Selanjutnya, the troubles. Satu yang sangat saya sayangkan adalah, ketika Hanum, Fatma, dan Ayse pergi ke Bukit Kahlenberg. Saya masih ingat betul cerita di novel bahwa mereka bertiga ke sana ketika hari menjelang malam. Ketika saya menulis review novel ini dulu, saya sampai bela-belain nyari foto bukit Kahlenberg ketika malam karena di novel itu digambarkan keindahan lampu-lampu yang indah ketika malam hari yang dilihat dari bukit Kahlenberg. Sayangnya, di film ini diceritakan bahwa mereka bertiga pergi ke sana ketika siang. Bagus sih pemandangannya saat siang. Keren. Tapi, kayaknya bakalan keren lagi kalo malam hari deh...

Kemudian, di tengah-tengah cerita, muncul subtitle yang salah posisi. Maksudnya, subtitlenya muncul di saat yang tidak tepat, bukan di scene yang tepat. Nah, hal ini membuat saya sebagai penonton merasa bingung karena harus fokus pada gambar yang tidak relevan dengan subtitle atau ngotot baca subtitlenya karena takutnya nanti di saat scene yang harusnya ada subtitlenya ini malah subtitlenya nggak muncul. Bingung dengan kalimat saya? Ya gitu lah pokoknya.

Namun, yang paling nggak enak di hati adalah, sesaat setelah subtitle yang salah posisi itu, muncul pula subtitle berisi keterangan ‘Coming Soon’. Hey, wait, wait, wait... yang bener aja.. Nggak mungkin juga kan ada subtitle yang pake bahasa inggris nantinya... Saya pun langsung sadar, nih film bakalan ada part dua nya... Yang bener aja! Saya udah nunggu film ini lama, dan nggak ada pikiran sama sekali kalo harus nunggu kisahnya tamat di lain hari. Hey! Nggak ada pemberitahuan sama sekali pula di jejaring sosial. Setelah kejadian subtitle ‘Coming Soon’ itu, saya pun jadi mencak-mencak sendiri di bioskop. Haduh, nasib anak kos nih ya kayak gini. Udah nekat nyisakan uang buat nonton film ini, yang saya pikir bakalan dapat ‘ending’ saat itu juga, ternyata harus nabung lagi buat nontong yang part dua. Well, it’s so surprising ladies and gentlemen. Tak ada kabar mengenai tanggal penayangan yang part dua pula... Heuh...

Okay, enough! Overall, saya sukaaa bangeeet sama film ini. Kalau dipikir-pikir sih, emang bakalan lebih bagus kalau panjang, dijadikan dua part sih nggak papa. Tapi ya, kenapa nggak dikasih pemberitahuan sebelumnya? Sekali lagi, film ini keren! Can’t wait to watch the rest of the stories...

-Jadilah agen muslim yang baik!-

P.S.

*Mbak In dan Iva, kalau kamu duduk di sampingku waktu nonton film ini, kita bakalan ‘hurig’ sendiri nonton adegan ketika Hanum dan Rangga jalan-jalan berdua atau waktu sholat bareng... hoho
*Setelah nonton ini kami menyempatkan diri buat makan bareng... No need to say saya beli makan apa, kalian tahulah... ;) (nggak penting)
December 06, 2013 No comments
picture source : https://www.oncewed.com/wp-content/uploads/2009/06/garden-wedding-reception-decor.jpg

Aku memandang ke luar jendela. Banyak orang di luar sana memakai outfit yang rapi. Laki-laki dengan jas dan para wanita dengan gaun putih yang elegan. Senyum mengembang dan tawa berderai memenuhi halaman dengan berbagai hiasan. Bunga yang menempel di pagar, musik yang mengalun dengan syahdu, atau pun makanan yang tersaji di meja panjang itu sama sekali tak bisa mengalihkan pandanganku pada satu hal. Sesosok lelaki dengan jas hitam yang sangat pas dipakainya. Ia terlihat berbincang-bincang dengan seorang pemuda yang lebih tua. Membicarakan masa depan yang terkadang diselinginya dengan senyum yang membuatku lega.
Pertama kali aku bertemu dengannya di halaman ini juga, di sebuah pesta pernikahan saudara sepupuku tiga tahun yang lalu. Sama seperti yang dikenakannya hari ini, saat itu ia juga memakai jas, hanya saja dengan warna yang berbeda. Semenjak itulah kami lebih sering mengobrol.
Di halaman ini juga kami sering bertemu, mendiskusikan mimpi kami, tentang sekolah, cita-cita, pekerjaan, hingga pernikahan. Saat itu aku berpikir mungkin jodohku sudah dekat, mungkin. Ia adalah sosok yang paling nyaman untuk diajak ngobrol. Bercerita dengannya membuatku begitu lepas, tak ada beban, dan ia adalah pendengar –serta pemberi solusi yang sangat baik.
Aku selalu berharap bahwa dia lah yang akan memenuhi mimpiku. Mimpi sebagai seorang wanita. Mimpi sederhana yang menyempurnakan sebagian ibadah kami. Aku hanya berharap bahwa setiap kali aku membuka mata di pagi hari, yang kupandang hanyalah wajahnya, senyumnya yang begitu memikat. Senyum yang membuatku jatuh hati. Senyum menawan yang saat ini menghiasi wajahnya yang sangat berbahagia menyongsong pukul sepuluh pagi ini. Senyum yang akan lebih mengembang lagi ketika ia mengucapkan janji suci di hadapanku, di hadapan kami semua.
Aku hanya berharap, ia akan mengucapkan janji suci itu pada wanita yang tepat. Wanita yang saat ini sedang menuruni tangga dengan gaun pengantin panjang. Aku hanya berharap, wanita itu akan mendapatkan segala mimpi-mimpiku selama ini –mendapatkan kebahagiaan yang selalu aku dambakan hingga detik ini.
December 06, 2013 No comments
picture source : http://www.atjehtoday.com/media/articles/625.jpg
Setelah menamatkan dua novel dari Bang Ahmad Fuadi sebelumnya, Negeri 5 Menara dan Ranah 3 Warna, rasanya kurang afdhol jika tak menyelesaikan trilogi ini. Dan, well, jika kau sudah membaca keduanya pun kemungkinan besar sudah sangat penasaran dengan kelanjutan kisah Alif Fikri.

Setelah menyelesaikan studi di luar negeri dengan beasiswa yang didapatnya yang diceritakan di novel Ranah 3 Warna, Alif Fikri kemudian mulai melanjutkan hidupnya di tanah Indonesia tercinta. Alif kemudian menyelesaikan kuliahnya di Bandung dan bertekad mencari kerja.

Awalnya hidup Alif baik-baik saja mengingat ia sudah sering menulis di media massa dan mendapatkan honor yang cukup untuk hidupnya. Namun, setelah krisis moneter yang melanda Indonesia di zaman Soeharto, keadaan ekonomi Alif pun juga mulai goyah. Beberapa media massa yang seringkali memuat tulisannya mulai berkurang. Alif pun juga sempat mengalami anacaman debt collector setelah nekat mengambil uang dari kartu kredit dan belum bisa membayarnya.

Setelah berpuluh-puluh lamaran ia layangkan ke berbagai perusahaan, ia akhirnya mendapat pekerjaan sebagai seorang wartawan di majalah Derap, majalah yang pada saat itu berani mengungkap fakta tanpa tedeng aling-aling mengenai kondisi pemerintah Indonesia. Di sana lah ia kemudian berkenalan dengan Dhinara, seorang gadis yang juga berprofesi sebagai seorang wartawan baru.

Meski pun sudah merasa nyaman dengan pekerjaannya di Derap, namun Alif berpikir mengenai pekerjaannya itu. Mendapat tantangan dari Randai membuat semangat Alif untuk melanjutkan kuliah di luar ngeri lagi kembali muncul. Ia, dibantu dengan Dhinara, saling membantu untuk belajar Bahasa Inggris dan TOEFL. Alif akhirnya berhasil mendapatkan beasiswa ke luar negeri kembali. Namun sebelum ia pergi, ia dirisaukan oleh sikap Dhinara yang mulai menjauh darinya.

Daaaan....... bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Dhinara selanjutnya?? Saya nggak mau spoiler di sini, jadi jika kalian tertarik untuk melanjutkan kisah mereka berdua yang jauh lebih menarik, segeralah berburu novel ini secepatnya yaa.... hehehehe :D

Jujur, saya mulai menyukai novel Bang Ahmad Fuadi setelah membaca novel yang kedua, Ranah 3 Warna. Dan sesuai harapan, novel ini memenuhi ekspektasi saya. Kereeen, dan sepertinya tambahan romansa cinta membuat para cewek yang membaca halaman 237-240 jadi melting deh kayaknya... so sweeett, guys, bener!!!


Semogaa.... saya bisa menulis novel yang keren seperti ini. Mengingat saya agak susah kalau disuruh menulis tentang kisah diri saya sendiri, sehingga novel ini benar-benar membuat saya kagum pada Bang Ahmad Fuadi yang dengan ceritanya tak membuat saya bosan membaca hingga akhir!
September 22, 2013 No comments
pic source : http://the-marketeers.com/wp-content/uploads/2012/10/bendera-indonesia.jpg
Kami masih duduk di tepi sungai ketika Bu Widya –satu-satunya guru di sekolah kami, berteriak nyaring memanggil murid-muridnya yang hanya berjumlah lima belas orang. Hari ini adalah hari istimewa, tepat tanggal 17 Agustus –aku baru saja menengoknya di kalender. Hebat bukan main, bukan, kemampuan membacaku. Aku masih duduk di kelas satu SD dan aku bangga akan hal itu.
Tak lama kemudian, kami sudah berbaris rapi menghadap tiang bambu yang berdiri kokoh di tengah halaman. Tiga orang yang berbadan lebih jangkung di antara kami berderap sigap membawa kain berwarna merah putih mendekati tiang itu.
Ketika sang pemimpin berkata dengan tegas, “Hormat, grak!”, kami mulai menyanyi dengan suara yang lantang.

Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri, jadi pandu ibuku


Hingga kata ‘raya’ bait terakhir, kami belum juga menurunkan tangan. Mataku masih menatap bendera merah putih yang berkibar di pucuk tiang dengan gagahnya. Jikalau banyak orang yang mengeluh untuk berdiri seperti ini, kami malah berharap bisa lebih lama berdiri untuk mengenang para pahlawan yang telah mengorbankan nyawa demi bangsa ini. Ini adalah ucapan terima kasih kami untuk mereka yang telah memerdekakan Indonesia, yang tanahnya kupijak saat ini. Tanah surga di mana sekolah kami yang hampir roboh masih berdiri.
August 17, 2013 No comments

Ella adalah seorang gadis cantik dan pintar namun sedikit judes. Ia mempunyai sahabat bernama Maya yang lebih feminin. Sudah berteman dan sebangku sejak kelas satu SMA dan berlanjut hingga kelas tiga. Meski Ella adalah orang yang agak tertutup, namun Maya paham jikalau ia memang sedang tidak ingin curhat apabila ia ada masalah. Yah, meski pun sebenarnya Maya belum benar-benar paham akan karakter sahabatnya itu.

Ketika duduk di kelas tiga, menjelang ujian nasional, Ella mendapat cobaan. Papa dan mamanya hendak bercerai dan Ella benar-benar frustasi akan hal itu. Semakin lama Ella semakin tidak peduli pada sekolahnya. Ia bolos berhari-hari menjelang keputusan dan pasca perceraian kedua orang tuanya. Maya awalnya tak mengetahuinya karena Ella benar-benar menutup diri. Ella pun juga menghindar dari Maya. Namun setelah Maya mengetahui alasan Ella, Ella pun mendapat semangat lagi untuk bersekolah.

Di lain pihak, kehidupan Maya mulai mencerah. Setelah papanya meninggal, kini mamanya mulai mendapatkan sosok baru yang bisa mendampinginya. Awalnya Maya benar-benar senang akan kebahagiaan mamanya itu, meski pun mamanya masih merahasiakan identitas si pria yang telah mengambil hatinya. Mendengar kabar tentang kebahagiaan mama Maya, Ella pun turut bersuka cita atas sahabatnya itu.

Ketika waktu pertemuan Maya dengan calon papa barunya itu, Ella mengantarnya. Namun, di sinilah konflik mulai muncul lagi. Calon papa baru Maya tak lain tak bukan adalah Papa Ella sendiri. Mengetahui hal tersebut, Ella shock, begitu juga Maya. Semenjak itu masalah pun mulai bermunculan yang membuat jarak di antara dua sahabat itu mulai merenggang.

Awal cerita ini memang agak datar menurutku. Menceritakan masalah keluarga Ella dan nostalgianya dengan Mbok Iyem membuatku agak bosan. Hingga ketika diperkenalkannya tokoh Mama Maya yang seingatku muncul di separuh perjalanan membaca buku inilah yang membuatku tertarik. Dengan adegan tiba-tiba yang mengungkapkan bahwa Mama Maya sedang dekat dengan seorang pria, alur selanjutnya sudah tertebak olehku. Karena masih ragu, aku pun semakin tertarik dengan hipotesaku yang akhirnya terbukti. Hehe. Namun, setelah terbukti itulah yang semakin membuatku penasaran dengan ending ceritanya. Agak sulit menebak memang. Karena memang, ending cerita ini tidak sesuai dengan ekspektasiku yang aku harap akan happy ending dengan romansa cinta antara Ella dan Rama, si ketua kelas yang telah banyak membantu Ella dan Maya. Atau paling nggak kisah ini akan diakhiri secara happy mengenai keluarga Ella. Bukan itu juga. Karena setelah membaca sinopsis singkat di balik cover buku ini aku jadi paham bahwa ini adalah kisah tentang persahabatan antara Ella dan Maya. Karena, jujur, menurutku endingnya terlalu menggantung. Menurutku.

Penulis : Rhein Fathia
Penerbit : Bunyan
Cetakan : pertama, Juli 2013

Jumlah halaman : vi + 174 halaman
August 11, 2013 No comments

Totto-chan tak tahu bahwa dirinya dikeluarkan dari sekolah dasar ketika masih kelas satu SD. Ibunya hanya bilang bahwa ia akan pindah sekolah. Gurunya yang lama mengatakan bahwa Totto-chan anak yang nakal. Hal itulah yang membuatnya dikeluarkan dari sekolah.

Untungnya Ibu Totto-chan menemukan sekolah dasar yang pada akhirnya disukai –dicintai oleh Totto-chan, Sekolah Dasar Tomoe. Sekolah yang menjadikan bekas gerbong kereta sebagai kelas membuat Totto-chan benar-benar tertarik. Pertama kali ia masuk ke sekolah itu, ia bertemu dengan Kepala Sekolah Tomoe, Sosaku Kobayashi. Meskipun dengan gigi yang sudah ompong, Totto-chan tau bahwa Mr. Kobayashi adalah orang yang baik dan Totto-chan sangat nyaman berada di dekatnya, terlebih setelah mendengarkan Totto-chan bercerita padanya selama empat jam.

Di sekolahnya yang baru, Totto-chan mendapat banyak teman dengan berbagai karakter dan kondisi. Ada temannya yang cacat karena terkena polio, namun ia bisa bersahabat baik dengannya. Bahkan ia rela berbagi pohonnya secara rahasia. Selain itu, ia amat menikmati pelajaran di sekolahnya karena setiap murid bisa memilih pelajaran yang akan mereka kerjakan terlebih dahulu setiap pagi. Bebas, tergantung apa yang mereka suka. Totto-chan selalu semangat untuk berangkat pagi dan pulang lebih lama di Sekolah Dasar Tomoe, begitu juga teman-temannya.

Sama sekali tak menyangka bahwa ada sekolah seperti Tomoe. Awalnya saya mengira bahwa ini adalah sebuah novel, novel fiksi. Namun yang menarik, ini semua berdasarkan kisah nyata, nonfiksi, realistis, lebih jelasnya, benar-benar ada dan terjadi di masa lampau. Mengingat peristiwa yang terjadi adalah ketika masa perang Asia Pasifik, sepertinya mustahil membayangkan ada sebuah sekolah dengan gerbong kereta sebagai kelasnya, dengan hanya lima puluh siswa yang belajar di sekolah Tomoe, bisa memilih mata pelajaran yang disukai untuk dikerjakan lebih dahulu, dan ada berbagai kegiatan asyik yang berlangsung selama di Tomoe. Tapi ini adalah kisah nyata, kisah tentang Tetsuko Kuroyanagi yang dulu pernah dikeluarkan dari sebuah sekolah dasar ketika kelas satu SD karena dianggap nakal oleh gurunya kemudian bersekolah di Tomoe yang mengajarkannya banyak hal yang tidak didapatkannya apabila ia belajar di tempat lain.

Saya juga terkejut ketika membaca catatan akhir buku ini. Bahwa buku ini menjadi best seller dan membuat sejarah di dunia penerbitan Jepang serta menjadi buku wajib pendidikan. Saya sangat bersyukur bisa membaca buku ini. Melihat sistem pendidikan di Indonesia seperti ini, saya benar-benar iri pada Tetsuko Kuroyanagi yang dulu bersekolah di Tomoe. Pasti menyenangkan apabila saya bisa belajar dengan bebas seperti di Tomoe.


Setelah membaca buku ini, saya berharap ada sekolah yang seperti Tomoe di masa sekarang dan saya bisa melihatnya secara langsung. Saya juga berharap sistem pendidikan di Indonesia akan jauh lebih baik lagi di masa mendatang. Amiin. Terakhir, terima kasih kepada Neni Alya yang sudah meminjamkan buku ini *modus*. Strongly recommended!

Penulis                 : Tetsuko Kuroyanagi
Alih Bahasa         : Widya Kirana
Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan               : keempat belas, Mei 2013

August 11, 2013 2 comments

Beverly King dan Felix King akan menghabiskan satu musim mereka di Pulau Prince Edward, sebuah pulau di mana ayah mereka dilahirkan. Sebuah pulau yang selalu diceritakan oleh ayah mereka sehingga Bev dan Felix merasa sudah mengenal tempat itu dengan baik meski sama sekali belum pernah menginjakkan kaki di sana. Di sanalah juga ia akan menghabiskan satu musimnya dengan sepupu-sepupu mereka, yang membuat hari-hari mereka berdua berwarna layaknya pelangi.


Penulis : Lucy Maud Montgomery
Penerjemah : Ambhita Dhyaningrum
Penerbit : Bentang Pustaka
Cetakan : Pertama, Maret 2010

Selain Felicity, Dan, dan Cecily, Bev dan Felix dibuat terkesima oleh Gadis Dongeng. Nama asli gadis Dongeng adalah Sara Stanley. Namun, karena ada dua Sara di sana, Sara Stanley dan Sara Ray, Akhirnya si gadis pertama diapnggil dengan sebutan Gadis Dongeng. Sebenarnya, hal itu lebih karena Sara Stanley adalah seorang gadis yang sangat mahir dan cerdas dalam bercerita, dan juga karena ia tak suka nama aslinya sendiri. Ketika Gadis Dongeng bercerita, semua orang akan berpindah tempat dan suasana, bergantung si Gadis Dongeng bercerita tentang apa. Gadis Dongeng juga ahli dalam memainkan peran yang diceritakannya. Ia bisa berubah menjadi seorang putri cantik nan anggun dan dalam suatu kesempatan yang lain ia bisa berubah menjadi wanita ular yang menjijikkan. Ya, sepandai itulah Gadis Dongeng dalam bercerita.

Mereka bertujuh, Felicity, Dan, Cecily, Felix, Bev, Gadis Dongeng, dan Sara berteman akrab dalam waktu yang singkat. Mereka melakukan berbagai pekerjaan dengan semangat, belajar bersama, bermain bersama, dan hal-hal menyenangkan lain selama berada di tanah keluarga King. Dengan adanya berbagai sifat yang berbeda di antara mereka, mereka menemukan makna sebuah persahabatan sejati.

Hal yang paling menarik ketika kau membaca buku ini adalah bagian berimajinasi. Berimajinasi bagaimana keadaan Pulau Prince Edward yang dikelilingi dengan kebun, pohon-pohon apel, padang rumput, jalan setapak, dan hutan-hutan. Bagaimana rasanya tinggal di sebuah pulau yang ketika kau memandang hanyalah padang hijau dan pepohonan yang rindang. Berlari dari sebuah rumah kuno yang besar menuju kebun melewati semak-semak dan bunga-bunga yang tumbuh secara liar. Just imagine that, you’ll feel it...

Meski di samping itu kau akan menemukan bagian yang religius, tentang Kristen Presbiterian dan Metodis –yang aku tak paham tentang bedanya, yah, anggap saja sebagai penambah ilmu pengetahuan. See?

That’s all, cause I can’t describe The Story Girl precisely, but I’m (almost) sure that you wanna meet her if you read it. Happy reading! :D

....

Tentang Penulis

Lucy Maud Montogomery lahir di Clifon, Pulau Prince Edward pada 1874. Sejak kecil, Lucy tinggal bersama kakeknya di Cavendish yang mendidiknya dengan keras. Pada 1890-an, Lucy mengajar di Bideford dan Lower Bedeque di Pulau Prince Edward.

Ia sudah menyukai menulis sejak kecil. Karya pertamanya, sebuah puisi, dimuat di surat kabar lokal. Ia semakin dikenal melalui seri Anne of Green Gables. The Story Girl dan sekuelnya, The Golden Road, dengan karakter tokoh-tokohnya yang periang dan bebas adalah kisah yang menginspirasi serial televisi “Road to Avonlea”. Dan, tidak banyak yang tahu bahwa inilah karya favorit Lucy Maud Montgomery.
August 05, 2013 No comments

Seperti biasa, dapet info novel ini dari temen sekelas. Seingatku sih, dia udah promosiin nih novel sebelum ‘jadi’ novel, pas masih ada di blognya Mbak Rein Fathia. Seperti biasa juga, dia ngompor-ngomporin aku buat baca, katanya tuh cerita bagus banget. Namun entah kenapa aku masih belum berminat buat baca.

Nah, setelah ‘jadi’ novel, gantian aku yang berminat buat beli. Karena sesuatu hal, saya pun mengurungkan niat buat beli, hehe, maklumlah namanya juga pelajar. Untungnya, temen saya yang lain akhirnya beli novel ini juga. Akhirnya, kesampaian juga buat baca, meskipun harus pinjem dan pake cara barter novel segala.

Ceritanya tentang Raka sama Aya. Sahabat yang bisa dibilang Best Friend Forever After, hehe. Ketidaksengajaan Aya yang harus satu kelompok dengan Raka ketika SMA membuat keduanya akrab, akrab banget. Kalo ada orang yang lihat, mungkin mereka bakal mengira Raka dan Aya adalah sepasang kekasih. Namun bagi mereka berdua, tak ada yang namanya cinta di antara mereka. Yah, ‘cinta’ sebagai sahabat mungkin.

Setelah lulus SMA, mereka berdua berpisah. Aya melanjutkan studi ke Jakarta sedangkan Raka ke Bandung. Meski terpisahkan oleh jarak dan waktu, dua sahabat ini masih  berusaha meluangkan waktu untuk sekedar ngobrol, curhat, atau hal-hal lain. Ketika mereka berdua sedang jatuh cinta pun tak sungkan buat ngobrol dan curhat tentang pasangan mereka masing-masing.

Singkat cerita, karena sesuatu hal, yang nggak bakal aku ceritain di sini, mereka akhirnya berpisah dengan pasangannya masing-masing. Tak lama setelah itu, setelah sama-sama bekerja, akhirnya Raka dan Aya pun kembali bisa bertemu karena tempat bekerja mereka nggak terlalu jauh. Mengetahui bahwa masing-masing sedang single, dan mengingat umur mereka yang sudah layak buat merangkai bahtera rumah tangga, Raka pun akhirnya memberanikan diri buat melamar Aya.  Setelah istikharah yang cukup panjang, Aya pun akhirnya menerima lamaran Raka. Mereka pun menikah.

Nah, cerita intinya baru dimulai ketika mereka berdua menikah. Perasaan Aya yang terlanjur hanya menganggap Raka menjadi sahabat sering membuat Aya tak percaya akan keputusan yang telah diambilnya. Masalah pun mulai menghampiri mereka berdua.

Aduh, kisahnya romantis banget deh, bener! Sayangnya, aku lupa di bagian mana romantisnya, nih (selain di bagian ending tentunya). Ini nih jadinya kalo ngereview buku ditunda-tunda mulu. Tapi salut deh buat Raka yang udah sabar banget ngehadepin Aya.


(Bahas apa lagi yah..??) Udah ya, segitu aja ngebahasnya. Ntar kalo selesai baca buku, aku usahain deh sesegera mungkin buat ngereview. Maaf yah, kalo kecewa. Tapi novel ini emang keren banget lho! Recommended!
July 21, 2013 No comments

Tentu saja aku tidak membeli novel ini hanya sekadar warna covernya ungu. Tidak. Aku bahkan baru sadar kalau warnanya ungu setelah aku membacanya. Alasannya adalah karena aku membaca begitu banyak mention yang ditujukan kepada penulis novel ini, Mas Moemoe Rizal, yang mengungkapkan bahwa novelnya bagus banget. Selain itu, salah satu temanya yang mengangkat tentang persaudaraan kakak dan adik semakin membuatku penasaran dan segera ingin membelinya. Sebagai salah satu referensi di masa mendatang, insyaAllah. Alhasil, aku menghadiahi diriku sendiri pada hari ulang tahunku kemarin dengan novel ini. Itu masih terlihat normal, bukan?

Kisahnya diawali dengan diperkenalkannya tokoh utama, Edvan, seorang arsitek yang baru saja berhasil membangun sebuah bangunan megah yang meberinya banyak honor di Singapura. Ketika malam perayaan atas kesuksesannya itu, ia mendapat kabar dari adik lelakinya, Edvin, bahwa Ibunya meninggal dunia. Edvan, yang sudah tak bertemu dengan ibunya selama sepuluh tahun akibat egonya di masa lalu, akhirnya pulang ke Indonesia, meski ketika sampai ia hanya bisa melihat jenazah ibunya di pemakaman.

Selang beberapa hari setelah pemakaman ibunya, Edvan bertemu dengan adiknya, Edvin, dalam ‘wujud’ yang benar-benar berbeda. Adiknya itu telah berubah nama menjadi Edvina, menjadi seorang lay dee boy (red: waria). Dengan penampilan yang benar-benar mirip perempuan, awalnya Edvan benar-benar tak percaya akan kenyataan itu, ditambah lagi dengan penampilan dan gaya Edvina yang mirip sekali dengan ibu mereka.

Setelah berbicara beberapa saat, Edvina mengungkapkan tujuannya untuk bertemu kakaknya itu, bahwa ia sedang menjalankan amanah ibu untuk memberi Edvan warisan, berupa jurnal. Edvan harus mengumpulkan seluruh jurnal yang ibu mereka buat dan sekarang tersebar di Bangkok, dengan petunjuk di setiap jurnal sesudahnya. Awalnya Edvan menganggap hal itu konyol, apalagi dengan keadaan adiknya sekarang ini, salah satu keadaan yang membuat Edvan pergi meninggalkan ibu dan adiknya, tak pernah mengabari dan pulang ke Indonesia.

Namun, akhirnya Edvan berangkat juga ke Bangkok, mencari harata karun yang dianggapnya impossible to find. Di Bangkok ia akhirnya bertemu dengan Charm, seorang guide yang membantunya mencari jurnal. Di sana ia juga bersahabat dengan Max, adik Charm, yang berhasil mengubah cara pandangnya. Di Bangkok juga ia menemukan berbagai kenangan, dan tentunya, yang akan kalian baca sendiri di buku ini.

Sebenarnya, ada cerita yang sudah bisa ditebak semenjak awal di buku ini. Di saat ketika Charm terus-terusan meminum multivitamin. Meski berhasil tertipu di bagian tengah, namun akhirnya dugaan saya benar. Seharusnya ada cara yang bisa dibuat agar situasi seperti ini tidak dapat dengan mudah ditebak oleh pemabaca.

Di sisi lain, saya suka sekali dengan tema persaudaraannya. Bahkan, saya harus pindah tempat ke kamar untuk bersiap-siap meneteskan air mata. Oh, benar-benar sangat menyentuh! Mas Moemoe berhasil membuat saya sedih dan membuat pandangan mataku kabur. Congrats! J

Selain itu, adegan setiap kali Edvan bersama Max juga berhasil membuat saya tersenyum-senyum sendiri. Membuat saya harus menutup novel ini saat registrasi karena saya tak mau menjadi pusat perhatian, hehehe.

Let’s see bagian mana saja yang paling saya suka :

...
“I love Monyakul. He the best brother in the world.” Kanok memeluk Monyakul, yang sedikit pun tak keberatan. “He protect me from bad boys.”
“Why did he do that?”
“Because we family!” seru Kanok. “Family help Family. If bad boys naughty to me, Monyakul will shoo shoo away. If Monyakul is hungry, I will cook Moo Tad. It is favorite for Monyaku.”
Family help family. Kalimat yang simpel, tapi...
...

...
Aku pernah tanya sama Ibu, ‘Kenapa Ibu terus-menerus doain Kakak? Kakak mungkin nggak ingat Ibu sekarang.’ Ibu jawab, ‘Seorang Ibu nggak butuh anaknya inget kalau mau ngedoain. Yang Ibu harepin bukan kakakmu ingat sama Ibu, tetapi kakakmu tetap baik-baik aja.’ Tapi waktu itu aku masih kesal sama Kakak, jadi aku mendebat ibu. ‘Tapi, kan, Kakak mungkin udah nggak nganggap kita sebagai keluarga.’
‘Yang nganggap kita bukan keluarga, mungkin kakakmu. Ibu sih masih anggap kakakmu keluarga kita. Darah Ibu mengalir di tubuhnya. Nggak ada satu pengadilan mana pun yang bisa memutuskan hubungan darah antara ibu dan anak.’
‘Tapi Kakak bahkan nggak pernah nelepon kita pas dia lulus sarjana teknik arsitektur itu. Dia bahkan nggak mau noleh ke belakang pas kita ngumpet-ngumpet ngehadirin wisudanya.’
‘Inget ke poin utama, Edvin. Yang Ibu mau cuma kakakmu diberi kesehatan, kelancaran, dan kesuksesan, seperti yang dia pertaruhkan waktu ninggalin kita di sini. Titik. Mendoakan orang nggak boleh ada ‘tapi’-nya.’
...

Yeah, itu menurutku. Gimana menurut kalian? Tertarik untuk membaca??

Zuhrufi. Korp kun ka.

July 21, 2013 2 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


A student who loves collecting books, writing occasionally, and enjoy taking some photographs.

Follow Us

Labels

Cerita Teladan cerpen continual flashfiction coretan tanganku encyclopedia flashfiction Justifying the Feeling movie review my handwriting nice story Out of the Blue Resensi Buku resensi novel review film sinopsis buku

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2016 (1)
    • ▼  February (1)
      • Expressing Happiness: What to Do
  • ►  2014 (7)
    • ►  September (2)
    • ►  July (2)
    • ►  June (2)
    • ►  May (1)
  • ►  2013 (25)
    • ►  December (2)
    • ►  September (1)
    • ►  August (4)
    • ►  July (5)
    • ►  May (4)
    • ►  April (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (5)
  • ►  2012 (16)
    • ►  December (2)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  August (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (2)
    • ►  March (2)
    • ►  February (2)
    • ►  January (2)
  • ►  2011 (3)
    • ►  June (1)
    • ►  March (1)
    • ►  January (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  April (3)
FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose | Distributed By Gooyaabi Templates